Blitar (beritajatim.com) – Selama 3 tahun terakhir pertumbuhan bisnis minuman berpemanis di Kabupaten Blitar terus meningkat. Pertumbuhan lapak minuman berpemanis itu ternyata selaras dengan peningkatan angka penderita diabetes di Bumi Penataran.
Meski belum ada penilaian resmi soal tersebut, tentu ini menjadi alarm bagi masyarakat di Kabupaten Blitar. Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar pun mengimbau kepada masyarakat untuk mengurangi konsumsi minuman berpemanis.
“Angka diabetes di Kabupaten Blitar memang cukup tinggi, memang belum ada penilaian soal keterkaitan antara jumlah lapak pedagang minuman berpemanis dengan angka diabetes. Namun yang pasti warga harus sadar bahwa mengkonsumsi minuman berpemanis itu ada ukurannya,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Christine Indrawati, Senin (12/8/2024).
Data yang dimiliki Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, angka diabetes militus dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2022 angka diabetes militus di Blitar mencapai 1729 orang.
Jumlah itu melonjak pada 2023, di mana ada 10.499 warga Blitar yang menderita diabetes militus. Sedangkan hingga pertengahan 2024 ini angka diabetes di Kabupaten Blitar telah mencapai 2.765 orang.
“Memang diabetes ini menjadi masalah terbesar dan menjadi faktor pemicu utama terjadinya penyakit lain seperti gagal ginjal,” imbuhnya.
Dari data tersebut, yang membuat miris adalah mayoritas penderita gagal ginjal adalah kelompok usia produktif. Usia 5-59 tahun menjadi kelompok umur yang paling banyak menderita penyakit diabetes militus.
Hal itu tidak terlepas dari berubahnya pola konsumsi masyarakat saat ini. Mayoritas anak muda atau usia produktif lebih suka meminum minuman berpemanis.
Kondisi itu diperparah dengan berkurangnya tingkat olahraga masyarakat akibat tuntutan pekerjaan dan kesibukan lainnya. Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar sendiri mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatan tubuh dengan membatasi konsumsi gula serta memperbanyak olah raga dan makan minum yang sehat.
“Konsumsi apapun kalau berlebihan pasti berbahaya, begitu pula dengan gula baik itu gula alami atau yang lain pasti tidak baik juga untuk tubuh,” tegasnya. [owi/beq]






