Ponorogo (beritajatim.com) – Putusnya jembatan penghubung antarwilayah di perbatasan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek kembali menyisakan persoalan serius bagi warga Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun. Infrastruktur sepanjang 70 meter dengan lebar 2,7 meter yang melintang di Sungai Jabak itu ambrol, setelah diterjang banjir.
Derasnya arus sungai usai hujan lebat di kawasan perbukitan Ngrayun membuat struktur jembatan tak mampu bertahan. Bagian tengah runtuh dan hanyut terbawa arus, memutus satu-satunya akses utama warga menuju wilayah Trenggalek yang selama ini menjadi pusat pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi mereka.
Suyanto, pengelola kereta gantung darurat sekaligus warga setempat, menuturkan jembatan tersebut memiliki sejarah panjang swadaya masyarakat. Awalnya dibangun tahun 2010 dengan anyaman bambu, kemudian diperbarui menjadi konstruksi beton pada 2014, juga melalui gotong royong warga.
“Namun awal Januari 2026 kemarin kembali ambrol karena banjir,” ungkap Suyanto, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, kedekatan jarak membuat warga Dusun Purworejo lebih banyak mengakses fasilitas di Trenggalek dibanding ke pusat layanan di Ponorogo. Ketika jembatan terputus, mobilitas warga praktis lumpuh.
“Kalau darurat, ya terpaksa digendong lewat sungai, asal arusnya tidak deras. Kalau sungai sedang kencang, terpaksa memutar lebih dari 20 kilometer untuk berobat ke Trenggalek,” jelasnya.
Selama sekitar sepekan pascakejadian, ratusan warga sempat terisolasi. Aktivitas belajar mengajar, pekerjaan, hingga distribusi hasil pertanian terhenti. Sebagai langkah darurat, warga membangun jembatan gantung sederhana sepanjang kurang lebih 40 meter dengan material tali baja, kayu jati, dan besi bekas.
Kini, jembatan gantung itu menjadi satu-satunya akses terdekat yang menghubungkan Dusun Purworejo dengan Dusun Pegat, Desa Depok, Kecamatan Panggul, Trenggalek. Setiap hari, diperkirakan 30 hingga 50 orang melintas. Pada hari tertentu, jumlahnya bisa mencapai sekitar 100 orang.
“Sejak TK saya sekolah di Trenggalek, karena sekolah terdekat memang di sana. Sekarang kelas XII SMA. Sejak jembatan ambrol, kalau berangkat dan pulang sekolah ya lewat jembatan gantung ini,” ungkap Riski Kurniawan, salah satu siswa kelas XII di SMAN 1 Bodag Trenggalek asal Ponorogo yang setiap hari menggunakan jembatan tersebut.
Bagi Riski dan pelajar lainnya, jembatan gantung bukan sekadar sarana penyeberangan, melainkan jalan penuh risiko yang harus ditempuh demi pendidikan. Lantai kayu yang bergoyang dan arus sungai di bawahnya menjadi pemandangan harian yang memacu adrenalin.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Ponorogo segera membangun kembali jembatan permanen yang lebih kokoh dan tahan terhadap terjangan banjir. Tanpa solusi jangka panjang, wilayah perbatasan ini akan terus berada dalam situasi rentan, di mana keselamatan warga dipertaruhkan setiap kali meniti jembatan gantung darurat tersebut. (end/ian)






