Malang (beritajatim.com) – Kasus ujaran Gus Miftah yang viral setelah menyebut penjual es teh dengan kata goblog memicu diskusi luas. Miftah pun mendapat kecaman dari masyarakat atas ujarannya tersebut.
Prof. Dr. Anang Santoso , M.Pd, Guru Besar analisis wacana kritis Universitas Negeri Malang (UM) turut menyoroti dampak ujaran ini dari perspektif kebahasaan dan prinsip kesantunan. Prof. Anang menjelaskan, kata goblog dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti bodoh sekali.
Meskipun dalam situasi tertentu bisa dianggap biasa, kata ini memiliki dampak berbeda ketika digunakan di ruang publik āJika kata ini diucapkan di depan umum untuk merendahkan orang lain, maknanya berubah menjadi penghinaan. Apalagi, korban adalah seorang penjual es teh yang posisinya jauh lebih lemah dibandingkan Gus Miftah sebagai tokoh publik,ā ujar saat diwawancarai pada Kamis (5/12/2024).
Menurut penulis buku Studi Bahasa Kritis: Menguak Bahasa Membongkar Makna ini, kata kasar semacam itu jika digunakan dalam lingkungan tertutup dengan teman dekat dapat memiliki makna yang lebih santai. Namun, dalam konteks ini, dampaknya sangat negatif.
Prof. Anang menambahkan, kasus ini tidak hanya soal ujaran pribadi, tetapi juga mencerminkan ketimpangan kuasa. āApa yang semula hanya ucapan kepada individu menjadi representasi hubungan antara kelompok berkuasa dan kelompok terpinggirkan. Ini melibatkan dinamika antara kelas atas dan kelas bawah,ā jelasnya.
Ujaran tersebut, menurutnya, memperlebar jurang sosial dan merusak hubungan antara kelompok. Komunikasi publik, kata Prof. Anang, harus mematuhi prinsip kesantunan. Prinsip ini menekankan penghormatan kepada orang lain dan kerendahan hati. Ketidakpatuhan terhadap prinsip ini dapat menyebabkan dampak negatif yang meluas.
āKomunikasi yang tidak santun, apalagi oleh tokoh publik, dapat merusak reputasi dan menciptakan ketidaknyamanan di masyarakat. Gus Miftah seharusnya lebih bijaksana dalam memilih kata,ā tambahnya.
āhormati orang lain, rendahkan diri sendiri; tinggikan orang lain, rendahkan diri sendiri, puji orang lain, cela diri sendiri; untungkan orang lain, rugikan diri sendiri. Ini hukum universal, baik bangsa barat maupun bangsa timur. Rata-rata semua suku di Indonesia mengajarkan prinsip ini,ā ungkap Dosen Linguistik di UM ini.
Jika prinsip di atas itu diterapkan dengan bijak maka selamatlah aktivitas komunikasi. Menurutnya Guru Besar Departemen Sastra Indonesia UM ini banyak contoh ketika seorang pemimpin yang memandang rendah kepada daerah tertentu berakibat ketidaknyamanan hubungan antara pemimpin dengan daerah yang direndahkan.
Meski Gus Miftah telah meminta maaf, Prof. Anang menilai hal tersebut belum sepenuhnya cukup. āPermintaan maaf mungkin mudah disampaikan, tetapi luka yang ditinggalkan oleh ujaran seperti ini sulit dihapus. Penjual es teh yang dilecehkan mewakili kelompok masyarakat yang sering kali menjadi korban ketidakadilan,ā tegasnya.
Gus Miftah adalah representasi āorang yang berkuasaā, āorang yang menangā, āorang yang menentukan nasib orang lainā. Apalagi pihak yang berkuasa rekam jejak yang tidak pro-rakyat, tidak konsisten, tidak menyatunya antara ucapan dan perilaku, peristiwa yang seperti ini akan mudah tersulut.
āApa yang viral di Youtube, misalnya, memunculkan bahwa mereka-mereka adalah representasi dari korban sebagai orang yang kalah. Kapan pun apabila ada kejadian serupa akan mudah menjadi viral,ā jelasnya Prof Anang.
Ia menekankan bahwa kejadian seperti ini akan terus diingat, terutama karena korban berasal dari kelompok yang lebih lemah. Di era digital, ujaran tokoh publik dapat dengan mudah menjadi sorotan.
Menurut Prof. Anang, tokoh publik harus berhati-hati karena era informasi memungkinkan masyarakat biasa mendapatkan akses luas untuk menyuarakan pendapat mereka. āEra ini adalah kemenangan bagi masyarakat biasa. Setiap kesalahan tokoh publik bisa menjadi viral dan menimbulkan dampak besar,ā ujarnya.
Prof. Anang menegaskan, tokoh publik harus selalu mengedepankan adab. Dalam tradisi pesantren, adab diajarkan sebagai fondasi sebelum ilmu.
Memang tidak mudah menjadi seorang tokoh publik (penceramah, pejabat, tokoh masyarakat, ketua partai politik). Terdapat dua hal yang harus dipahami ketika seseorang menjadi tokoh publik.
Pertama, kata Prof Anang, harus ada adab dalam setiap tindakannya. Adab itu berupa kehalusan dan kebaikan budi pekerti seperti kesopanan dan akhlak.
āOrang-orang-orang yang lahir dari tradisi pesantren Indonesia tentu belajar Taālimul Mutaāallim, pentingnya adab sebelum ilmu. Siapa pun, apalagi tokoh publik, harus mementingkan adab di atas ilmu,ā terang Prof Anang.
Kedua, saat ini adalah era informasi yang ciri utamanya adalah kemenangan orang biasa. Orang biasa adalah sekelompok orang/komunitas/masyarakat yang sulit mengakses ketika informasi didominasi media yang dianggap resmi (misalnya TV nasional).
āKemajuan TIK memberikan peluang siapa pun dari kita punya akses ruang publik. Inilah kesempatan bagi orang biasa untuk ikut berdiskusi di ruang publik. Maka berhati-hatilah menjadi tokoh publik,ā tegas Prof Anang menutup keterangan kepada beritajatim.com. (dan/kun)







7 Komentar
“Adab mendahului ilmu”
Ulasan yang mencerahkan. Terima kasih Prof. Dr. Anang Santoso š
Kerenn Prof. Anangš„š„
Nenek moyang kita mempunyai prinsip kesantunan perlu diuri-uri: ajining diri dumunung ing lathi. Kalau individu, apalagi tokoh publik meresapinya, tentu ujaran yg menghina tukang jual es tidak akan terjadi.
Ta’limul Muta’allim… Saya juga selalu diingatkan oleh orangtua dan para guru saya baik secara langsung maupun tidak langsung mengenai betapa pentingnya adab sebelum ilmu itu diterapkan dalam hal apapun di dunia ini. Terimakasih sudah diingatkan kembali, Prof. Anangššø: dosen, mentor, serta guru saya sejak S1 hingga S3 dalam bidang linguistik. Semoga Allah terus memberikan keberkahan dalam hidup Prof. Anang dan sekeluarga. Aamiin YRA…
Benar sekali, setiap ujaran yang kita sampaikan pasti memiliki pengaruh. Pernyataan yang disampaikan oleh Gus Miftah tergolong sebagai tuturan deklaratif yang secara langsung menyebutkan bahwa bapak penjual es teh tersebut dianggap “go**ok.ā Hal itu jelas bersifat mengolok-olok, terutama jika diucapkan di depan khalayak ramai. Oleh karena itu, pentingnya mendahulukan adab di atas ilmu.
Terima kasih, Prof. Anang. Semoga panjenengan beserta keluarga senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah SWT. Amiin
Benar sekali, setiap ujaran yang kita sampaikan pasti memiliki pengaruh. Pernyataan yang disampaikan oleh Gus Miftah tergolong sebagai tuturan deklaratif yang secara langsung menyebutkan bahwa bapak penjual es teh tersebut dianggap “go**ok.ā Hal itu jelas bersifat mengolok-olok, terutama jika diucapkan di depan khalayak ramai. Oleh karena itu, pentingnya mendahulukan adab di atas ilmu.
Terima kasih, Prof. Anang. Semoga panjenengan beserta keluarga senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah SWT. Amiin
š„¹