Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Komite Disiplin (Komdis) PSSI Umar Husein menegaskan bahwa setiap bentuk kekerasan dalam sepak bola harus ditindak melalui penegakan sanksi yang tegas dan jelas. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keselamatan atlet serta menciptakan iklim kompetisi yang sehat.
Umar menekankan, pihak-pihak yang mengancam atmosfer sepak bola yang kondusif tidak boleh dibiarkan tanpa tindakan. Komdis PSSI, kata dia, memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi sesuai tingkat pelanggaran yang dilakukan.
“Nah, pihak-pihak yang mengancam atmosfer yang sehat ini, yang ini yang mesti ditertibkan,” tegas Umar Husein, Selasa (6/1/2026).
Menurut Umar, sanksi yang dapat dijatuhkan tidak hanya berupa teguran, tetapi juga denda hingga larangan beraktivitas di dunia sepak bola. Penegakan disiplin tersebut diperlukan agar kekerasan di lapangan tidak terus berulang.
Ia juga mengingatkan peran strategis panitia disiplin di seluruh level kompetisi. Umar meminta agar tidak ada keraguan dalam menjatuhkan hukuman terhadap pelanggaran keras dan tindakan brutal.
“Kami menghimbau kepada teman-teman yang menjadi Panitia Disiplin atau berperan sebagai Komite Disiplin di semua tingkatan liga untuk tidak ragu-ragu menghukum,” ujarnya.
Umar menegaskan, jaminan keselamatan atlet tidak hanya diatur dalam regulasi sepak bola, tetapi juga dilindungi oleh Undang-Undang Sistem Keolahragaan Nasional. Ketentuan tersebut menjadi dasar kuat bagi Komdis di tingkat daerah maupun panitia disiplin untuk bertindak tegas.
“Jadi itu penegasannya, agar Komdis di tingkat daerah ataupun Pandis itu bisa bertindak tegas tanpa ragu-ragu,” kata Umar.
Ia menambahkan, seluruh langkah penegakan disiplin tersebut dilakukan semata-mata untuk melindungi sepak bola dan para atlet agar kompetisi dapat berkembang secara sehat dan tidak merugikan pihak lain.
Diketahui, penegasan Komdis PSSI ini disampaikan menyusul insiden kekerasan dalam pertandingan Liga 4 PSSI Jawa Timur antara Putra Jaya Kabupaten Pasuruan melawan Perseta 1970 Tulungagung. Laga tersebut digelar di Stadion Gelora Bangkalan pada Senin (5/1/2026) pukul 13.00 WIB.
Pertandingan yang merupakan bagian dari Grup CC Liga 4 PSSI Jawa Timur putaran 32 besar itu awalnya berlangsung normal. Putra Jaya tampil dengan jersey kuning, sementara Perseta 1970 Tulungagung mengenakan seragam hijau.
Namun situasi berubah mencekam setelah terjadi pelanggaran serius di tengah pertandingan. Insiden tersebut terekam melalui siaran langsung di kanal YouTube PSSI Jawa Timur.
Peristiwa bermula saat Firman Nugraha, pemain Perseta 1970 Tulungagung, berusaha merebut bola. Secara tiba-tiba, Muhammad Hilmi, pemain Putra Jaya Kabupaten Pasuruan, melakukan tendangan keras yang mengenai dada Firman.
Akibat tendangan tersebut, Firman Nugraha terjatuh dan ambruk di lapangan. Wasit yang memimpin pertandingan langsung mengeluarkan kartu merah kepada Muhammad Hilmi yang mengenakan nomor punggung 23.
Situasi sempat memanas setelah sejumlah pemain Perseta 1970 Tulungagung tidak menerima kejadian itu. Beberapa pemain terlihat mengejar Muhammad Hilmi sebelum akhirnya diarahkan oleh rekan setimnya untuk segera meninggalkan lapangan guna menghindari bentrokan fisik.
Firman Nugraha kemudian mendapatkan penanganan medis serius dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk memastikan kondisinya aman setelah menerima tendangan berbahaya.
Insiden tersebut menyita perhatian publik sepak bola Jawa Timur dan memicu sorotan luas terhadap aspek keselamatan pemain, khususnya di level kompetisi daerah. [way/beq]






