Malang (beritajatim.com) – Bupati Malang Sanusi, bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Malang menggelar audiensi untuk mencarikan solusi dalam konflik dualisme yayasan yang menaungi STM Turen.
Audiensi yang di gelar di Pendopo Kecamatan Turen, Sabtu (17/1/2025), menghadirkan dua yayasan yang berkonflik yakni Yayasan Pendidikan Teknologi Waskito Turen (YPTWT) dan Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPTT).
Sanusi mengatakan, pertemuan ini dilakukan untuk mencari solusi dan jalan tengah agar pembelajaran di STM Turen maupun SMP Bhakti bisa kembali normal.
“Hasil pertemuan tadi, bahwa kami sepakat pendidikan diharapkan tetap berjalan sebagaimana biasanya, kemudian rapat ini juga dalam rangka menyelamatkan hak pendidikan anak agar mendapatkn pendidikan yang aman dan nyaman,” ucap Sanusi.
Kata Sanusi, pertemuan akan dilakukan lagi dengan mendatangkan pihak YPTWT dan YPTT yang akan dilakukan di Kantor DPRD Kabupaten Malang.
“Nanti Senin (19/1/2026), kami ketemu lagi, kedua belah pihak juga dihadirkan di kantor DPRD untuk membuat kesepakatan bersama, kami akan memediasi dan menyaksikan langsung nanti,” tegasnya.
Sanusi bilang, hasil pertemuan yang akan di lakukan pada Senin (19/1/2026) mendatang, baru diketahui apakah para siswa bisa masuk sekolah lagi seperti biasa. Karena dikhawatirkan ada oknum-oknum yang menghambat kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.
“Setelah Senin itu baru ada keputusan bagaimana, yang jelas perwakilan dari kedua belah pihak sudah sama-sama sepakat bahwa pendidikan harus berjalan sebagaimana mestinya, tidak terganggu,” terangnya.
Jika kedua belah pihak tidak menemui sepakat, lanjut Sanusi, maka Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang akan mengambil langkah untuk keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
“Jika tidak ketemu ada opsi dipindahkan ke lokasi yang kondusif, itu alternatif-alternatif terburuk, saya hanya analogikan saja, kalau sekolahnya ada musibah maka muridnya harus diselamatkan,” bebernya.
Terpisah, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang Zia Ulhaq menambahkan, saat ini Pemkab Malang tengah berupaya untuk melakukan mediasi agar ditemukan jalan keluarnya atas polemik dualisme dualisme yayasan yang menaungi STM Turen dan SMP Bhakti tersebut.
“Kita dewan nanti yang jadi mediatornya, kalau tidak mencapai kesepakatan bersama itu baru bisa kami lokalisir. Artinya kami pindahkan. Tetapi kedua belah pihak harus mau duduk bareng, membuat kesepakatan bersama,” katanya.
“Mediatornya nanti DPRD. Nanti beberapa draf kesepakatannya kami susun, kedua belah pihak membaca, gak ada yang terbebani dengan draftnya, diteken bareng, dan kami serta Pemkab menyaksikan itu,” tambahnya.
Menurut Zia, jika mediasi tidak menemui kesepakatan, maka Pemkab Malang akan mencarikan lokasi untuk menampung siswa SMP Bhakti.
“Saya berharap mereka (kedua yayasan berpolemik) itu mau melonggarkan ‘kancingnya’ demi kepentingan pendidikan bersama, kalau dilokalisir ya siswa SMP nya bisa kami titipkan ke sekolah terdekat. Kalau SMK nya bisa kami pindahkan. Dapodiknya tetap, gurunya tetap mengajar. Tapi mudah-mudahan Senin besok sepakat,” Zia menutup. (yog/ted)






