Ngawi (beritajatim.com) – Ada pemandangan menarik saat kunjungan Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno ketika memanjatkan doa disamping makam KH Muhammad Nursalim yang berada di komplek Benteng Van Den Bosch Ngawi.
Dalam doa disamping makam KH Muhammad Nursalim tersebut Sandiaga Uno didampingi Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono dan dr Zain Ratna Priyanto yang juga merupakan kerabat dekat anak keturunan dari KH Muhammad Nursalim.
“Kebetulan saya diminta sama pak ajudan Pak Sandi (Menparekraf) untuk menerangkan sejarah terutama makam KH Muhammad Nursalim yang berada di dalam komplek Benteng Pendem,” kata dr Zain kepada beritajatim.com, Kamis (28/7/2022).

Dr Zain yang juga merupakan kepala Puskesmas di salah satu wilayah Kabupaten Ngawi menambahkan dirinya sebetulnya masih ada hubungan dengan KH Muhammad Nursalim yang dimakamkan di Benteng Van Den Bosch.
“Kami masih ada hubungan kerabat dari generasi kelima anak keturunan KH Muhammad Nursalim terutama dari Kiai M Sirodj,” tandas dr Zain.
[berita-terkait number=”4″ tag=”benteng-pendem-ngawi”]
Dr Zain juga menceritakana bahwa KH Nursalim ini merupakan pengikut dari Pengeran Diponegoro. Dulunya kawasan Benteng Pendem adalah sebuah pesantren.
“Disebelah timur dekat penjara ada penambangan, dulunya KH Nursalim tinggal menyebrang untuk untuk pergi Desa Ngawi Purba,”katanya.
Dr Zain juga mengakui bahwa Kiai Nursalim adalah orang yang disegani dan sakti karena beberapa kali dibacok dan diberondong peluru tetap kebal seperti yang diceritakan kepadanya secara turun temurun.
Benteng Van Den Bosch yang terletak di jalur pertemuan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, tepatnya di Desa Pelem, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur kini mulai nampak elok dan tidak kusam lagi sejak dilakukan revitaliasai oleh Kementrian PUPR sejak awal tahun 2021 lalu.

KH Nursalim Kebal Peluru dan Bacok
Dalam buku Jejaring Ulama Diponegoro (2019), Zainul Bilal Bizawie menyatakan bahwasanya KH. Muhammad Nursalim merupakan putra dari Kiai Maktub, seorang Tumenggung Rojo Niti.
Meskipun Pangeran Diponegoro telah ditangkap, Kiai Nursalim tetap gigih melawan pemerintahan kolonial Belanda. Antara tahun 1830-1839 ia bersama para pengikutnya tetap melakukan pembangkangan terhadap Belanda.
Dalam beberapa kali pertempuran, Kiai Nursalim dikisahkan mampu meloloskan diri dari peluru Belanda. Namun, Belanda tak kalah akal. Melalui sebuah siasat dan taktik penipuan, Belanda berhasil menangkap sang Kiai. Ia pun langsung dibawa ke dalam benteng.
Sesampainya di sana, ia diberondong peluru. Namun, tak satupun yang bersarang di tubuhnya. Ketika disiksa dengan senjata tajam dan pentungan, tubuh Kiai Nursalim juga kebal.
Akhirnya, ia diikat dengan tali tambang. Dalam kondisi terikat dan tak bisa bergerak itulah, Kiai Nursalim dikubur hidup-hidup oleh kolonial Belanda. Tidak jauh dari sel tempatnya dipenjara itulah, sang kiai mengembuskan napas terakhirnya.
“Makam Mbah Muhammad Nursalim di Benteng Pendem tentu membawa aib pada Belanda karena Belanda ogah mencampuradukkan antara kepentingan orang mati dengan mereka yang masih hidup. Belanda pasti punya komplek pemakaman sendiri baik bagi kalangan mereka sendiri maupun kalangan musuh-musuhnya yang berbeda dengan tempat tinggalnya sehingga tidak mungkin orang Belanda menanam mayat musuhnya di kediamannya. Mbah Muhammad Nursalim adalah pengecualian itu. Makamnya di Benteng Pendem menunjukkan kapasitas sang pahlawan dan itu mencitrakan negatif ke pihak penjajah karena ada mayat yang tertanam di tempat mereka sehari-hari hidup. Makamnya di Benteng Pendem menunjukkan kapasitas sang pahlawan dan itu mencipratkan citra negatif ke pihak penjajah karena ada mayat yang tertanam di tempat mereka sehari-hari hidup,” tulis Mashuri Alhamdulillah dalam artikelnya yang berjudul Makam KH. Muhammad Nursalim, Kisah Lain di Balik Benteng Pendem Ngawi.
Dulu, makam Kiai Nursalim hanya berupa gundukan tanah dan bersemak. Tidak ada nisan yang menerangkan namanya, hanya ada sebuah pohon kamboja. Kini, makamnya telah dipugar dengan keramik biru laut.
Lengkap dengan nisan yang bertuliskan nama sang kiai, tapi tidak tertera tanggal kelahiran dan kematiannya.
Pemugaran makam sang kiai dilakukan pada tanggal 17 Agustus 1992 oleh Komandan Batalyon Armed 12 sebagai bentuk penghargaan terhadap seorang pahlawan bangsa yang telah menumbuhkan aib pada nilai-nilai hidup yang dianut kolonial Belanda. (ted)






