Sabtu, 5 Oktober 1974. Serdadu-serdadu militer bermunculan dari langit dengan parasut mendarat di alun-alun kota Serang, Jawa Barat. Ini pemandangan yang menakjubkan bagi anak kampung seperti Heri Hendrayana Harris. Para prajurit itu membelah langit turun ke bumi membawa senjata dengan kegagahan yang senantiasa masuk dalam imajinasi masa kanak-kanak.
Heri dan kawan-kawannya bersepakat untuk meniru mereka. Mereka memotong batang daun pisang untuk dijadikan senapan dan berlagak menjadi serdadu yang saling serbu. Dor dor dor dor dor dor. Suara pelor yang ditembakkan ditirukan dengan mulut.
Urusan paling rumit tentu saja adalah siapa yang harus jadi komandan. Semua tentu ingin jadi pemimpin. Tak ada yang mau jadi anak bawang. Maka disepakati posisi komandan dipilih berdasarkan nyali. Siapa yang paling punya nyali untuk terjun dari pohon paling layak disebut komandan.
Heri memutuskan untuk melompat….
“Aduuuhhhh…” Ia meraung, Menjerit kesakitan. Bocah-bocah lainnya menatap Harris dengan ngeri. Mereka berlari menuju rumah Harris untuk berkabar kepada sang ayah. “Heri jatuh, Pak.”
Tetangga menyarankan agar Heri dibawa ke dukun pijat. Bukannya membaik, kondisinya memburuk. Sang ayah memutuskan untuk membawa sang anak ke rumah sakit di Jakarta.
Terlambat. Dokter menjatuhkan vonis menyakitkan. Heri tak tertolong. Tangan kirinya harus diamputasi.
Operasi berjalan lancar. Namun begitu siuman dari obat bius, Heri berteriak memanggil ibunya. “Emak, kenapa tanganku buntung?”
Pertanyaan yang selalu menghantuinya. Apa tangan itu bisa tumbuh lagi? Ia selalu mengulang pertanyaan itu. Sang ayah tahu, anaknya terpukul. Tak ada yang suka kehilangan salah satu tangan pada usia muda. Satu-satunya jalan adalah kembali membangkitkan kepercayaan diri sang anak, dan mereka menemukannya pada bulutangkis.
Sang ayah mengajak Heri berlatih bulutangkis dengan giat. Dia pun merintis karir menjadi atlet paralimpik dan sempat menjadi juara cabang olahraga bulutangkis ganda putra dalam Asian Para Games di Kobe, Jepang pada 1990.
[berita-terkait number=”5″ tag=”literasi”]
Namun Heri menemukan dunianya pada buku-buku. Dan bersama buku, pesan orang tuanya bahwa kelak tangannya akan kembali akhirnya terwujud.
Tidak, tangannya tidak kembali muncul secara ajaib. Namun Heri menyadari, Tuhan menganugerahinya kemampuan menulis, dan itu digunakannya untuk menggantikan tangan kirinya yang hilang. “Memang tangan kiri saya sudah tak mungkin kembali tapi saya bisa menjangkau banyak hal dengan tulisan-tulisan saya seakan memiliki tangan lagi,” katanya, sebagaimana dilansir Humas Universitas Jember, dari acara Safari Literasi Nasional, di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (5/2/2022).
Kelak Heri tak hanya menulis ratusan judul buku dan berkeliling dunia di 20 negara. Ia juga mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Dunia ini di rumahnya.
Ia menulis cerita bersambung Balada Si Roy yang kemudian dibukukan.
Kita mengenalnya dengan nama: Gol A Gong. [wir/suf]






