Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa krisis air menjadi ancaman serius di seluruh dunia.
Dwikorita menyebutkan, terjadinya krisis air ini disebabkan oleh kencangnya laju perubahan iklim , yang dipicu oleh makin meningkatnya emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.
“Air adalah sumber daya penting yang menopang keberlanjutan kehidupan manusia dan planet ini, maka mengelolanya secara efisien, berkelanjutan serta berkeadilan untuk manusia dan alam adalah salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi di abad ini,” kata Dwikorita dalam World Water Congress ke-18 di Beijing, Rabu (13/9).
Menurut Dwikorita, seluruh dunia perlu memperhatikan masalah krisis air dan mencari solusinya untuk masa depan.
“Seluruh negara, harus ambil bagian dalam mengatasi masalah air dan menunjukkan pengakuan akan pentingnya air bagi pembangunan berkelanjutan serta kesejahteraan warga. Dengan memprioritaskan kebijakan dan program yang mempromosikan konservasi, perlindungan, dan pemanfaatan air secara keberlanjutan, Forum AIr Dunia ke-10 yang akan diselenggarakan berikutnya, harus menghasilkan tindakan dan hasil nyata,” imbuhnya.
BACA JUGA: Tahapan Renovasi Stadion Kanjuruhan Malang Dimulai
Persoalan air, kata Dwikorita, merupakan persoalan lintas sektoral yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan seperti pertanian, energi, kesehatan, lingkungan, dan ketahanan iklim. Pihaknya menilai, untuk mengatasi persoalan ini membutuhkan komitmen politik yang kuat.
Jika hal ini tidak teratasi, maka prediksi Organisasi Meteorologi Dunia (WMO – World Meteorological Organisation) serta Organisasi Pertanian Pangan Dunia (FAO – Food Agricultural Organisation) mengenai krisis pangan global di tahun 2050 bisa terjadi.
Dwikorita menambahkan, Kepala Negara memiliki peran penting dalam proses Forum Air Dunia. Mereka perlu menetapkan agenda dan memberikan kepemimpinan dalam mengatasi tantangan air dunia.
Lebih lanjut, Kepala Negara bertanggung jawab untuk memastikan bahwa air merupakan prioritas utama yang layak, sehingga kebijakan dan program yang dibuat harus menjamin terlaksananya pengelolaan sumber daya air secara efisien, berkelanjutan, adil dan merata.
“Secara keseluruhan, partisipasi Kepala Negara dalam World Water Forum sangat penting untuk membantu meningkatkan pentingnya pengelolaan dan akses air secara efisien dan merata sebagai prioritas global, dan dapat memfasilitasi kerja sama berkeadilan antar wilayah dan negara,” ungkap Dwikorita.
Selain itu, Dwikorita juga mengungkapkan pentingnya sains di bidang iklim dan layanan iklim terapan. Peran sains dinilai penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur sumberdaya air yang berketahanan, untuk menghadapi perubahan iklim yang makin melaju.
Dia menjelaskan, sains dan layanan iklim harus memiliki peran yang kuat, sebagai dasar pengambilan kebijakan terkait agenda perubahan iklim dan dasar dalam pengembangan infrastruktur yang berketahanan iklim dan berkelanjutan
“Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menjadi penyempurna berbagai upaya dan kebijakan mengenai adaptasi, mitigasi, ataupun upaya penanggulangan perubahan iklim,” pungkasnya. (nap)






