Malang (beritajatim.com) – Kesulitan memperoleh air bersih kini dirasakan warga Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Lebih dari 1.600 kepala keluarga ditempat itu, mengalami krisis air bersih ditengah musim kemarau tahun 2023 ini.
Kepala Desa Sumberoto, Budi Utomo menjelaskan, krisis air bersih saat ini terjadi di dua pedukuhan. “Krisis air bersih itu terjadi di separuh Dusun Kalisangkrah. Kemudian secara total di dua dusun yaitu dusun Panggung Waru dan dusun Sumberejo dengan jumlah sekitar 1600 warga,” tegas Budi Utomo, Senin (9/10/2023).
Menurut Budi, untuk dua pedukuhan yaitu Dusun Sumberoto dan Dusun Ngrendeng, sejauh ini persediaan air bersih masih terpenuhi. Meski demikian, lanjut Budi, untuk droping air saat ini baru dilakukan oleh Polres Malang dan beberapa yayasan dari Kota Malang.
Sedangkan untuk droping air dari BPBD dan Perum Tirta Kanjuruhan Kabupaten Malang, masih belum ada. “Meski tanpa surat permohonan droping air dari BPBD maupun dari Perum Tirta Kanjuruhan itu biasanya ada. Karena Desa Sumberoto sudah tercatat sebagai desa krisis air bersih saat musim kemarau,” tegas Budi.
Budi mengaku, di Desa Sumberoto pemerintah sudah membangun tiga titik sumur bor. Akan tetapi debit air masih kurang maksimal. Sehingga, volume pompa terlalu besar dan tidak sesuai dengan debit air yang tersedia.
Selanjutnya, Budi bersama Pemdes menggantinya dengan pompa kecil yang dapat dipergunakan oleh 10 hingga 15 orang. Budi bilang, dari pada dana Rp1 milyar untuk pembangunan satu titik pompa air, akan lebih baik dijadikan 10 titik dan bisa dinikmati oleh banyak orang.
Guna mengatasi krisis air bersih di Desa Sumberoto, Budi juga berharap pembangunan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang direalisasikan mulai dari Desa Segaran, Kecamatan Gedangan, tiga tahun lalu itu, bisa segera beroperasi di wilayah Kecamatan Donomulyo.
Terpisah, Dirut Perum Tirta Kanjuruhan, Syamsul Hadi beberapa waktu lalu menjelaskan, pembangunan proyek SPAM tersebut bakal dibagi menjadi dua titik yaitu barat dan timur. “Pembangunan SPAM ini ditujukan untuk mengentaskan masalah kekeringan yang marak terjadi di wilayah Malang Selatan. Nantinya pengerjaannya akan dibagi menjadi dua bagian, dan akan dilakukan secara bertahap,” beber Syamsul.
Dijelaskan Syamsul, wilayah rawan kekeringan di Malang Selatan ini meliputi Kecamatan Subermanjing Wetan, Gedangan, Bantur, Pagak, Donomulyo, dan Kalipare. Sedangkan pembangunan SPAM yang akan dibagi menjadi 2 bagian tersebut, pada SPAM titik barat akan dibangun di wilayah Sungai Lesti yang berlokasi di Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.
“Nantinya sumber air Sungai Lesti ini akan digunakan untuk memasok kebutuhan air di 4 wilayah. Yaitu di Kecamatan Bantur, Pagak, Donomulyo, dan Kalipare,” paparnya.
Untuk pembangunan SPAM di sisi timur, sambung Syamsul, akan memanfaatkan sumber yang ada di mata air Kaligoro, Desa Druju, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Syamsul menambahkan, jika dikalkulasikan mega proyek pembangunan SPAM di 2 titik ini diperkirakan akan menelan anggaran hingga nyaris Rp 400 miliar. ”Total untuk pembangunan SPAM di Malang Selatan seluruhnya itu, membutuhkan anggaran kurang lebih Rp 380 miliar,” pungkasnya. (yog/kun)
BACA JUGA: Bupati Malang Tak Tahu Ada Dugaan Korupsi Vaksin PMK






