Di dunia yang terasa semakin cepat, hampir tanpa jeda, kita sering tergoda untuk percaya bahwa geografi tidak lagi menentukan apa-apa. Teknologi memperpendek jarak, informasi bergerak dalam hitungan detik, dan keputusan politik tampak bisa melampaui ruang. Seolah-olah peta hanya tinggal latar.
Tapi setiap kali krisis datang, keyakinan itu selalu retak. Kadang pelan, kadang tiba-tiba.
Dan di momen seperti itu, kita dipaksa melihat kembali sesuatu yang sebenarnya tidak pernah pergi, dunia ini masih, dan mungkin akan selalu, terikat pada peta.
Robert D. Kaplan, dalam The Revenge of Geography (2012), mengingatkan dengan cara yang nyaris keras bahwa geografi tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan. Gunung tidak berpindah, laut tidak berubah karena kesepakatan, dan selat tetap sempit, seberapa pun canggih teknologi yang kita miliki. Ada sesuatu yang konstan di balik dunia yang tampak terus bergerak.
Tim Marshall, lewat The Power of Geography (2021), memilih nada yang lebih tenang. Ia tidak menolak peran manusia, tetapi ia seperti ingin mengingatkan, dengan cara yang lebih halus, bahwa pilihan kita tidak pernah benar-benar bebas. Kita bergerak, ya, tetapi selalu dalam batas yang sudah lebih dulu ada.
Dari dua pandangan itu, ada satu kesadaran yang sulit dihindari, geografi bukan sekadar latar. Ia adalah struktur yang diam-diam membentuk arah. Di titik seperti ini, geopolitik tidak lagi terasa jauh.
Kita sering menyebut geopolitik, tapi jarang benar-benar berhenti untuk memahaminya. Padahal pada dasarnya, ia hanyalah cara membaca dunia lewat ruang. Cara memahami bagaimana lokasi memengaruhi kepentingan, bagaimana jarak menentukan keputusan, dan bagaimana peta, tanpa suara, ikut mengarahkan kekuasaan.
Begitu kita melihat dunia dari sudut itu, hal-hal yang sebelumnya terasa terpisah mulai tersambung.
Timur Tengah, misalnya.
Selama ini kita melihat kawasan itu lewat konflik, identitas, atau sejarah panjang yang tak pernah benar-benar selesai. Semua itu penting. Tapi ada lapisan lain yang sering luput, sesuatu yang tidak terlalu dramatis, tetapi justru menentukan, geografi energi.
Selat Hormuz hanyalah celah kecil di peta. Tapi dari sanalah sebagian besar energi dunia mengalir. Ketika ketegangan meningkat di sana, dampaknya tidak berhenti di kawasan itu. Harga energi naik, biaya hidup ikut terdorong, dan perlahan, tanpa banyak disadari, pengaruhnya sampai ke kehidupan sehari-hari.
Di titik ini, jarak kehilangan maknanya. Yang jauh tiba-tiba terasa dekat. Dan pola seperti ini tidak hanya terjadi di sana.
Dunia modern, meskipun tampak luas, justru bergantung pada ruang-ruang yang sempit. Terusan Suez, Terusan Panama, dan terutama Selat Malaka, semuanya menunjukkan hal yang sama, aliran besar sering ditentukan oleh titik kecil.
Selat Malaka adalah salah satunya. Setiap hari, kapal-kapal melintas tanpa henti, membawa energi dan barang yang menghidupkan ekonomi global. Jalur ini menghubungkan Timur Tengah dengan Asia Timur, bekerja seperti nadi yang tidak pernah benar-benar kita perhatikan.
Namun justru karena itu, ia menjadi rapuh.
Ia sempit, padat, dan dalam waktu dekat sulit digantikan. Dalam bahasa geopolitik, ini disebut chokepoint, titik sempit yang menentukan aliran besar. Kadang tidak perlu gangguan besar, satu peristiwa kecil saja bisa menciptakan efek yang luas. Dan Indonesia berada tepat di sana.
Kita sering menyebut Indonesia sebagai negara strategis. Letaknya di antara dua samudera, berada di jalur perdagangan utama dunia, dan dekat dengan salah satu titik paling vital dalam sistem global. Semua itu benar.
Tapi sering kali berhenti sebagai kalimat yang diulang, bukan sesuatu yang benar-benar dipikirkan. Padahal posisi strategis tidak pernah hanya soal peluang. Ia selalu datang bersama konsekuensi. Dalam cara pandang Kaplan, posisi seperti ini membuat Indonesia tidak pernah benar-benar berada di luar tarikan kekuatan global. Dalam perspektif Marshall, posisi ini memberi ruang untuk memilih, tetapi ruang itu tidak pernah sepenuhnya bebas. Dan di sinilah Indonesia berbeda dari Jepang.
Jepang, sebagai negara kepulauan yang relatif terpisah, pernah memiliki ruang untuk membentuk dirinya ke dalam. Pada masa sakoku, ia menutup diri selama berabad-abad. Dalam keheningan yang relatif terjaga itu, Jepang membangun identitasnya dengan konsistensi yang jarang terganggu.
Mungkin karena itu, Jepang tidak hanya membangun negara, tetapi juga membangun disiplin.
Geografi memberi mereka kemampuan untuk menyaring. Indonesia tidak memiliki kemewahan seperti itu.
Sejak awal, Indonesia adalah ruang pertemuan. Laut bukan batas, melainkan jalur. Orang datang dan pergi, barang berpindah, gagasan bertemu, dan semuanya membentuk sesuatu yang terus bergerak.
Itulah kekuatan kita. Tapi sekaligus juga kerentanannya.
Artinya, tantangan Indonesia bukan menjaga jarak, tetapi belajar mengelola keterbukaan.
Di titik ini, geopolitik tidak lagi terasa jauh atau abstrak. Ia hadir dalam hal-hal yang sering kita anggap biasa, dalam harga energi, dalam jalur perdagangan, dalam rantai pasok, bahkan dalam keputusan yang dibuat di tempat lain tetapi terasa dampaknya di sini.
Indonesia pernah memiliki gagasan besar, menjadikan laut sebagai halaman depan. Sebuah visi yang mencoba mengubah cara pandang, dari darat ke laut, dari memisahkan menjadi menghubungkan.
Namun dalam praktiknya, gagasan itu terlalu sering berhenti sebagai wacana.
Padahal jika posisi geografis ini benar-benar dipahami, Indonesia tidak hanya menjadi wilayah yang dilalui, tetapi bisa menjadi aktor yang mengelola aliran. Bukan sekadar titik di peta, tetapi bagian penting dari sistem itu sendiri.
Dalam dunia yang semakin terhubung, stabilitas menjadi sesuatu yang semakin berharga. Dan negara yang mampu menjaga stabilitas, terutama di jalur-jalur vital seperti Selat Malaka, memiliki peran yang jauh lebih besar dari yang sering terlihat.
Geopolitik, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling kuat. Lebih dari itu, ia tentang siapa yang paling memahami posisinya. Kita hidup di era yang sering disebut tanpa batas. Tapi kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Jalur pelayaran tetap itu-itu saja. Energi tetap mengalir melalui titik yang sama. Bahkan konflik pun sering muncul di lokasi yang tidak jauh berbeda.
Teknologi mungkin mempercepat segalanya. Tapi arah, pada akhirnya, tetap ditentukan oleh sesuatu yang lebih sunyi, yakni: geografi. Dan mungkin, di situlah kita perlu lebih jujur.
Bahwa selama ini kita tidak benar-benar mengabaikan geopolitik, kita hanya belum sepenuhnya menyadari betapa besar pengaruhnya.
Karena pada ujungnya, satu hal tetap tidak berubah. Kita tidak memilih tempat di peta di mana kita berada.
Namun justru dari tempat itulah, semua pilihan kita, sadar atau tidak, bermula.[Agus Trihartono. Dosen Hubungan Internasional, Universitas Jember; Rektor UI Cordoba, Banyuwangi]






