Surabaya (britajatim.com) – Pasar saham global mengalami tekanan hebat seiring meningkatnya eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang kini memasuki minggu ketiga tanpa tanda-tanda mereda.
Ketegangan geopolitik tersebut memicu aksi jual besar-besaran di berbagai bursa dunia akibat lonjakan harga minyak, gangguan pasokan energi, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap guncangan ekonomi global.
Indeks saham utama di Amerika Serikat, S&P 500, tercatat telah turun sekitar 3 persen sepanjang tahun ini dan menyentuh level terendah sejak November.
Tekanan serupa juga terjadi di berbagai pasar internasional, dari Asia hingga Timur Tengah, ketika investor mulai menarik dana dari aset berisiko.
Konflik tersebut bermula dari serangan udara terkoordinasi pada 28 Februari 2026 dalam operasi militer bertajuk Operation Midnight Hammer.
Serangan itu memicu ketegangan yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Dampaknya, harga minyak mentah global melonjak tajam. Harga Brent Crude Oil telah menembus lebih dari 100 dolar AS per barel, dengan kenaikan mingguan mencapai lebih dari 11 persen.
Sebagai upaya menstabilkan pasar energi, International Energy Agency (IEA) mengizinkan pelepasan sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategis global. Namun, para analis menilai langkah tersebut kemungkinan hanya memberikan dampak sementara terhadap stabilitas pasar.
India dan Pasar Negara Berkembang Paling Terpukul
Negara-negara berkembang yang bergantung pada impor energi menjadi yang paling terdampak. Salah satunya adalah India, yang merupakan importir minyak mentah terbesar ketiga di dunia.
Indeks saham utama India, BSE Sensex, tercatat merosot lebih dari 6.700 poin atau sekitar 8 persen sejak 27 Februari. Penurunan tersebut menghapus nilai kekayaan investor hingga lebih dari ₹34 lakh crore.
Selain itu, investor portofolio asing juga melakukan aksi jual besar-besaran. Sepanjang Maret, arus keluar dana dari pasar saham India tercatat mencapai lebih dari ₹52.704 crore, dengan satu hari perdagangan mencatat arus keluar terbesar sepanjang tahun 2026.
Tekanan juga terjadi di pasar Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 di Jepang sempat jatuh lebih dari 5 persen dalam satu sesi perdagangan pada 9 Maret. Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan turun sekitar 6 persen dan indeks acuan pasar saham Taiwan merosot sekitar 4,4 persen.
Di Amerika Serikat, indeks teknologi Nasdaq Composite serta Dow Jones Industrial Average juga tercatat mengalami penurunan selama tiga pekan berturut-turut.
Pasar Teluk Terguncang
Ketegangan geopolitik turut mengguncang pasar keuangan di kawasan Teluk yang sebelumnya dianggap relatif aman. Serangan rudal dan drone Iran dilaporkan menyasar sejumlah infrastruktur energi dan fasilitas sipil di negara-negara tetangga.
Akibat situasi tersebut, perdagangan di bursa saham Dubai dan Abu Dhabi sempat dihentikan selama dua hari. Ketika perdagangan kembali dibuka, indeks acuan Dubai langsung anjlok sekitar 4,7 persen.
Saham perusahaan properti besar Uni Emirat Arab juga ikut tertekan. Beberapa di antaranya seperti Aldar Properties dan Emaar Properties tercatat mengalami penurunan harga saham hingga sekitar 5 persen. Sementara itu, pasar obligasi untuk penerbitan baru di kawasan tersebut hampir terhenti.
Lonjakan ketidakpastian juga tercermin dari meningkatnya CBOE Volatility Index (VIX) atau yang sering disebut sebagai “pengukur ketakutan” di Wall Street. Indeks tersebut melonjak hingga 27,29, level tertinggi sejak awal perang Perang Rusia-Ukraina.
Kepala strategi geopolitik Alpine Macro, Dan Alamariu, memperingatkan bahwa tekanan pasar kemungkinan masih akan meningkat dalam waktu dekat.
“Tingkat kepanikan terkait perang tertinggi kemungkinan akan terjadi dalam satu hingga tiga minggu ke depan ketika pasar mulai memperhitungkan dampak ekonomi yang lebih dalam dari konflik ini,” ujarnya.
Risiko Perang Berkepanjangan
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menyampaikan kepada para pemimpin G7 bahwa Iran “akan segera menyerah”. Namun, pemimpin tertinggi baru di Teheran justru bersumpah untuk tetap menutup Selat Hormuz.
Situasi tersebut membuat sejumlah pelaku pasar mulai mengambil posisi defensif. Meja perdagangan global bahkan memperingatkan bahwa S&P 500 berpotensi turun hingga 10 persen dari puncak terakhirnya jika konflik berlangsung lebih lama.
Perusahaan konsultan energi Wood Mackenzie juga memperingatkan risiko lonjakan harga minyak yang lebih tinggi.
Menurut mereka, harga minyak mungkin harus mencapai sekitar 150 dolar AS per barel untuk memicu penurunan permintaan yang dapat menyeimbangkan kembali pasar energi global.
“Harga minyak hingga 200 dolar per barel bukanlah hal yang mustahil jika konflik terus berlanjut dan gangguan pasokan semakin parah,” tulis laporan mereka. (ted)






