Jombang (beritajatim.com) – Empat mahasiswa dari University of Southern California (USC) Amerika mengunjungi sentra batik yang ada di Dusun Jambu Desa Jabon Kecamatan/Kabupaten Jombang. Di tempat itu, para mahasiswa ini belajar membatik. Sentra yang diberi nama ‘Pesona Batik Jombang’ ini didirikan pada 2015.
Berada di pusat kerajinan batik milik Nunuk Rahmawati pengunjung seakan dibawa ke masa lalu. Bangunannnya berbentuk joglo. Lokasinya berada di kebun belakang rumah induk. Ada sepasang gapura sebagai penanda pintu masuk. Tembok bata merah mengelilingi bangunan joglo tersebut.
Di depan joglo nampak tiga perempuan sedang sibuk membatik. Mereka menggoreskan canting di atas selembar kain. Sedangkan perempuan lainnya sedang nyolet. Yakni menggoreskan kuas untuk memberikan warna pada batik yang sudah berpola. Warna yang digoreskan itu berbahan alam. Karena itulah andalan dari ‘Pesona Batik Jombang’. Batik tulis warna alam.
BACA JUGA:
Batik ‘Sekar Ndaru’ Jadi Icon Desa Gondang di Mojokerto
Ada joglo, ada perempuan yang sedang membatik. Semua itu semakin lengkap dengan musik pengiring berupa gamelan yang berasal dari pelantang suara. Seiring dengan itu, serombongan tamu yang ditunggu datang. Mereka adalah empat mahasiswa dari Amerika ditambah dengan seorang dosen pendamping. Juga didampingi oleh Oke Oce Ina Makmur.
Nunuk Rahmawati menyambut tamu-tamu yang datang itu dengan mengalungkan selendang batik ke leher mereka. Lalu disambung dengan ramah tamah. Kepada rombongan mahasiswa, Nunuk menjelaskan panjang lebar tentang UMKM miliknya itu. Mantan dosen Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang ini juga menjelaskan filosofi batik karyanya.
Filosofi Batik

Menurut Nunuk, semua batik hasil karyanya mengandung sejarah. Jika tidak mengandung sejarah makan bisa disebut batik ambyar. Semisal batik motif ‘Tunggul Argani’. Motif tersebut memili arti pataka keberanian dalam menghadapi bahaya. Motif tersebut diilhami dari peristiwa penyelamatan Prabu Jayanegara oleh pasukan Bhayangkari yang dipimpin Gajahmada ke Desa Bedander (Berada di Kecamatan Kabuh Jombang).
“Tunggul bermakna pangkal batang kayu. Sedangkan secara filosofis merupakan simbol kehormatan atau pataka kesatuan. Sedangkan Bhayangkari adalah nama satuan elit pengawal Raja Majapahit yang terkenal sejak peristiwa penyelamatan Prabu Jayanegara. Peristiwa itu saya tuangkan dalam karya batik dengan nama Tunggul Argani,” ujar Nunuk.
Ada juga motif besutan. Motif ini diambil dari tokoh legendari asal Jombang yang bernama besut. Tokoh ini adalah pejuang yang melawan penjajah melalui kesenian. Dia mengenakan topi merah (turki), lalu tubuhnya dibalut kain putih. Wajah besut mengenakan bedak tebal. Besut mengamen keliling dengan menyampaikan cerita-cerita.
BACA JUGA:
Pameran Batik Fashion 2022, Puluhan Produk Bersaing di Grand City Surabaya
Nah, tampilan besut atau dikenal dengan besutan inilah yang diyakini sebagai cikal bakal ludruk. “Topi merah yang dipakai besut adalah lambang keberanian. Sedangkan kain putih melambangkan tujuan yang suci (mulia). Karya saya selalu ada ornamen daun jombang dan daun tebu. Itulah yang khas dari Jombang. Tebu adalah simbolisasi dari (pesantren) Tebuireng,” lanjut Nunuk.
Mahasiswa Bule Membatik

Usai melihat batik koleksi ‘Pesona Batik Jombang’, para mahasiswa dari Amerika ini juga mencoba menggoreskan canting dan kuas. Adalah Cath, nama salah satu mahasiswa ini. Rambut gadis bule itu berwarna pirang memanjang berkepang dua. Didampingi oleh Nunuk, Cath sangat hati-hati memegang kuas.
Dia kemudian menggoreskan cairan pewarna alam ke atas kain putih yang sudah berpola. Senyumnya langsung mengembang ketika apa yang dilakukannya berhasil. Hal itu diikuti oleh tiga mahasiswa lainnya, yakni Megan, Ben, serta Pan. Ada juga mahasiswa yang belajar meracik pewarna alam.
Ketua Umum Oke Oce Ina Makmur Joko Dwitanto yang mendampingi mahasiswa dari Amerika itu menjelaskan, ada beberapa lokasi UMKM yang dikunjungi oleh mahasiswa University of Southern California. Yakni, Pasar Barongan Kali Gunting Kecamatan Mojoagung dan Pesona Batik Jombang milik Nunuk Rachmawati di Desa Jambu Jombang.
BACA JUGA:
Semarak Karnaval Nang Tunjungan Surabaya, Lima Kepala Daerah Ikut Fashion Show
Para mahasiswa tersebut melakukan riset terkait apa saja selama ini permasalahan yang mendera UMKM. Selanjutnya, mahasiswa tersebut akan mencarikan solusinya. “Yang pertama kita mengunjungi Pasar Barongan. Kedua di Pesona Batik Jombang. Mahasiswa melakukan riset seputar UMKM. Menggali permasalahan, lalu mencarikan solusi,” kata Joko.
Joko mengatakan program mahasiswa USC ini bernama global applied research atau pendidikan terapan. Pihak kampus ingin mengetahui kendala UMKM yang ada di Indonesia. Utamanya yang berada di bawah naungan Oke Oce. Ada 15 UMKM di Jatim yang dijadikan obyek penelitian. Mulai sektor kriya hingga kuliner.
“Mengapa kok batik? Kami ingin mengenalkan batik ke luar negeri. Sehingga bisa dipasarkan melalui jejaring kampus di Amerika. Makanya mahasiswa tadi kita kenalkan jenis batik hingga bagaimana cara membuat batik. Semuanya kita kenalkan. Mereka tahu batik, tapi bagaimana prosesnya itu yang belum tahu,” ujar Joko. [suf/ted]






