Surabaya (beritajatim.com) – Liverpool kembali mengemas kemenangan besar, kali ini giliran Setan Merah di depan publik Old Trafford yang diamuk lima gol tanpa balas. Padahal, dibandingkan dengan klub-klub lain, Liverpool termasuk tim yang paling sedikit membeli pemain bintang.
Bahkan, mereka baru saja kehilangan salah satu pilar lini tengah, Gigi Wijnaldum yang pindah ke Paris Saint-Germain. Namun, mereka tetap menakutkan dan menjadi momok bagi lawan-lawannya. Hal ini tidak lepas dari kejeniusan Jurgen Klopp dalam meramu tim berjuluk The Red ini.
Sejak kedatangannya ke Liverpool, Klopp telah membuat tim ini menjadi tim yang solid dan sistematis. Terutama dengan sistem permainan mereka yang sulit dihentikan. Sebab, para pemain mereka dilatih sampai memiliki kemampuan umpan diagonal dan kontrol bola yang sangat baik. Apa saja sistem yang telah diterapkan Klopp di tim ini?
Gegenpressing
Sejak awal ditunjuk sebagai pelatih The Reds, Jurgen Klopp sudah menerapkan gaya main yang nyentrik bernama gegenpressing. Sebenarnya, nama gegenpressing merupakan frasa dari Bahasa Jerman yang berarti counter pressing.
Cara bermain gegenpressing ini yaitu dengan bermain menekan lawan dengan 4-5 pemain untuk merusak alur distribusi bola. Karena gegenpressing menargetkan celah yang tersedia saat masa transisi lawan. Ini juga terlihat dari laga yang berakhir 5-0, Liverpool mampu mengeksploitasi lini tengah Manchester United.
Explosive Fullback
Hadirnya pemain sekaliber Trent Alexander Arnold dan Robertson menjadi modal penting untuk mendulang masa jaya Klopp bersama Liverpool. Baik Alexander Arnold maupun Robertson mampu mengirimkan umpan akurat. Mereka piawai dalam urusan umpan diagonal, crossing, kerjasama short pass dengan winger, dan juga playmaking yang kerap dilakukan Alexander Arnold.
Trio Gelandang Breaker
Usai Liverpool melepas Coutinho sejak sebelum datangnya Keita dan Thiago. The Reds tidak menggunakan playmaker sebagai kreator serangan. Tugas tersebut dialihkan untuk fullback Robertson dan Trent Alexander Arnold.
Hal itu menjadi bukti kejelian Klopp untuk berjaya di domestik maupun Eropa. Ia juga mengajarkan bahwa tim harus memiliki salah satu dari dua aspek yakni mampu mendominasi permainan atau merusak tempo permainan lawan.
Roberto Firmino Adalah Kunci, dan Van Dijk yang Kokoh
Firmino ditempatkan sebagai striker namun bukan sebagai pencetak gol utama. Firmino memainkan peran sebagai false 9. Dengan peran tersebut memungkinkan Firmino untuk bermain secara free roam. Di samping itu, pemain asal Brazil ini kerap kali menjadi pemain pertama The Reds yang melakukan pressing ketika tim sedang kehilangan bola.
Tidak hanya di lini serang, jantung pertahanan Liverpool pun cukup kokoh dengan kehadiran kapten Timnas Belanda, Virgil Van Dijk. Pemain bertubuh besar kekar itu, begitu menakutkan bagi seluruh striker lawan, tak terkecuali pemain sekelas Ronaldo.
Demikian beberapa kehebatan, cara bermain, juga strategi The Reds asuhan Jurgen Klopp. [dan/tur]






