Bondowoso (beritajatim.com) — Di tengah hawa sejuk Desa Rejoagung, Kecamatan Sumberwringin, aroma kopi menyeruak tajam ke udara. Sabtu (1/11/2025) menjadi penanda babak baru bagi petani kopi Bondowoso.
Dari desa kecil di kaki Ijen Raung inilah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara resmi melepas ekspor specialty coffee Arabika Java Ijen Raung ke Taiwan.
Momentum ini bukan sekadar seremoni pengiriman 10 ton biji kopi. Ia adalah simbol kemenangan kerja panjang: dari tangan petani hingga komitmen pemerintah daerah menjaga mutu dan nama baik “Bondowoso Republik Kopi (BRK)”.
Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menyebut ekspor kali ini sebagai bukti nyata hasil kerja kolektif lintas pihak.
“Ini bukan hanya keberhasilan ekspor, tapi bukti nyata bahwa kerja keras, kolaborasi, dan komitmen petani, pelaku usaha, koperasi, akademisi, hingga pemerintah telah membuahkan hasil,” ujarnya dalam sambutannya.
Bondowoso bukan pemain baru dalam peta kopi nasional. Dengan luas areal kopi mencapai 18.885 hektare, terdiri dari 12.332 hektare arabika dan 6.552 hektare robusta, kabupaten di timur Pulau Jawa ini telah lama dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas tinggi. Total produksinya mencapai 8.439 ton per tahun.
Namun, yang membuat ekspor kali ini istimewa adalah label “specialty” — kasta tertinggi dalam dunia kopi.
Kopi jenis ini memiliki cita rasa unik, nilai jual tinggi, dan diakui dunia melalui sertifikat Indikasi Geografis (IG) Java Ijen Raung.
Direktur Wijaya Coffee, Gianto Wijaya, sang eksportir, menjelaskan proses panjang di balik keberhasilan ini.
“Di dunia, penilaian kopi itu ketat. Skor di atas 80 sudah masuk kategori specialty. Hasil tes kopi Bondowoso di Taiwan mencapai 86,2, ini luar biasa,” jelasnya.
Proses menuju nilai itu tidak sederhana. Kopi dipetik hanya saat biji benar-benar merah matang, disortir hingga enam kali, direndam, difermentasi, dan dipilih lagi. “Kalau mengambang, dibuang. Hanya yang tenggelam yang diambil,” katanya.
Tahapan panjang inilah yang melahirkan kualitas tinggi dan membuka peluang ekspor baru. Gianto menyebut permintaan sudah datang dari Cina, Jepang, Korea, Taiwan, hingga Amerika Serikat. “Mereka antre semua, asal kita bisa jaga kualitas seperti ini,” tambahnya.
Bagi Gubernur Khofifah Indar Parawansa, ekspor kali ini bukan sekadar capaian ekonomi, tapi juga tonggak kesejahteraan petani.
“Diversifikasi pasar itu penting. Tapi yang lebih penting, ini bukti bahwa kualitas kopi Bondowoso luar biasa. Jenis specialty Arabika Java Ijen Raung ini high quality dan bisa dihasilkan oleh pekebun lokal,” ujarnya.
Khofifah menekankan pentingnya keseimbangan antara kualitas dan produktivitas. “Kalau dua-duanya berjalan, kesejahteraan masyarakat pekebun kopi akan meningkat luar biasa,” katanya.
Di tengah geliat pasar global, ada kebanggaan kultural yang ingin dikembalikan. Ketua DPRD Bondowoso Ahmad Dhafir menegaskan semangat “Bondowoso Republik Kopi” yang dulu digagas Bupati Amin Said Husni harus dibangkitkan lagi.
“Kita ingin BRK ini hidup kembali. Kopi ini murni dari Bondowoso. Jangan ada kopi luar yang menempel nama kita,” katanya tegas.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas bisnis. “Bisnis harus tetap bisnis. Jangan dicampur dengan urusan politik dan sosial,” ujarnya—menyinggung upaya membangun model baru pasca mandeknya perusahaan daerah PT Bondowoso Gemilang (Bogem). (awi/ian)






