Surabaya (beritajatim.com) – Pernahkah Anda merasa waktu Anda terbuang sia-sia hanya karena terlalu lama scroll media sosial atau mengecek notifikasi yang tak ada habisnya?
Saat ini kita berada di tengah kemajuan teknologi yang pesat, banyak dari kita justru merasa semakin terjebak dalam dunia digital yang tak pernah berhenti.
Pada era serba digital ini, kita hampir tidak bisa lepas dari perangkat teknologi yang hampir mengendalikan sebagian besar waktu kita. Mulai dari smarthphone, laptop, hingga media sosial.
Namun, di tengah perkembangan dunia digital ini, hadirlah istilah misimalisme digital, suatu pendekatan untuk meminimalkan gangguan teknologi dan menciptakan ruang bagi hal-hal yang lebih penting dalam hidup.
Salah satu tantangan terbesar dalam hidup di zaman modern adalah media sosial. Aplikasi seperti TikTok, Instagram, atau Twitter menawarkan hiburan yang tak ada habisnya dan membuat kita terjebak dalam loop konten yang terus mengalir.
Mulai dari scrolling tanpa henti di TikTok, hingga mengecek Instagram atau Facebook setiap beberapa menit, kita sering kali merasa waktu kita terbuang sia-sia.
Dengan kedok istirahat atau sekedar self reward sederhana, kegiatan ini biasanya dilakukan oleh segala kelompok umur hingga lupa, waktu yang mereka habiskan sudah terlampau panjang.
Apa yang dimulai sebagai hiburan sesaat bisa dengan cepat mengubah kita menjadi konsumen pasif yang hanya duduk berjam-jam, terjebak dalam algoritma yang menyesatkan dan membuat lebih cemas atau merasa kurang.
Misalnya saja, konten-konten di media sosial yang membahas mengenai standar kecantikan. Mau tidak mau, penonton akan mengikuti arus dan perlahan mengamini narasi-narasi yang dibaca melalui berbagai media sosial.
Kebiasaan ini tak hanya menghabiskan waktu, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan mental kita. Durasi penggunaan media sosial yang berlebihan dapat meningkatkan perasaan stress hingga kecemasan.
Untuk itu, digital minimalism hadir sebagai solusi. Prinsip utamanya adalah mengurangi penggunaan teknologi yang tidak memberikan nilai tambah.
Ini bisa dimulai dengan langkah-langkah kecil, seperti mengurangi waktu penggunaan media sosial, menetapkan waktu tertentu untuk mengecek email, atau menggunakan aplikasi yang membantu kita memantau dan mengontrol waktu layar.
Tujuan dari digital minimalism bukan untuk sepenuhnya menyingkirkan teknologi, melainkan untuk lebih bijaksana dalam penggunaannya, sehingga kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting. [aje]






