Surabaya (beritajatim.com) – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Timur dan Konjen China untuk Surabaya, Xu Yong buka peluang investasi dan prospek bisnis yang menjanjikan.
Xu Yong, terkesan dengan kekompakan Apindo dan agenda-agendanya. Jatim dilihat sebagai wilayah yang aman dan nyaman untuk berinvestasi, ditunjang oleh hubungan Indonesia-China yang semakin erat dalam 10 tahun terakhir.
China, sebagai mitra pertama dan terbesar Indonesia, telah menunjukkan komitmennya melalui proyek-proyek besar seperti kereta cepat Jakarta-Bandung.
Konjen Xu berharap Apindo dapat membantu menjamin keamanan dan kelancaran investasi China di Jatim. Konsulat China siap membantu dari segi visa dan akan bekerja sama dengan pemerintah dan gubernur untuk mewujudkan kerjasama ini.
“Apindo, sebagai asosiasi pengusaha yang kuat, diharapkan bisa membantu China berinvestasi di sini (Jatim),” ujar Xu Yong.
Ketua Apindo Jatim, Eddy Widjanarko, menyambut optimis kerjasama ini. Beliau memprediksi pertumbuhan ekonomi Jatim di tahun 2024 akan mencapai 5,2%, didorong oleh faktor-faktor seperti Smelter Freeport di Gresik yang akan mulai beroperasi bulan Mei.
“Smelter Freeport akan memproduksi baterai, emas, dan nikel. Ditambah, tahun ini dan tahun depan akan banyak delegasi Tiongkok datang ke Indonesia,” papar Eddy.
Apindo memiliki dua tugas utama: menarik investor ke Jatim dan meningkatkan kualitas SDM agar mampu bersaing di kancah internasional. Kerjasama dengan China, Jepang, dan Jerman menjadi bukti komitmen Apindo dalam mencapai tujuan ini.
“Kita diundang kunjungan ke China untuk mencari partner (bisnis) yang ada di Indonesia,” tambah Eddy.
Pertemuan kedua ini menandakan kelanjutan kerjasama yang telah dirintis tahun lalu. Tahun 2023, Apindo membantu delegasi pengusaha China untuk memahami kondisi investasi dan legalitas di Indonesia, serta mencarikan partner dan lokasi yang tepat untuk berinvestasi.
Tahun ini, fokus kerjasama beralih ke industri kecil. Delegasi China menunjukkan minat besar untuk berinvestasi di sektor ini.
“Negara China menjadi partner usaha terbesar bagi Indonesia. Kita ingin mengetahui kondisi perdagangan, perindustrian, dan pertumbuhan ekonomi di China untuk mengantisipasi langkah ke depan,” jelas Eddy.
Prospek bisnis di Jatim sangatlah menjanjikan. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari nasional, industri-industri besar, dan investasi baru seperti Smelter Freeport, industri gelas Xinyi, dan lain-lain akan mendorong ekonomi Jatim semakin maju.
Industri menengah dan padat karya menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Jatim. Kerjasama dengan China dan negara-negara lain akan membuka peluang baru bagi pengusaha Jatim untuk mengembangkan usahanya dan meningkatkan daya saing di kancah global. [rea/beq]






