Surabaya (beritajatim.com) – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Iran dilaporkan hanya mengizinkan kapal dari China melintas di Selat Hormuz, di tengah penutupan jalur pelayaran strategis tersebut bagi sebagian besar kapal internasional.
Menurut laporan NDTV, langkah itu disebut sebagai bentuk apresiasi Teheran terhadap dukungan Beijing sejak perang di Timur Tengah meletus.
Sumber yang mengetahui kebijakan tersebut menyebut Iran memberi sinyal bahwa kapal berbendera China tetap dapat melintasi selat yang menjadi jalur vital energi dunia itu.
Keputusan tersebut muncul ketika Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan memiliki kendali penuh atas perairan Selat Hormuz.
Pasukan elit Iran itu bahkan memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintas tanpa izin berpotensi menjadi sasaran serangan.
IRGC menegaskan bahwa mereka kini memiliki “kendali penuh” atas selat tersebut dan kapal yang memaksa melintas berisiko terkena serangan rudal atau drone yang beroperasi di kawasan tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan pelabuhan di Teluk Persia dengan laut lepas. Jalur ini menjadi pintu keluar utama bagi ekspor energi dari negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Qatar.
Sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati jalur ini sebelum dikirim ke pasar utama di Asia, termasuk China dan India.
Penutupan jalur tersebut memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas perdagangan global dan rantai pasok energi.
Asia Menanggung Dampak Terbesar
Gangguan jalur energi di Selat Hormuz diperkirakan paling berdampak bagi negara-negara Asia. Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration, lebih dari 80 persen LNG yang melewati selat tersebut pada 2024 dikirim ke pembeli di Asia.
Situasi juga semakin rumit setelah Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC, memangkas produksi hingga 1,16 juta barel per hari akibat keterbatasan penyimpanan dan terhambatnya jalur ekspor.
Laporan Reuters menyebut pejabat Irak memperingatkan bahwa hampir seluruh produksi negara itu yang mencapai sekitar 3 juta barel per hari berpotensi terhenti dalam beberapa hari jika krisis terus berlanjut.
Dampak krisis mulai terasa di berbagai negara Asia. Sejumlah kilang minyak di China dilaporkan mulai menutup unit pengolahan minyak mentah sebagai langkah antisipasi.
Sementara itu, pemerintah dan pelaku industri energi di India mulai menjajaki sumber alternatif untuk pasokan minyak mentah dan LNG jika gangguan di kawasan Teluk berlangsung lebih dari 10 hingga 15 hari.
Di sisi lain, Taiwan menyatakan masih memiliki cadangan LNG yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir Maret. Namun sekitar sepertiga pasokan LNG wilayah itu berasal dari Qatar, sehingga potensi gangguan tetap menjadi perhatian.
Rencana Perlindungan Kapal Energi
Di tengah kekhawatiran pasar energi global, Presiden Donald Trump mengumumkan rencana untuk menyediakan perlindungan bagi pengiriman energi dari kawasan Teluk, termasuk skema asuransi serta pengawalan angkatan laut bagi kapal tanker.
Namun sejumlah analis menilai langkah tersebut tidak mudah diterapkan. Kepala pejabat keselamatan dan keamanan asosiasi pelayaran BIMCO, Jakob Larsen, menyatakan perlindungan menyeluruh bagi kapal tanker di kawasan konflik merupakan tantangan besar.
“Memberikan perlindungan untuk semua kapal tanker di wilayah yang saat ini terancam oleh Iran akan sangat tidak praktis,” kata Larsen.
Para analis memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, dampaknya bukan hanya pada pasokan energi, tetapi juga dapat memicu gangguan besar pada perdagangan global serta lonjakan harga minyak dan gas dunia. (ted)






