RINGKASAN BERITA:
- Sektor 3 Daker Madinah resmi mengoperasikan klinik satelit baru yang lebih strategis di Hotel Manazil Al Rahma.
- Fasilitas ini menghadirkan inovasi sistem sampling darah langsung di tempat untuk mempercepat alur diagnosis lab di KKHI.
- Tim medis menerapkan sistem triase ketat guna memisahkan pasien gejala ringan dengan pasien darurat yang harus dirujuk ke RS Arab Saudi.
- Klinik satelit disiagakan nonstop 24 jam dengan sistem piket bergantian oleh kolaborasi tim sektor dan Tenaga Kesehatan Haji (TKH) kloter.
Madinah (beritajatim.com) — Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Madinah resmi mengoperasikan pos pelayanan medis baru yang lebih strategis dan representatif di Sektor 3. Pengoperasian klinik satelit teranyar ini sengaja digenjot guna mempercepat respons penanganan darurat (emergency) maupun rawat jalan bagi jemaah haji Indonesia gelombang kedua yang saat ini tengah memadati Kota Madinah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, fasilitas kesehatan satelit ini mengambil kaveling area di Hotel Manazil Al Rahma. Penempatan titik klinik yang berada di dalam lingkungan hotel jemaah ini dirancang khusus untuk memangkas jarak mobilisasi pasien risti (risiko tinggi) menuju meja pemeriksaan dokter.
“Kami mewakili dari tim kesehatan sektor 3, kebetulan sektor 3 baru saja mendapatkan tempat klinik satelit baru yaitu di Hotel Manazil al Rahma. Kemudian sudah kita lakukan setting untuk kegiatan yang bisa kita lakukan di klinik ini, yaitu pemeriksaan rawat jalan untuk jemaah-jemaah kita akan lakukan di sini,” urai Petugas Kesehatan Sektor 3 Daker Madinah, Much Agung, pada Selasa (09/06/2026).
Much Agung menjelaskan, selain berfungsi sebagai unit penanganan umum, klinik satelit di Hotel Manazil Al Rahma ini mengusung inovasi mutakhir pada sistem penunjang laboratorium. Fasilitas baru ini dibekali dengan kapabilitas penampungan awal atau sampling darah jemaah secara instan di tempat.
Sistem jemput bola medis ini memotong alur birokrasi rujukan reguler. Sampel darah yang telah diambil oleh tim medis sektor akan langsung diteruskan ke laboratorium pusat Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah, sehingga draf hasil diagnosis penyakit jemaah bisa ditegakkan oleh dokter spesialis secara lebih cepat, akurat, dan ramah waktu.
“Kemudian ada yang baru yaitu kita bisa melakukan sampling darah, yang hasilnya kita bisa ambil sampelnya di sini, kemudian akan kita kirim ke KKHI (Klinik Kesehatan Haji Indonesia) untuk dilakukan pemeriksaan di KKHI, sehingga akan mempercepat alur pemeriksaan lab dari jemaah ke KKHI,” jelas Agung.
Demi menjaga efektivitas penanganan di tengah keterbatasan ruang, tim medis Sektor 3 menerapkan parameter triase (pengelompokan tingkat kegawatan pasien) secara rigid dan disiplin. Melalui skema ini, jemaah haji yang terdeteksi masuk ke dalam kategori sitas 1 dan 2 (kondisi kritis atau mengancam nyawa) tidak akan ditahan di klinik, melainkan langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS).
Sebaliknya, kaveling ruang penanganan di klinik satelit akan difokuskan untuk memulihkan jemaah yang masuk dalam kategori sitas 4 dan 5 atau bergejala ringan hingga sedang. “Klinik satelit ini sebagai sebuah klinik yang paling dekat dengan jemaah,” imbuh Agung.
Guna mengantisipasi terjadinya perburukan kondisi kesehatan secara mendadak, Agung melayangkan imbauan khusus bagi jemaah yang mengidap komorbid atau penyakit bawaan dari tanah air agar patuh minum obat secara berkala.
“Himbauan kepada jemaah yang memang membutuhkan penanganan kesehatan, yang pertama untuk jemaah-jemaah yang memang memiliki riwayat penyakit kronis diharapkan agar selalu meminum obat yang memang dibawa dari Indonesia,” cetusnya.
Manajemen Sektor 3 memastikan layanan klinis ini akan beroperasi penuh secara nonstop 24 jam tanpa jeda libur. Penjagaan pos medis melibatkan integrasi penuh antara Tenaga Kesehatan Haji (TKH) kloter dengan tim dokter sektor yang diatur melalui draf jadwal piket berkala demi memastikan tidak ada kekosongan petugas di lapangan. [ian/MCH]






