Arab Saudi (beritajatim.com) – Menteri Haji dan Umrah RK Moch. Irfan Yusuf, memastikan jemaah haji Indonesia mendapatkan layanan konsumsi berkualitas tinggi dengan cita rasa Nusantara melalui penggunaan bumbu masak dan beras asli asal Indonesia di dapur katering Makkah. Kepastian ini diambil setelah jajaran pimpinan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melakukan supervisi dan pengecekan langsung ke dapur aktif di kawasan Safwat Al Wessam, Walyal Ahd District, Makkah, Arab Saudi.
Langkah pengecekan ini dilakukan untuk menjamin setiap hidangan yang disajikan bagi jemaah, termasuk ribuan jemaah asal berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, memenuhi standar higienitas dan akurasi rasa. Pemerintah menekankan bahwa penggunaan bahan baku dari tanah air bukan sekadar soal rasa, melainkan upaya menjaga kenyamanan psikologis jemaah agar tetap merasa dekat dengan rumah saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Dalam peninjauan tersebut, Gus Irfan menginstruksikan agar seluruh penyedia konsumsi melakukan pengolahan beras sesuai dengan standar yang biasa diterapkan di Indonesia. Hal ini bertujuan agar kualitas tekstur dan rasa nasi tetap terjaga, mengingat perbedaan jenis air dan metode memasak di Arab Saudi seringkali mengubah cita rasa nasi jika tidak ditangani dengan teknik yang tepat.
Menteri Haji dan Umrah, Moch. Irfan Yusuf, memastikan bahwa jemaah haji Indonesia mendapatkan layanan konsumsi terbaik, mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga pengemasan harus memenuhi standar kualitas, kebersihan, dan cita rasa Nusantara.
”Penggunaan bumbu dan beras dari Indonesia adalah bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan rasa yang familiar bagi jemaah, sehingga mereka tetap nyaman dan fokus dalam menjalankan ibadah,” jelasnya.

Selain aspek rasa, Kemenhaj memberikan perhatian ekstra pada rantai pasok keamanan pangan. Seluruh area penyimpanan bahan makanan diperiksa ketat untuk memastikan kondisi suhu dan kebersihan memenuhi standar internasional. Proses pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mencakup area dapur, metode memasak, hingga tahap pengemasan (packing) sebelum didistribusikan ke maktab-maktab jemaah.
Fasilitas dapur yang ditunjuk juga diwajibkan memiliki kapasitas produksi yang sepadan dengan jumlah jemaah guna menghindari keterlambatan distribusi. Bagi jemaah haji, ketepatan waktu makan merupakan faktor krusial dalam menjaga stamina fisik selama menjalani rangkaian ibadah yang padat di cuaca Makkah yang ekstrem.
Gus Irfan menekankan bahwa konsistensi layanan adalah harga mati bagi seluruh mitra katering. Monitoring akan dilakukan secara berkala oleh tim pengawas konsumsi untuk memastikan tidak ada penurunan standar sejak hari pertama hingga hari terakhir operasional haji.
“Pelayanan konsumsi bukan hanya soal makanan tersedia, tetapi bagaimana kualitasnya terjaga, rasanya sesuai selera jemaah Indonesia, dan distribusinya tepat waktu,” ujarnya.
Supervisi langsung ini mencerminkan komitmen Kemenhaj dalam menghadirkan tata kelola haji yang profesional dan responsif terhadap kebutuhan dasar jemaah. Dengan memprioritaskan bahan baku lokal Indonesia, pemerintah juga secara tidak langsung mendukung penguatan ekspor produk pangan nasional ke pasar Arab Saudi dalam ekosistem ekonomi haji yang berkelanjutan. [ian/but]






