Surabaya – Konsumsi Sopi sudah bukan lagi budaya melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Sopi adalah sebutan untuk minuman keras atau minuman beralkohol dalam bahasa Manggarai. Sejak dahulu, Sopi telah menjadi minuman yang selalu ada dalam setiap upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Manggarai, Flores.
Bagi beberapa mahasiswa asal NTT, Sopi menjadi lebih dari sekedar minuman khas budaya. Hal tersebut diungkapkan oleh Brili Jerdam, mahasiswa asal Manggarai Timur.
“Sejak kecil saya selalu liat saya punya keluarga minum Sopi. Setiap kali ada acara adat. Bahkan kalau tidak ada acara sekalipun. Misalnya saat melepas lelah setelah kerja sepanjang hari, malamnya ada kumpul bersama terus minum Sopi. Akhirnya saya juga ikut mengonsumsi, apalagi saya laki-laki. Sampe sekarang saya masih minum, saat ada waktu luang. Satu minggu bisa tiga hingga empat kali” ungkap Brili.
Qresna Pradana, mahasiswa asal Ruteng, Manggarai juga mengungkapkan hal yang sama.
“Konsumsi minuman keras seperti Sopi kadang kontroversial. Kami bilang itu budaya kami tapi orang lain berpendapat kalau itu adalah perilaku buruk. Saya sendiri sering minum. Kalau saya tengah malam tidak bisa tidur, saya minum biar enteng. Saya juga sering minum dengan teman-teman. Itu menjadi kebiasaan kami. Kami kalau minum selalu mampu mengontrol diri atau setidaknya saling mengontrol. Tidak bikin gaduh. Benar-benar hanya ingin mengonsumsi salah satu minuman khas budaya kami saja” tutur Qresna.
Chiko, mahasiswa lainnya asal Ruteng, Manggarai mengungkapkan bahwa konsumsi Sopi telah menjadi bagian dari gaya hidupnya. Konsumsi Sopi telah mempererat hubungannya dengan mahasiswa lain yang juga berasal dari daerahnya.
“Awalnya minum karena sering ikut dalam acara-acara adat. Saya sering menggantikan kehadiran orang tua dalam acara-acara tertentu. Nah dari situlah mulai minum sampe sekarang. Kalau sekarang minum menjadi cara menghabiskan waktu luang. Saat kunjung ke kos teman atau sebaliknya. Apalagi kalo awal bulan. Kadang juga minum sendiri pas tidak ada kegiatan. Sudah jadi semacam gaya hidup. Apalagi minum bisa mempererat hubungan dengan sesama saudara dari Manggarai” ungkap Chiko.
Perilaku konsumsi minuman keras seperti Sopi sebagaimana yang dipraktikan oleh mahasiswa asal Manggarai, Flores, NTT menunjukkan bagaimana budaya menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat mempengaruhi gaya hidup. (ted)
Penulis: Aprianus Defal Deriano Bagung
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya






