Magetan (beritajatim.com) – Potensi kopi di Kabupaten Magetan terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satu pedagang kopi di Pasar Sayur Magetan, Aprei Kurniawan, menyebutkan bahwa harga kopi dari berbagai jenis tetap stabil meskipun stok melimpah usai masa panen dari sejumlah daerah di sekitar Magetan.
Harga kopi jenis arabika saat ini dipatok Rp230 ribu per kilogram, robusta Rp160 ribu, liberika dan excelsa masing-masing Rp210 ribu. Sementara itu, kopi asalan berada di harga Rp125 ribu per kilogram.
“Sebelum panen, harga kopi asalan yang belum matang bisa Rp70 ribu, sedangkan yang sudah di-roast bisa sampai Rp130 ribu,” ujar Aprei saat ditemui di lapaknya.
Ia mengungkapkan bahwa kopi dari Magetan tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga mulai diminati oleh pembeli dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, hingga Kalimantan. Namun, Aprei juga mengingatkan akan potensi punahnya kopi lokal jika ekosistem alam tidak dijaga dengan baik.
“Kopi itu butuh hawa dingin dan sinar matahari yang terfilter. Kalau tidak ada pohon peneduh, pertumbuhannya terganggu. Banyak tanaman kopi yang tidak tumbuh optimal karena kekurangan air dan tidak ada naungan,” jelasnya.
Di wilayah Jabung, Kecamatan Panekan, sekitar 40 hektare lahan menjadi tempat budidaya kopi, meskipun tidak seluruhnya khusus ditanami kopi. Sebagian besar sistem tanam yang diterapkan adalah tumpangsari. Tahun ini, Aprei dan kelompoknya telah mengajukan proposal pengadaan bibit untuk memperluas lahan kopi di Magetan.
Ia optimistis bahwa produktivitas kopi Magetan bisa meningkat signifikan dalam lima tahun ke depan. “Di Jabung, dari keseluruhan panen tahun ini bisa mencapai 3 sampai 5 ton. Tapi masa panen sudah hampir selesai,” ujarnya.
Meski demikian, edukasi kepada petani terus digencarkan, terutama mengenai teknik panen yang benar. Aprei menjelaskan bahwa belum semua petani melakukan metode petik merah – yakni panen saat biji kopi matang sempurna – yang berdampak langsung pada kualitas dan harga jual kopi.
“Hasil petik merah kelihatan dari warnanya yang seragam. Kalau masih ada yang hijau, bijinya belang dan harganya bisa turun. Kami terus edukasi agar petani paham pentingnya panen yang tepat,” jelasnya.
Aprei juga menekankan bahwa kopi bukan sekadar komoditas, tetapi telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Oleh karena itu, menjaga kelestarian hutan dan keseimbangan alam menjadi kunci utama agar tanaman kopi tidak punah.
“Kalau hutannya rusak, kopi bisa hilang. Tapi selama kita rawat alamnya, kopi akan tetap ada. Petani juga umumnya pakai pupuk kandang, karena kebanyakan dari mereka juga beternak. Hanya saja, pasca panennya yang masih perlu pembinaan lebih lanjut,” tambahnya.
Dengan mulai banyaknya pihak yang melirik sektor kopi, termasuk pemerintah daerah, Aprei berharap kopi Magetan bisa bersaing secara kuat di pasar nasional. Ia pun percaya bahwa dengan perawatan yang tepat dan dukungan berkelanjutan, kopi dari lereng Lawu ini bisa menjadi salah satu komoditas unggulan dari Kabupaten Magetan. [fiq/beq]






