Trenggalek (beritajatim.com) – Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Hasan Syukri Zamzami Mahrus berpesan kepada seluruh alumni agar lebih selektif memilihkan pesantren untuk anak-anak.
“Kalau memondokkan anak harus selektif. Pilih pondok yang telah muktabaroh ke NU-annya. Jangan sampai salah pilih pondok Wahabi,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al-Baqoroh Lirboyo Kediri di hadapan ratusan alumni.
Hal itu penting dimengerti oleh para alumni Lirboyo, terlebih karena banyak pondok pesantren yang seolah-olah namanya NU, akan tetapi berpaham Wahabi. “Karena Wahabi itu dakwahnya juga bikin pondok, buat nama kamuflase mirip NU,” tegas Kiai Zamzami.
Pesan itu disampaikan saat acara Turba dan Silaturahim Masyayikh Lirboyo dengan para alumni putra-putri yang ada di Trenggalek bertempat di Pondok Pesantren Al-Anwar, Ngadirenggo, Pogalan, Trenggalek Senin (5/8/2024) malam.
Dalam acara ini sekaligus melantik pengurus baru Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Cabang Trenggalek masa khidmah 2024-2029 juga pelantikan Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Cabang Trenggalek.
Usai melantik para pengurus baru, Kiai Zamzami menyebut jasa alumni terhadap perkembangan pesantren Lirboyo sangat besar sekali. Termasuk Lirboyo yang sekarang bisa sebesar ini salah satunya karena peran para alumni. “Yang membangun kamar santri adalah para alumni dan wali santri,” sebut Putra Almaghfurlah KH Mahrus Ali itu.
Hal itu dilakukan para alumni berdasarkan filosofi yang diajarkan oleh Muassis Pondok Pesantren Lirboyo Kediri KH Abdul Karim tentang burung yang membuat sarangnya sendiri ketika hendak bertelur. “Kata Mbah Abdul Karim, manuk kalau mau bertelur itu membuat susuh dulu,” kutip Kiai Zamzami.
Filosofi itu lah kiranya yang sampai hari dipegang oleh para alumni bergotong royong membangun asrama atau kamar bagi para santri yang mondok di Lirboyo Kediri sebagai tempat mereka bermukim.
Apa yang dilakukan oleh para alumni tersebut juga merupakah khidmah. Disebut, berkhidmah tidak harus berada di pondok pesantren akan tetapi bisa di tempat masing-masing salah satunya berkhidmah melalui organisasi yang menghimpun para alumni Lirboyo, Himasal.
Sebuah wadah yang digagas pada 15 Maret 1996 itu pun kini sudah ada hampir di seluruh kota atau kabupaten se-Indonesia. “Sebagai wadah tombo kangen para alumni, sekaligus wadah saling memaafkan satu sama lain,” begitu sebut Agus H. Ahmad Kafabihi yang juga hadir dalam acara.
Cak Mad, sapaan karibnya itu pun membeberkan beberapa perkembangan yang terjadi di Pondok Pesantren Lirboyo. Salah satunya tentang tentang madrasah diniyah yang telah berstatus muadalah atau setara dengan pendidikan formal terakreditasi A.
Ketua Himasal Trenggalek, KH Bahauddin Jumadi dalam sambutannya memohon doa restu kepada para masyayikh Lirboyo Kediri sekaligus memohon dukungan kepada seluruh alumni Lirboyo yang ada di Trenggalek.
“Kami sebagai pengurus baru Himasal Trenggalek dan LIM mohon doa restu untuk menjalankan tugas dengan baik dan mendapat berkah para masyayikh,” kata Gus Baha, sapaan karibnya.
Gus Baha membacakan program-program yang akan digarap, baik program jangka pendek, program jangka menengah dan program jangka panjang.
Salah satu program tersebut terkait dengan Pondok Lirboyo Cabang VIII di Masaran, Bendungan, Trenggalek dan juga pendataan alumni. “Maka kami minta alumni untuk aktif melakukan pendataan,” jelas Gus Baha. [ian]






