Surabaya (beritajatim.com) – Ketika konflik di Timur Tengah memasuki hari keenam setelah serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, langit di kawasan tersebut berubah menjadi ruang hampa.
Jalur udara yang biasanya padat oleh lalu lintas pesawat kini tampak lengang, sementara jutaan perjalanan global terguncang akibat penutupan wilayah udara yang meluas.
Menurut data pelacak penerbangan global Flightradar24, sejumlah negara di kawasan Teluk memperpanjang penutupan ruang udara mereka pada 5 Maret. Iran, Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, hingga Uni Emirat Arab memberlakukan penutupan penuh maupun sebagian sebagai langkah pengamanan di tengah eskalasi konflik.
Sementara itu, wilayah udara Israel dipastikan ditutup setidaknya hingga 9 Maret, sedangkan Iran dan Irak diperkirakan tetap tertutup hingga 7 Maret.
Keputusan ini membuat jalur penerbangan internasional yang biasanya melintasi Timur Tengah terputus, memaksa maskapai mengalihkan rute atau bahkan membatalkan penerbangan.
Gelombang Pembatalan Penerbangan
Dampak dari situasi ini sangat besar. Pada Senin, 2 Maret, hampir 10.000 penerbangan tercatat dibatalkan di tujuh bandara utama di kawasan Timur Tengah. Angka tersebut berasal dari data pelacakan penerbangan yang dikutip oleh NPR.
Data lain yang dihimpun maskapai Saudia bahkan menunjukkan lebih dari 12.000 penerbangan di seluruh dunia dibatalkan pada awal Maret akibat gangguan tersebut.
Salah satu yang paling terdampak adalah Dubai International Airport. Bandara tersibuk di dunia untuk penerbangan internasional itu biasanya melayani lebih dari 1.000 penerbangan setiap hari. Namun selama hampir sepekan terakhir, operasional bandara nyaris lumpuh.
Sejumlah maskapai besar pun terpaksa menghentikan sebagian besar operasionalnya.
Maskapai Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways menghentikan penerbangan dari hub utama mereka di Dubai, Abu Dhabi, dan Doha.
Qatar Airways menyatakan penghentian operasional akan terus dilakukan selama ruang udara Qatar masih ditutup. Hal serupa terjadi pada Gulf Air dan Kuwait Airways.
Bahkan Kuwait International Airport dilaporkan mengalami kerusakan pada Terminal 1 akibat serangan drone, yang semakin memperparah gangguan penerbangan di kawasan tersebut.
Maskapai Saudia juga memperpanjang pembatalan penerbangan menuju delapan destinasi, termasuk Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Amman hingga 6 Maret.
Puluhan Ribu Penumpang Terjebak
Gelombang pembatalan penerbangan membuat puluhan ribu penumpang terlantar di berbagai bandara. Pemerintah Uni Emirat Arab bahkan menyatakan siap menanggung biaya makanan dan akomodasi bagi para penumpang yang terdampak.
Sejak penutupan bandara pada 28 Februari, lebih dari 20.000 penumpang tercatat terdampak pembatalan penerbangan. Jumlah ini masih bisa bertambah mengingat Dubai merupakan salah satu simpul transit global terbesar.
Perusahaan analitik penerbangan Cirium memperkirakan sekitar 90.000 penumpang biasanya transit setiap hari melalui jaringan penerbangan Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways.
Kini, banyak dari mereka terjebak di ruang tunggu bandara, menunggu kabar pembukaan kembali jalur udara.
Salah satu penumpang yang terdampak adalah Kristy Ellmer, seorang pelancong bisnis asal New Hampshire, Amerika Serikat. Ia terjebak di Dubai setelah penerbangannya terus dibatalkan.
“Kami hanya menunggu untuk berangkat. Penerbangan kami terus dibatalkan,” ujar Ellmer kepada NPR.
Ia menuturkan bahwa setiap hari mencoba memesan penerbangan baru, tetapi semuanya berujung pembatalan.
“Kami sudah memesan penerbangan setiap hari minggu ini, tapi hari Minggu dibatalkan. Lalu hari Senin dibatalkan, dan sekarang hari Selasa juga dibatalkan,” katanya.
Evakuasi Warga Negara dan Lonjakan Harga Tiket
Di tengah kekacauan penerbangan tersebut, sejumlah negara mulai melakukan langkah repatriasi untuk mengevakuasi warganya dari kawasan konflik.
Pemerintah Inggris menyewa penerbangan repatriasi dari Muscat, Oman pada 4 Maret. Sementara Singapura menjadwalkan penerbangan repatriasi pada 7 dan 8 Maret dari kota yang sama.
Selain itu, pemerintah Singapura juga memfasilitasi perjalanan darat bagi warganya dari Bahrain dan Qatar menuju Riyadh, Arab Saudi, tempat penerbangan komersial masih beroperasi.
Prancis mengevakuasi warga negaranya melalui Oman dan Mesir, sementara Italia memulangkan para pelajar dari Dubai. Lebih dari 200 orang dari 16 negara juga dilaporkan meninggalkan Iran melalui jalur darat menuju Turkmenistan.
Di sisi lain, bagi pelancong yang mencoba mencari jalur penerbangan alternatif, harga tiket pesawat melonjak drastis.
Penelusuran Reuters menunjukkan kursi kelas ekonomi maskapai Cathay Pacific dari Hong Kong ke London hampir habis hingga 11 Maret. Jika tersedia, harga tiket sekali jalan mencapai sekitar 2.700 dolar AS.
Sementara itu, Thai Airways melaporkan penerbangan menuju Eropa hampir penuh karena banyak pelancong menghindari rute transit melalui Teluk.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana konflik regional tidak hanya berdampak pada geopolitik, tetapi juga mengguncang jaringan transportasi global. Ketika langit Timur Tengah tertutup, efeknya terasa hingga bandara-bandara di Asia, Eropa, dan Amerika. (ted)






