Probolinggo (beritajatim.com) – Malam itu, Paseban Kota Probolinggo tak sekadar menjadi panggung seremoni. Ia menjelma simbol perubahan. Pemerintah Kota Probolinggo resmi meluncurkan city branding “Probolinggo Kota Bersolek”, bertepatan dengan satu tahun kepemimpinan Wali Kota dr. Aminuddin dan Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari , Selasa (31/3/2026).
Peluncuran ini bukan sekadar pelengkap agenda. Ia adalah penegasan arah bahwa Probolinggo tengah berbenah, mempercantik diri dari dalam, lewat program yang menyentuh lingkungan, kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi masyarakat.
Di hadapan Forkopimda dan ratusan undangan, dr. Aminuddin menegaskan bahwa “Bersolek” bukan slogan kosong. Ia adalah akronim dari Bersih, Sehat, Edukasi, dan Kreativitas empat pilar yang kini menjadi napas pembangunan kota.
“Ini bukan sekadar nama. Ini adalah semangat yang sejak awal kami tanamkan. Satu tahun berjalan, hasilnya mulai terlihat,” tegasnya.
Hasil itu tak main-main. Sepanjang 2025, Kota Probolinggo mengoleksi 53 penghargaan dari tingkat provinsi hingga nasional. Mulai dari Adipura, Kota Sehat, hingga pengakuan atas inovasi digital pemerintahan.
Namun, yang paling membanggakan adalah Adipura—penghargaan yang diraih melalui proses penilaian senyap, tanpa pemberitahuan. Dari 518 kabupaten/kota di Indonesia, Probolinggo masuk dalam 34 terbaik.
“Kami tidak pernah tahu kapan dinilai. Tapi karena kami konsisten, hasilnya mengikuti,” ujar dr. Aminuddin.
Perubahan nyata juga tampak di sungai-sungai kota. Konsentrasi sampah plastik turun drastis lebih dari 50 persen dari 1,8 ppm menjadi 0,46 ppm. Kolaborasi lintas OPD pun berbuah manis di sektor kesehatan.
Angka kematian ibu hamil yang sebelumnya delapan kasus, kini ditekan menjadi dua kasus sepanjang 2025. Sementara upaya pencegahan penyakit diperkuat lewat gerakan larvasisasi dan penanaman lavender untuk melawan nyamuk aedes aegypti.
Di sektor ekonomi, grafik pertumbuhan ikut menanjak. Angka 5,85 persen yang dicapai pada November 2025 menjadi yang tertinggi di Jawa Timur. Meski terkoreksi menjadi 5,65 persen, Probolinggo tetap bertahan di papan atas. Disusul penurunan gini rasio yang menandakan kesenjangan mulai menyempit.
Selama lima hari, sejak 27 hingga 31 Maret, rangkaian peringatan digelar dengan pendekatan yang tak biasa. Perangkat daerah turun langsung ke lapangan, menunjukkan kinerja nyata kepada masyarakat. Di dunia digital, capaian itu digaungkan lewat tagar #KerjaNyataMenataKota.
Puncaknya, malam itu ditutup dengan penayangan video pembangunan dan pemasangan stiker “One Kinerja”—sebuah simbol sederhana dari kerja kolektif selama setahun.
Namun, dr. Aminuddin menegaskan, ini baru permulaan.
Target berikutnya adalah meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari 78,5 menjadi 80 di tahun 2026. Kunci utamanya: pendidikan.
Program wajib belajar 13 tahun, beasiswa untuk putra daerah, hingga penarikan kembali anak putus sekolah menjadi fokus utama.
Sejumlah program strategis juga tengah dipacu. Mulai dari pembangunan Sekolah Rakyat, koperasi merah putih di 29 kelurahan yang menjadikan Probolinggo sebagai kota pertama dengan cakupan penuh—hingga rencana pengoperasian kereta komuter Probolinggo–Surabaya.
Tak berhenti di situ, potensi ekonomi lokal pun mulai diolah serius. Lahan tidur disiapkan untuk perkebunan pisang cavendish, sementara peternakan burung puyuh di Kademangan dijadwalkan segera diluncurkan.
Di ujung acara, dr. Aminuddin menutup dengan pesan yang sederhana namun kuat—bahwa perubahan kota bukan hanya urusan pemerintah.
“Kota ini milik kita bersama. Kalau ingin maju, semua harus ikut bergerak. Jaga kebersihan, rawat budaya, dan dorong ekonomi rakyat,” pungkasnya.
Malam itu, “Kota Bersolek” bukan hanya diluncurkan. Ia dinyatakan hidup—dan siap membawa Probolinggo melangkah lebih jauh.(ADV)






