Jember (beritajatim.com) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kabupaten Jember, Jawa Timur, memprakarsai acara ‘Banker’s Lunch’ yang mempertemukan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dengan kalangan perbankan.
Pertemuan dilaksanakan di kantor OJK Jember, Kamis (17/9/2026) sore, menyusul tingginya angka Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet di Situbondo yang mencapai 29,87 persen.
“Forum ini sengaja kita buat sebagai wadah silaturahmi, termasuk komunikasi dan koordinasi berbagai pihak agar dapat mendukung pengembangan ekonomi di Kabupaten Situbondo dan bisa mewujudkan visi Pak Bupati agar Situbondo naik kelas,” kata Kepala OJK Jember Aris Budiman.
Dalam kesempatan itu, menurut Aris, banyak hal yang dibicarakan dan disepakati untuk ditindaklanjuti ke depan, terutama soal buruknya NPL. “Kita akui secara angka, NPL-nya 29,87 persen untuk bank umum di Situbondo. Angka tersebut sebagian besar dipengaruhi kredit korporasi,” katanya.
\”Dampaknya ketika kita bicara NPL yang tinggi, ini akan ke persepsi investor. Saat ini Pak Bupati betul-betul ingin menarik investasi dari luar. Nah, kalau investor lihat angka NPL setinggi itu, Enggak mungkin (datang). Malah lari terbirit-birit,” kata Aris.
Kabar baiknya, jika portofolio kredit korporasi itu dikeluarkan, maka angka NPL di Situbondo hanya 5,04 persen. “Jadi kita bisa bayangkan seberapa signifikannya NPL kredit korporasi tersebut. Karena kalau kita bicara portofolio UMKM, NPL-nya juga enggak ada tinggii, masih sekitar 7,5 persen,” kata Aris.
Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo bersyukur dan berterima kasih terhadao inisiatif OJK Jember. “Mungkin ini baru pertama kali, pemerintah kabupaten diundang secara khusus dalam Banker’s Lunch,” katanya.
Rio mengaku merasa sangat terbantu dengan acara itu di tengah sejumlah kendala perekonomian yang dihadapinya. Dibandingkan sejumlah kabupaten tetangga, pertumbuhan ekonomi Situbondo paling rendah. Pada Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi Jember 6,35 persen, pertumbuhan ekonomi Banyuwangi 6,14 persen, pertumbuhan ekonomi Lumajang 5,89 persen, dan pertumbuhan ekonomi Situbondo 5,50 persen.
Satu-satunya kabupaten di kawasan Eks Karesidenan Besuki dan Lumajang (Sekarkijang) dengan pertumbuham ekonomi di bawah Situbondo hanya Bondowoso, yakni 5,42 persen.
Bupati Rio memahami rendahnya pertumbuhan itu tak lepas dari beberapa faktor. “Pertama, kendala banjir. Dengan portofolio yang lebih didominasi pertanian, perhutanan, perkebunan, maka itu menjadi kendala yang utama,” katanya.
Kedua, masalah tingginya kredit macet. “Beberapa langkah strategis sudah kami lakukan meskipun tidak bisa berubah. Tapi kalau kita exclude (kredit macet korporasi) itu tadi, performanya sekitar 5 persen, saya kira itu enggak ada masalah. Dan ini yang perlu diyakinkan kepada calon investor bahwa Situbondo masih sangat friendly untuk investasi,” kata Rio.
Forum itu membicarakan langkah-langkah agar NPL tersebut bisa turun bertahap dan komitmen Pemkab Situbondo untuk melaksanakan program pengembangan ekonomi ke depan. “Kita sudah bicarakan langkah-langkahnya, baik itu melalui restrukturisasi, likuiditas, likuidasi aset-aset yang menjadi kolateralnya, sampai dengan bagaimana mencari investor-investor yang akan mengambil alih bisnis korporasi tersebut,” kata Aris.
Pemkab Situbondo dan perbankan sudah sepakat meningkatkan komunikasi dan koordinasi. “Nanti akan ada forum untuk kita membahas dan menyusun langkah-langkah strategis untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” kata Aris.
Upaya Pemkab Situbondo ini membutuhkan dukungan sangar besar dan perbankan. OJK mendorong Pemkab Situbondo untuk memfasilitasi forum-forum komunikasi dan koordinasi tersebut. “Pastinya OJK selaku otoritas akan mendampingi, dan mengawal terus proses komunikasi dan proses koordinasi untuk mengarah ke sana,” kata Aris. [wir/but]






