Surabaya (beritajatim.com) – Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulayani Indrawati gemar berkuliner jika bepergian keluar kota, salah satunya di Surabaya, Jawa Timur. Salah satu resto yang terkenal dengan menu tradisional Jawa Timur, Kayanna Restaurant, menjadi jujukan Sri Mulyani untuk berkuliner bersama para stafnya.
Menu seperti gurami bakar, udang bakar, lontong cap gomeh, rujak cingur, sate maranggi, sop buntut, semur daging, ayam kremes tungku, iga bakar, tumis buncis hingga yagn paling favorit adalah bistik lidah.
Menurut Menteri kelahiran Bandar Lampung ini, menu di tempat makan kawasan Dr Sutomo, Surabaya ini memang menjadi langganananya karena seakan kembali menikmati makan rumah dan rasanya tentu otentik. “Enak menunya, apalagi bistik lidahnya, punya khas sendiri. Yang bikin ketagihan jika berkuliner bistik lidah ini resepnya ala rumahan khas Jawa Timuran dan bikin kangen masakan rumah,” ungkap Sri Mulyani.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kuliner”]
Sementara itu, Ellen Sulistyo Founder Kayanna Restaurant menceritakan, memang beberapa pejabat kerap kali berkuliner ditempat ini, selain memang rasanya otentik sekali. Bumbu yang disajikan pun berbeda dengan yang lain. Karena memang resep menu nusantara ini didominasi dengan khas rumahan. Menu ini merupakan resep turun temurun. Makanya disebut dengan masakan oma holland.
“Ya memang bistik lidah menjadi andalan ibu Sri tiap kali makan di tempat ini, karena menurutnya resep khas rumahan menjadi salah satu favoritnya. Selain super empuk dan lezat, lidah ini dimasak selama 4 hingga 5 jam. Itu yang membuat lain daripada yang lain,” ungkap Ellen, Minggu (12/2/2023).
Selain itu, yang menarik dari restaurant ini adalah memiliki konsep yang berbeda dengan yang lain. Dari luar, terlihat seperti rumah kompeni. Takni rumah zaman Belanda. Restoran yang terlihat megah ini merupakan salah satu bangunan cagar budaya.
Tak hanya itu, juga terlihat ornamen Delft Blue atau keramik khas Belanda. Ada pula foto-foto dan furniture Indonesia zaman dahulu. Potret Surabaya tempo dulu juga dipajang di beberapa sudut ruangan. [way/suf]






