Kediri (beritajatim.com) – Wakil Wali Kota Kediri, Qowimuddin, mendampingi Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi dalam pembukaan kegiatan Pekan Budaya dan Festival Musik yang berlangsung di Gedung Nasional Indonesia.
Kegiatan yang digelar selama dua hari ini menghadirkan berbagai bentuk kesenian tradisional, seperti Tari Jaranan, Tari Kethek Ogleng, pameran musik, festival musik, serta bazar UMKM.
Pada kesempatan itu, Gus Qowim, panggilan akrab Qowimuddin menyampaikan bahwa perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Indonesia kali ini mengangkat tema “Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.”
Tema tersebut mengingatkan kembali bahwa persatuan adalah kunci utama dalam membangun kedaulatan bangsa, mewujudkan kesejahteraan rakyat, serta mencapai cita-cita Indonesia Emas.
“Pekan Budaya dan Festival Musik ini menjadi cara bagi Kota Kediri untuk ikut serta dalam merayakan semangat kemerdekaan. Budaya dan musik tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media yang memperkuat identitas, menumbuhkan kreativitas, serta menyatukan masyarakat dalam melodi, tarian, dan karya seni yang indah,” ujarnya.
Qowimuddin juga menekankan bahwa pemilihan Kediri sebagai lokasi penyelenggaraan acara ini bukanlah kebetulan. Kediri telah berhasil menunjukkan jati dirinya sebagai kota budaya yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memberikan ruang bagi kreativitas, inklusivitas, dan keberagaman. Event ini menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Ke-1.146 Kota Kediri dengan tema “Kolaborasi Menuju Kota Kediri MAPAN.”
Dalam sambutannya, ia berharap event ini dapat memperkuat daya tarik wisata budaya yang pada gilirannya dapat menggerakkan perekonomian daerah, terutama bagi UMKM, seniman, dan pelaku industri kreatif. “Ini semua adalah wujud nyata komitmen untuk menjadikan Kediri sebagai kota yang produktif dan ngangeni,” tambahnya.
Kegiatan ini juga mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga budaya lokal di tengah arus globalisasi. Isu kepunahan bahasa daerah dan klaim kekayaan intelektual oleh pihak asing menjadi tantangan yang serius.
Oleh karena itu, Pemkot Kediri bersama Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk membantu seniman, musisi, serta pelaku UMKM dalam melindungi karya-karya mereka, baik secara hukum maupun secara budaya.
Staf Khusus Menteri Kebudayaan, B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi, menyatakan bahwa penyelenggaraan Pekan Budaya dan Festival Musik 2025 ini adalah hasil dari sinergi antara Kopi Hitam dan Dewan Kesenian Daerah Kota Kediri.
Forum ini menjadi wadah yang efektif untuk menginspirasi masyarakat dan melestarikan semangat budaya. “Melalui acara ini, kami ingin menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan budaya yang telah diturunkan oleh leluhur kita,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan, melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, telah mengimplementasikan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dan Belajar Bersama Maestro (BBM) untuk menghubungkan dunia seni dengan dunia pendidikan.
Program ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai budaya pada generasi muda, memastikan bahwa warisan budaya tetap hidup di tengah masyarakat.
Acara ini juga menampilkan penampilan yang luar biasa, seperti Grup Vokal Kharisma yang beranggotakan anak-anak disabilitas, tari tradisional, serta fashion show batik. Di hadapan para tamu undangan, seperti Fauzi Baadila dari PT. Pos Indonesia, perwakilan PASKARA Fattahilah Hutagalung, serta sejumlah pejabat lainnya, acara ini menjadi bukti bahwa Kota Kediri tetap menjaga semangat kebudayaan yang kaya dan bersejarah. [nm/suf]






