Malang (beritajatim.com) – Universitas Negeri Malang (UM) menaruh perhatian serius pada isu kesehatan mental mahasiswa. Melalui Pusat Bimbingan Konseling, Karir, dan Kewirausahaan (PBK3), UM resmi meluncurkan layanan konseling gratis.
Tak hanya itu, UM juga memiliki program pelatihan karakter yang dirancang untuk mendukung kesejahteraan psikologis dan kesiapan karier mahasiswa. Program ini menjadi langkah nyata UM dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat, suportif, dan berorientasi pada pengembangan potensi diri mahasiswa.
Layanan konseling ini terbuka untuk seluruh mahasiswa UM yang ingin mendapatkan pendampingan terkait masalah pribadi, sosial, akademik, hingga perencanaan karier dan wirausaha.
“Target kami tahun ini adalah memperluas layanan psikotes dan pelatihan yang berfokus pada kesehatan mental,” ujar Hetti Rachmawati, Kepala PBK3 UM, Selasa (6/5/2025).
Mahasiswa yang menjadi konseli dapat memilih konselor sebaya atau dosen konselor untuk mendampingi mereka selama sesi. Data PBK3 menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa merasa lebih nyaman berkonsultasi dengan dosen konselor.
Tak hanya konseling individu, PBK3 juga menyelenggarakan Workshop Character Development Series yang mencakup pelatihan public speaking, manajemen stres, pengambilan keputusan, hingga penguatan karakter kewirausahaan. Semua kegiatan ini bertujuan membentuk mahasiswa yang percaya diri, resilien, dan siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Hingga akhir 2023, PBK3 telah melayani lebih dari 300 konseli individu, dan menargetkan 200 peserta untuk bimbingan kelompok setiap tahun. Mahasiswa biasanya menjalani 2 hingga 5 sesi konseling, tergantung pada permasalahan yang dihadapi. Setelah setiap sesi, konseli memberikan umpan balik sebagai bahan evaluasi layanan.
“Beberapa konseli kami beri tugas tambahan seperti teknik jurnaling, relaksasi, peregangan, hingga afirmasi diri. Semua ini membantu proses penyembuhan yang berkelanjutan,” tambah Hetti.
Pendekatan utama yang digunakan adalah Solution-Focused Brief Counseling, metode yang menekankan pencarian solusi realistis dari dalam diri konseli. Namun, tantangan terbesar masih datang dari stigma negatif masyarakat terhadap layanan konseling.
“Masih banyak yang takut atau malu datang ke layanan konseling karena menganggapnya tabu. Bahkan ada yang khawatir soal obat psikiater, padahal kami fokus pada pendekatan psikologis, bukan farmakologis,” jelas Hetti yang juga merupakan dosen Psikologi UM.
Program ini mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan untuk semua usia. UM berharap langkah ini dapat meningkatkan kesadaran pentingnya kesehatan mental di lingkungan kampus.
Mahasiswa dan masyarakat yang ingin memanfaatkan layanan ini bisa menghubungi PBK3 melalui akun Instagram resmi di @pbk3.lp3um. (dan/but)






