Ponorogo (beritajatim.com) – Gemericik lonceng tahun ajaran baru biasanya jadi penanda semangat baru di sekolah-sekolah. Namun tidak demikian halnya di SDN Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo. Sudah 2 tahun berturut-turut, tak satu pun siswa baru yang masuk ke sekolah negeri ini.
“Tahun ini kembali tidak mendapat siswa. Sudah 2 tahun ini, tidak dapat siswa baru,” kata Plt Kepala SDN Setono, Suhadi, Senin (14/7/2025).
Fenomena sekolah negeri tanpa siswa bukan kali pertama terjadi, tetapi tetap menyisakan tanda tanya besar di masyarakat. Terlebih SDN Setono merupakan sekolah yang telah berdiri cukup lama. Dulu, menjadi pilihan utama warga sekitar. Kini, berjuang untuk sekadar mempertahankan denyut kehidupan belajar-mengajarnya.
Menurut Suhadi, ada sejumlah faktor yang membuat SDN Setono tak dilirik. Persaingan antar sekolah di kawasan Jenangan cukup ketat, termasuk dengan sekolah swasta. Sementara, jumlah lulusan taman kanak-kanak (TK) di wilayah sekitar juga terbatas. “Di wilayah ini tidak hanya SDN Setono, kemungkinan juga lulusan TK yang sedikit, dan diperebutkan oleh banyak sekolah,” ungkapnya.
Upaya untuk membalikkan keadaan pun terus dilakukan. Suhadi dan jajaran guru tak tinggal diam. Mereka menyebar informasi ke warga, menjalin komunikasi dengan para guru TK. Bahkan mengajak masyarakat sekitar untuk bersama-sama menyelamatkan sekolah. “Kami minta masyarakat untuk bersama-sama majukan sekolah ini, dengan menyekolahkan anak-anak mereka,” tambahnya.
Saat ini, jumlah siswa aktif di SDN Setono tinggal 16 anak. Itupun didominasi siswa kelas 6. Rinciannya, 9 siswa duduk di kelas 6, 1 siswa di kelas 5, 4 siswa di kelas 4, dan 2 siswa di kelas 3. Sementara kelas 1 dan 2 kosong total — tak ada satu pun siswa. Jika tren ini tak berubah, maka hanya tinggal hitungan bulan sebelum SDN Setono kehilangan murid sepenuhnya.
Di tengah arus modernisasi dan pilihan pendidikan yang makin beragam, nasib sekolah-sekolah negeri kecil seperti SDN Setono menghadapi tantangan eksistensi yang nyata. (end/kun)






