Surabaya (beritajatim.com) Salah satu media online yang banyak digunakan beberapa orang adalah YouTube. Sebuah peraturan baru yang dilakukan Youtube dengan mengambil langkah tegas terhadap peredaran konten anti-vaksin pada platformnya. YouTube mengumumkan mengenai peraturan dalam memblokir seluruh konten anti-vaksin dan video lain yang memuat misinformasi tentang vaksin secara umum.
Sudah sejak tahun lalu, YouTube menciptakan aturan dalam mencegah peredaran konten berisi misinformasi mengenai vaksin. Selain itu, YouTube mengklaim telah menghapus 130.000 video dengan muatan itu. Namun, konten yang mengandung misinformasi tentang vaksin masih bermunculan. Bukan hanya itu, YouTube bertindak lebih tegas dengan menghapus konten yang secara keliru jika vaksin disetujui berbahaya bahkan menyebabkan masalah kesehatan kronis.
YouTube menyampaikan kalau tindakan ini diambil karena melihat misinformasi tentang vaksin semakin berkembang bahkan di klaim palsu. Namun, ketika dihubungkan secara mendalam, konten yang diblokir bukan hanya mengenai Covid-19. Bukan hanya itu, konten anti-vaksin lain yang menuduh vaksin menyebabkan efek kesehatan kronis sehingga memberikan informasi yang salah mengenai zat dalam vaksin.
Konflik Yang Terjadi Ketika Proses Perampingan
Sedangkan untuk aktivis anti-vaksin terkemuka diantaranya Robert F Kennedy Jr dan Joseph Mercola. Surat kabar yang didapatkan dari Vice President Global Trust and Safety YouTube Matt Halprin sempat memberikan perasaan terlalu nyaman dengan konten palsu. Selain itu, ada langkah lain yang didapatkan oleh YouTube dan raksasa media sosial lainnya, seperti Facebook dan Twitter, mendapat kritik cukup keras.
YouTube dan media sosial raksasa memiliki kritik karena tidak berbuat cukup banyak untuk menghentikan penyebaran informasi palsu mengenai kesehatan di platform mereka. Bahkan, saat mengambil sikap yang lebih keras terhadap misinformasi, YouTube menghadapi reaksi keras. Salah satu kanal media RT berbahasa Jerman, yang didukung negara Rusia, dihapus dari YouTube.
YouTube menyampaikan jika alasan kanal itu dihapus karena telah melanggar kebijakan misinformasi mengenai Covid-19. Namun, Rusia tak terima dengan penghapusan kanal. Moskwa lantas menuding langkah sebagai “agresi informasi” sehingga belum pernah terjadi sebelumnya bahkan mengancam akan memblokir YouTube. [prd/esd]






