Banyuwangi (beritajatim.com) – Sebanyak 1143 dari 363 Kepala Keluarga korban banjir bandang, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi menolak untuk relokasi. Mereka memilih bertahan pasca di rumah pasca banjir bandang terjadi.
Padahal, dari jumlah itu sebanyak 35 rumah warga rusak parah dan hilang tergerus banjir. Mereka juga enggan mengungsi ke tempat pengungsian yang telah disiapkan oleh Pemerintah Banyuwangi.
Warga memilih mengungsi ke tempat saudara atau tetangga setempat yang dirasa aman.
“Nggak, kalau relokasi malah repot nanti, rumit. Sementara bertahan di sini,” ungkap Mukhlis, Warga Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru.
Mukhlis justru meminta kepada pemerintah setempat memikirkan adanya resapan air yang lebih baik. Sehingga tidak terjadi banjir bandang terulang kembali.
“Ya, harusnya pemerintah itu segera berfikir bagaimana agar tidak terjadi banjir lagi, seperti melihat resapannya,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”banjir-banyuwangi”]
Sejumlah warga menyebut, banjir bandang yang terjadi kemarin bukan semata adanya hujan lebat.
Tetapi, adanya alih fungsi lahan yang ada di perkebunan di atas dari tanaman kopi dan cokelat ke tanaman tebu.
“Itu kiriman dari atas, soalnya kalau hujan saja nggak pernah seperti ini. Tapi memang kemarin hujannya deras sekali,” ujarnya.
Banjir bandang yang melanda Banyuwangi ini berdampak ke enam desa di Kecamatan Kalibaru.
Di antaranya, Desa Kalibaru Wetan, Kajarharjo, Kalibaru Kulon, Kalibaru Manis, Kebunrejo, dan Banyuanyar. [rin/but]






