Makkah (beritajatim.com) – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyiapkan program Safari Wukuf untuk memfasilitasi jemaah haji yang mengalami kendala kesehatan serius atau disabilitas agar tetap dapat menjalankan puncak ibadah haji di Arafah secara manusiawi.
Melalui program ini, jemaah yang tidak mampu melakukan mobilisasi mandiri akan dibawa menggunakan kendaraan khusus menuju Arafah untuk menunaikan rukun haji paling krusial tersebut.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, program ini merupakan bentuk perlindungan nyata bagi jemaah risiko tinggi (risti) agar hak ibadah mereka tetap terpenuhi meskipun dalam kondisi fisik yang terbatas. Penanganan intensif akan diberikan oleh tim khusus guna menjaga stabilitas kesehatan jemaah selama prosesi puncak haji berlangsung.
Kepala Seksi PKP2JH (Pertolongan Pertama Pada Jemaah Haji), Lansia, dan Disabilitas Daker Makkah PPIH Arab Saudi, Mayor CKM. dr. Ridwan Siswanto, menjelaskan bahwa petugas akan menyisir setiap kloter untuk mengidentifikasi jemaah yang membutuhkan layanan ini. Proses seleksi atau screening dilakukan secara mendalam berdasarkan rekam medis dan kondisi fisik terkini jemaah.
“Safari hukum (wukuf) itu kita men-screening jama-jama dari setiap ploternya yang memiliki masalah kesehatan serius dan disabilitas. Jadi jama-jama itu kita pilih dari setiap ploternya, nanti kita gabungkan di satu tempat hotel. Hotel transit pada saat armuzna,” ujar dr. Ridwan saat ditemui di Kantor Daker Makkah, Selasa (28/4/2026).
Pendampingan Khusus di Hotel Transit
Jemaah yang lolos screening akan dipisahkan sementara dari rombongan kloternya untuk ditempatkan di hotel transit khusus. Di lokasi tersebut, mereka akan mendapatkan perawatan dan bantuan penuh dari tim PKP2JH dan tim Pelayanan Lansia Disabilitas (Landis) selama fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Langkah penggabungan ini bertujuan agar petugas dapat memberikan layanan satu pintu yang lebih fokus dan efisien. Mengingat pendamping asli jemaah (keluarga/teman) juga harus menjalankan ibadah haji masing-masing, maka peran petugas menjadi pengganti keluarga sepenuhnya dalam membantu kebutuhan dasar hingga ibadah jemaah tersebut.
Komitmen Pelayanan Manusiawi
Meskipun rencana detail kuota untuk tahun 2026 masih dalam tahap finalisasi, dr. Ridwan memberikan gambaran merujuk pada pelaksanaan tahun sebelumnya. Pada musim haji lalu, kuota yang disediakan mencapai 50 jemaah per kloter yang membutuhkan penanganan khusus.
“Untuk rencana safari hukum (wukuf) itu untuk tahun ini masih belum ditetapkan. Saya masih belum bisa memberikan statement itu. Kalau yang tahun lalu sih kuotanya dari setiap ploternya 50 jama-jama,” tambahnya.
Direktorat Layanan Haji dan Umrah Kemenhaj RI menekankan bahwa esensi dari Safari Wukuf adalah memuliakan tamu Allah yang sedang dalam kondisi lemah.
Segala bentuk pelayanan, mulai dari menyuapi makanan, membantu kebersihan diri, hingga mengantar jemaah menggunakan ambulans atau bus khusus menuju Arafah, dipastikan tetap menjunjung tinggi prinsip profesionalisme dan kasih sayang. [ian/MCH]






