Surabaya (beritajatim.com) – Korban pencabulan polisi Surabaya terancam tidak bisa melanjutkan sekolah. Hal itu lantaran ibu korban mengatakan tidak punya biaya karena selama ini yang menopang hidup adalah tersangka berinisial K (53).
“Saya sudah dibilangin ibu nggak bisa sekolah ke depannya karena nggak ada biaya. Karena selama ini yang biayain bapak tiri saya,” kata korban ketika ditemui Beritajatim.com, Selasa (23/04/2024).
Korban yang saat ini tengah menjalani Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) lantaran sudah duduk di bangku kelas 9 SMP pun khawatir dirinya tidak bisa lanjut sekolah. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi neneknya yang juga di bawah rata-rata. Korban serta neneknya sekarang tinggal di kampung padat penduduk di Krembangan. Sangking padatnya, akses ke rumah tempat korban tinggal sekarang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.
“Saya sekarang cuma ingin melanjutkan sekolah. Saya mau sekolah aja,” kata korban dengan tatapan kosong sembari memegangi jepit rambut yang dipakai.
Sementara itu, nenek korban berinisial NH juga mengatakan dengan kondisi ekonomi yang di bawah rata-rata dirinya juga tidak sanggup untuk menyekolahkan korban. Pekerjaannya sebagai serabutan belum bisa mencukupi untuk menghidupkan api di dapur.
“Saya khawatir, untuk memulihkan kondisi mentalnya saja kami berusaha sendiri. Tidak ada pendampingan dari Pemkot Surabaya ataupun psikologi,” tutur NH.
NH mengatakan kasusnya sempat mandek selama 2 minggu di Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Bahkan, ia mengaku sempat dipertemukan dengan tersangka. Saat ketemu, tersangka yang juga anggota Polsek Sawahan Polrestabes Surabaya itu meminta maaf dan meminta agar laporannya dicabut.
“Saya kan sakit hati, tersangka masih bisa seliweran di dekat rumah saya sedangkan cucu saya ketakutan dan trauma. Akhirnya saya undang wartawan itu supaya diangkat,” imbuh NH.
Kini, NH berharap agar tersangka dihukum seberat-beratnya. Ia hanya bisa melakukan pendampingan mandiri kepada korban agar mentalnya pulih. Urusan pendidikan, NH menegaskan dirinya akan mengusahakan yang terbaik dan siap bekerja lebih keras dari biasanya.
“Karena saya mendengar sendiri kalau ibu korban bilang sudah tidak ada pak K (53) jadi tidak bisa menyekolahkan,” pungkas NH. (ang/ian)






