Lamongan (beritajatim.com) – Pada setiap puncak Hari Jadi Lamongan (HJL), berbagai kisah dan budaya Lamongan selalu ditampilkan dalam bentuk tarian, utamanya saat upacara pasamuan agung digelar di Pendopo Lokatantra Lamongan.
Tari tersebut adalah Bedoyo Amangku Bumi dan Sendratari Panji Laras Liris. Lalu bagaimana kisah yang terkandung di balik dua tarian yang ditampilkan dengan sakral dan syarat akan budaya tiap HJL ini?
Dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Kominfo Pemkab Lamongan, Sugeng Widodo membenarkan bahwa dua tarian tersebut merupakan tarian khas yang digali dari kisah yang dipercayai oleh masyarakat Lamongan hingga saat ini.
“Untuk Tari Bedhaya Amangkubumi ini menggambarkan semangat dan spirit perjuangan yang dilakukan oleh Maha Patih Gajah Mada dengan sumpah palapanya dalam menyatukan Nusantara,” ujar Sugeng kepada beritajatim, Minggu (29/5/2022).
[berita-terkait number=”5″ tag=”tari”]
Sementara untuk Tarian Sendratari Panji Laras Liris, Sugeng menjelaskan, jika tarian ini menceritakan tentang kisah awal mula budaya calon mempelai wanita yang melamar calon mempelai pria di Lamongan. “Iya, tarian Sendratari ini menceritakan tentang kisah Panji Laras dan Panji Liris dari Lamongan bersama Dewi Andansari dan Dewi Andanwangi putri Ki Ageng Wirosobo dari Kediri, yang terjadi sekitar tahun 1640-1665 M,” kata Sugeng.
Lebih jauh, Sugeng menceritakan, bahwa Panji Laras dan Liris adalah dua pemuda putra Adipati ketiga Lamongan, Raden Panji Puspa Kusuma, keturunan Raja Majapahit ke-14 Hayam Wuruk, dari perkawinannya dengan putri Sunan Pakubuwono 11, raja Surakarta Adiningrat.
Panji Laras dan Panji Liris ini dikaruniai wajah yang tampan dan gagah menawan. Selain memperoleh pendidikan agama Islam, keperajaan dan keprajuritan dengan sangat baik, keduanya juga memiliki hobi mengembara sambil beradu ayam.
“Saat mengembara di daerah Wirosobo (Kediri), keduanya bertemu dengan gadis kembar yang cantik jelita parasnya, yakni Andansari dan Andanwangi. Lalu mereka sepakat untuk lamaran, tapi dengan syarat Andansari dan Andanwangi harus membawa bebono genuk (gentong) berisi air dan sajadah yang terbuat dari batu sela cendhani,” terangnya.
Setelah semua syarat disepakati dan hari lamaran sudah ditentukan, Dewi Andansari dan Andanwangi beserta iring-iringan para pengawal pun berangkat ke Kadipaten Lamongan dengan membawa genuk dan sajadah seperti yang diminta.
Karena saat itu musim ‘rendheng’ (hujan) dan sungai di Lamongan sering banjir, maka Adipati Panji Puspa Kusuma menyuruh iring-iringan dari Kediri lewat sungai Lamong yang airnya dangkal, yaitu perbatasan Lamongan selatan.
Setibanya di sungai Lamong, rombongan dari Wirosobo hendak menyeberang dan saat sewek atau jarik Andansari dan Andanwangi itu tersingkap, betapa terkejutnya Panji Laras dan Liris ketika melihat betis kaki putri kembar tersebut penuh dengan bulu hitam yang sangat lebat dan panjang.
Seketika itu pula, Panji Laras dan Liris menolak lamaran Dewi Andanwangi dan Andansari. Di satu sisi, dua rombongan dari Wirosobo yang tak terima lamarannya ditolak pun sakit hati hingga perang pun pecah antara prajurit Wirosobo dan Lamongan.
Dikisahkan pula, bahwa prajurit dari Lamongan ini dipimpin oleh Mbah Sabilan. Nahasnya, perang yang terjadi menelan banyak korban, tak hanya Dewi Andansari dan Andanwangi, namun juga Panji Laras dan Liris, termasuk Mbah Sabilan.
“Cerita rakyatnya seperti itu. Namun cerita ini diperkuat dengan adanya dua gentong genuk dan dua batu pasujudan yang merupakan hadiah dari Andansari dan Andanwangi itu kini berada persis di depan Masjid Agung Lamongan dan sudah ditetapkan sebagai benda cagar budaya,” papar Sugeng.
Selain itu, Sugeng menambahkan, juga terdapat makam Panji Laras dan Liris di Tumenggungan dan makam Andanwangi dan Andansari di Bandung Lamongan. Nama mereka pun menjadi nama sebuah jalan di Lamongan. Sedangkan makam Mbah Sabilan, pejuang yang membela Panji Laras Liris masih sering diziarahi saat Hari Jadi Lamongan. “Di sejumlah wilayah di Lamongan saat ini juga masih banyak yang menggunakan tradisi perempuan yang harus lebih dulu melamar laki-laki sebelum dilangsungkan pernikahan,” tambahnya.[riq/kun]






