Surabaya (beritajatim.com) – Satu korban meninggal dunia di bawah runtuhan bangunan tiga lantai dan musala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo ditemukan dalam posisi sujud, Rabu (1/1/2025).
Korban dalam posisi sujud itu belum diketahui identitasnya. Ia ditemukan dan evakuasi oleh Tim SAR Gabungan sekitar pukul 14.22 WIB, tepat berdekatan dengan korban ditemukan selamat, Syehlendra Haical R. A. (13 tahun).
Direktur Operasi Pencarian dan Pertolongan Basarnas RI, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo, selaku SAR Mission Coordinator (SMC) mengatakan bahwa korban tersebut ditemukan di sektor reruntuhan bangunan A1.
“Korban sujud itu kan yang tadi (ditemukan siang). Iya, itu yang (statusnya) hitam (meninggal dunia) yang sebelahan sama Haical,” kata Bramantyo, Rabu (1/10/2025) malam.
Menurut Bramantyo, korban yang dalam posisi sujud itu ditemukan tanpa sengaja oleh petugas yang sedang mengikuti jalur evakuasi aman. Ketika itu petugas akan melakukan proses evakuasi terhadap korban bernama Haical.

“Kita kan tadinya mau mengambil (Haical) itu. Karena tidak mau langsung ke Haical, tidak bisa (jalurnya dilewati) harus lewat situ, akhirnya kita tarik (temukan korban sujud) yang itu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, temuan korban sujud ini merupakan pembuka bagi petugas. Korban sujud tersebut adalah yang pertama ditemukan pada pencarian hari ketiga dan tercatat sebagai korban ke-12, yang kemudian disusul oleh korban-korban lain, hingga total korban ke-18 ditemukan pada pukul 20.22 WIB.
“Berantai, kita kebut juga (pencarian). Akhirnya pada pukul 20.22 korban ke-18 berhasil kita evakuasi atas nama (inisial) RSI dalam kondisi selamat,” kata Bramantyo.
Pada pencarian hari ketiga, Bramantyo menambahkan, sejak Rabu pagi petugas telah berhasil mengevakuasi sebanyak tujuh korban dengan rincian dua di antaranya meninggal dunia dan dua selamat.
Proses pencarian korban petugas melakukan strategi manuver dengan membuat tunnel atau parit di dasar tanah, dengan bantuan berbagai alat dan juga perlengkapan. Tim SAR Gabungan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Kita buka tunnel (parit) yang ke kanan itu. Beton kita potong teralis besinya biar terbuka agak lebar. Dan, tapi ya, kita bersyukurnya kondisi yang siang sampai malam ini dia (korban selamat) lebih fit lah, lebih bugar,” ucapnya.
Seperti diketahui, runtuhnya gedung tiga lantai termasuk musala di asrama putra Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, itu terjadi pada Senin (29/9/2025) sore.
Saat kejadian, diketahui ada ratusan santri yang sedang menunaikan salat Ashar berjemaah di gedung yang masih dalam tahap pembangunan tersebut.
Berdasarkan temuan dan data sementara Kantor SAR Surabaya hingga Rabu (1/10/2025) malam, terdapat 102 orang santri yang menjadi korban dalam peristiwa musibah ini. Dari jumlah itu, 18 orang telah dilakukan evakuasi dan lima di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Serta diperkirakan masih ada puluhan korban terjebak di puing reruntuhan. (rma/but)






