Magetan (beritajatim.com) – Larungan Sesaji di Telaga Sarangan, Plaosan, Magetan, Jawa Timur digelar terbatas, Jumat (18/3/2022). Upacara adat dalam rangka bersih desa Kelurahan Sarangan itu hanya melibatkan warga setempat. Dua tumpeng besar yakni Gono Bau dan Tedak Ripih berupa sayur-sayuran dilarung ke tengah telaga.
Lurah Sarangan Prima Suhardi Putra mengungkapkan sebelum tumpeng dilarung, terlebih dulu diarak keliling telaga menggunakan speedboat. Kemudian, dibawa ke bagian tengah telaga tepatnya di dekat pulau di Sarangan. Di situ sesepuh desa memanjatkan doa-doa sebelum melarung kedua tumpeng tersebut ke telaga yang berjuluk Telaga Pasir itu.
”Ini adalah rangkaian terakhir dari keseluruhan upacara adat Kelurahan Sarangan. Tumpeng sudah disiapkan sejak kemarin, yakni berupa nasi berbentuk kerucut setinggi satu meter, dan tedak ripih berupa sayur-sayuran dengan ketinggian yang hampir sama. Kami naikkan speed boat, kemudian kami berkeliling telaga, dan kemudian kami larung,” kata Prima, Jumat (18/3/2022)
Dia menyebutkan bersih desa di Sarangan memang dilaksanakan pada bulan Ruwah atau bulan Syaban dalam kalender Hijriyah. Tradisi turun-temurun itu terus diuri-uri oleh sesepuh desa, dan terus dikenalkan kepada pemuda-pemuda di Sarangan agar mengenal budaya tersebut.
”Kami turut mengharap agar pandemi segera usai, sehingga acara Larung Sesaji ini bisa jadi daya tarik wisata. Karena acara ini memuat kearifan lokal, wisatawan bisa mengenal adat istiadat warga Sarangan,” kata Prima.
[berita-terkait number=”4″ tag=”magetan”]
Untuk diketahui, sebelum acara Larung Sesaji sudah terlebih dulu ada acara selamatan baik di Punden Kelurahan Sarangan, Pulau tengah Sarangan, dan Malam Tirakatan. Kemudian, prosesi larung sesaji adalah rangkaian terakhir dari prosesi bersih desa.
Selama prosesi adat tersebut Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Magetan memilih untuk menutup kawasan telaga dari aktivitas wisata selama 24 jam mulai 17 Maret 2022 pukul 16.00 WIB hingga 18 Maret 2022 pukul 16.00WIB . Hanya penduduk setempat yang diperbolehkan untuk mengikuti acara tersebut.
Tradisi itu dulunya hanya dilaksanakan dengan melibatkan masyarakat lokal Kelurahan Sarangan. Barulah pada tahun 1987, acara tersebut mulai dijadikan salah satu upaya Pemkab untuk menarik wisatawan. [fiq/but]






