Madinah (beritajatim.com) – Nenek Jumaria P Sire Said, jemaah haji Kloter UPG 14, asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, mampu menaklukkan keterbatasan ekonomi dengan menabung uang receh hasil peluh bertani di dalam sebuah ember selama lebih dari 20 tahun.
Di balik tubuhnya yang renta namun tetap gesit, tersimpan narasi tentang kesabaran yang melampaui batas logika, sebuah perjalanan panjang dari lumpur sawah menuju keagungan Baitullah.
Setiap pagi, saat azan subuh masih menyisakan dingin, Jumariah telah memanggul cangkulnya. Di bawah terik matahari, ia membanting tulang sebagai buruh tani, memetik sayur, atau merawat kebun milik orang lain demi upah yang tak seberapa.
Kadang ia membawa pulang Rp50 ribu, kadang Rp200 ribu saat musim panen tiba. Namun, berapa pun yang ia terima, ada satu “ritual” yang tak pernah ia lewatkan: menyisihkan sebagian uangnya untuk Sang Pencipta.
Uang-uang itu—mulai dari pecahan sepuluh ribu hingga seratus ribu—tidak ia simpan di bank atau lemari besi. Jumariah memilih sebuah ember yang ia letakkan di bawah kolong tempat tidurnya.
Agar tak mengundang tanya, ember itu ia tutup rapat dengan tumpukan kain-kain lusuh dan jelek. “Supaya tidak ada yang tahu,” bisiknya pelan, mengenang masa-masa ia menyembunyikan “harta karun” spiritualnya dari pandangan dunia.
Saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Madinah, perempuan yang mendaftarkan diri sejak 2011 ini bercerita dengan mata berkaca-kaca bahkan menangisi tentang rahasia ketangguhannya.
Selama dua dekade menabung, ia tak pernah sekali pun mencuil uang di dalam ember tersebut, meski perutnya sering kali melilit lapar atau kebutuhan hidup menghimpit.
“Saya masak saja daun ubi, atau kalau ayamku bertelur, itu yang saya makan. Saya tidak mau ambil uang yang sudah saya simpan untuk Tuhan,” tuturnya dengan suara bergetar.
Baginya, menyentuh uang haji untuk keperluan duniawi adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanah mendiang orang tuanya yang pernah berpesan: “Jika punya uang Nak, pergilah ke tanah suci, karena aku tak punya kesempatan untuk pergi.”
Keteguhan hati inilah yang kemudian menarik perhatian otoritas Arab Saudi. Nenek Jumariah terpilih menjadi ikon “Makkah Route” (jalur cepat), sebuah penghargaan prestisius bagi jemaah dengan latar belakang paling inspiratif.
Bahkan, tim dokumentasi dari Arab Saudi datang langsung ke gubuknya di Maros untuk merekam jejak kehidupannya di antara hamparan sawah sebelum ia berangkat.
Kemandirian Jumariah menjadi buah bibir di kalangan teman sekamarnya. Di usia yang sudah senja, ia justru menjadi yang paling gesit. Berdasarkan data kesehatan Kemenhaj RI, Jumariah tercatat sebagai jemaah yang sangat bugar tanpa riwayat penyakit kronis seperti kolesterol atau hipertensi—hal yang jarang ditemukan pada lansia seusianya.
Teman sekamarnya, Marwati, mengaku takjub melihat stamina sang nenek. “Tadi ke Raudhah, saya yang ditarik sama Nenek. Jalannya cepat sekali, lebih kencang dari kami yang muda-muda. Kalau lift macet, dia tenang saja naik tangga,” ungkap Marwati dengan nada heran bercampur kagum.
Di balik ketangguhan fisiknya, Jumariah adalah sosok yang sangat emosional setiap kali bersentuhan dengan suasana Kota Nabi. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pelataran Masjid Nabawi, air matanya tumpah tak terbendung. Ingatannya melayang pada sosok orang tua yang menanamkan mimpi haji di kepalanya puluhan tahun silam.
“Saya menangis karena ingat orang tua. Saya orang miskin, kenapa saya bisa ada di sini? Ini pasti karena panggilan Tuhan,” ucapnya sembari menyeka air mata.
Baginya, Madinah bukan sekadar kota ziarah, melainkan tempat yang ia rasakan sebagai “rumah” paling tenang yang pernah ia huni seumur hidupnya.
Kesunyian hidupnya di kampung—di mana ia tinggal sendirian dan harus mengunci rumah rapat-rapat sebelum berangkat—kini berganti dengan kehangatan persaudaraan sesama jemaah.
Meski tidak bisa membaca dan sempat takut tersesat di kemegahan Masjid Nabawi, Jumariah tak pernah absen menunaikan salat lima waktu di masjid. Ia selalu berangkat paling awal, bahkan sejak pukul satu dini hari, agar tak ketinggalan momen bersujud di samping makam Rasulullah.
Di Raudhah, di antara jutaan doa yang melangit, Jumariah hanya meminta satu hal yang sangat sederhana: panjang umur agar bisa kembali lagi ke tanah suci.
Baginya, rasa damai yang ia temukan di sini adalah upah yang jauh lebih besar dari sekadar peluh dan lelah yang ia tanam di sawah selama dua puluh tahun terakhir. [ian/MCH]






