Malang (beritajatim.com) – Ribuan warga Nahdlatul Ulama (NU), santri, dan masyarakat dari berbagai penjuru menghadiri Haul dan Harlah ke-76 Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Minggu (25/1/2025). Acara menjadi momen istimewa, karena pesantren Nurul Jadid ditunjuk sebagai tuan rumah peringatan Harlah NU ke-102.
KH. Moh. Zuhri Zaini, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, menyampaikan pesan mendalam mengenai perjalanan perjuangan pesantren yang didirikan oleh almarhum KH. Zaini Mun’im. Ia juga menegaskan pentingnya peran santri sebagai kader umat dan bangsa.
“Kami mengucapkan ahlan wa sahlan bihudurikum. Terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu yang telah menyempatkan waktu untuk hadir di acara kami,” ucap Kyai Zuhri.
Kyai Zuhri mengenang perjuangan pendiri pesantren, KH. Zaini Mun’im, yang memulai hijrah dari Pamekasan, Madura, ke Pulau Jawa. Perjalanan tersebut, menurutnya, penuh tantangan namun dilandasi semangat perjuangan melawan penjajahan Belanda.
“Beliau bersama para tokoh Madura, khususnya masyayikh, ikut relawan penjajah setelah seruan KH. Hasyim Asy’ari dengan resolusi jihad. Perjuangan ini menggugah kaum santri untuk bangkit melawan penjajahan,” ungkap Kyai Zuhri.
KH. Zaini Mun’im juga bergabung dengan Laskar Fisabilillah dan melanjutkan perjalanannya ke Pondok Salafiyah Syafiiyah Sukorejo di Situbondo, yang kala itu dipimpin KH. Syamsul Arifin. Sukorejo dikenal sebagai pusat perlawanan dan dianggap tanah haram oleh penjajah Belanda.
Pesantren Nurul Jadid didirikan atas dukungan masyayikh. Salah satunya seperti KH. Hasan Genggong, dengan misi mencetak santri yang tak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kami ingin mencetak santri yang tidak hanya menjadi kyai, ustaz, atau muballigh, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa,” tegas Kyai Zuhri.

Sejak awal berdirinya, Pesantren Nurul Jadid mengintegrasikan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan modern. Pelajaran biologi disebut ‘Ilmu Hayat’, matematika disebut ‘Aljabar’, dan geografi disebut ‘Jarafiyah’. Hal ini menunjukkan bahwa pesantren tersebut sejak awal berkomitmen memberikan pendekatan pendidikan yang holistik.
Kyai Zuhri juga menyampaikan pesan khusus dari KH. Zaini Mun’im bagi para alumni pesantren. Menurutnya, alumni Nurul Jadid tidak perlu membawa nama besar pesantren, tetapi fokus pada kontribusi nyata kepada masyarakat.
“Santri Nurul Jadid yang kembali ke masyarakat sudah menjadi milik masyarakat. Mereka harus bekerja sama dengan semua pihak, baik sesama alumni, pesantren lain, maupun siapa pun yang memiliki visi dan misi yang sama,” jelasnya.
Di akhir sambutannya, Kyai Zuhri mengajak seluruh santri untuk terus memegang teguh nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. “Santri tidak hanya harus menjadi pemimpin agama, tetapi juga mampu menjadi kader umat dan bangsa yang membawa manfaat luas,” tutupnya. [dan/aje]






