Surabaya (beritajatim.com) – Perjuangan mahasiswi Unesa Surabaya, Kirana Meilana Dwi Nada dalam menyelesaikan studinya hingga mendapat tawaran beasiswa magister dari rektor tak semulus seperti yang dibayangkan. Banyak cerita pilu dan unik dari mahasiswi Program Studi Sistem Informasi tersebut.
Ya, Kirana adalah seorang penyandang tuna daksa. Sehari-hari, untuk berjalan saja dia harus dibantu oleh kursi roda. Termasuk saat menjalani proses belajar di Unesa. Setidaknya hal itu harus ia jalani selama delapan semester atau sekitar empat tahun.
Salutnya, selama kuliah tersebut Kirana harus naik turun tangga lantaran akses menuju kelasnya, tepatnya di Unesa kampus Ketintang, Surabaya belum menyediakan fasilitas khusus bagi disabilitas. Itu berbeda dengan fasilitas kampus Lidah Wetan yang memang sudah didesain ramah disabilitas.
“Kekurangannya sebenarnya sih gedung saya tidak dirancang untuk disabilitas karena yang (ramah) disabilitas itu ada di Pendidikan Luar Biasa. Kalau di Teknik Informatika belum ada,” ujar Kirana kepada beritajatim.com ditulis Minggu (19/3/2023).
Baca Juga:
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/unesa-kukuhkan-1-618-wisudawan/
Kirana mengungkapkan, biasanya ia dibantu oleh teman-temannya melewati tangga untuk bisa naik ke lantai atas. Itulah yang juga sangat disyukurinya.
“Jadi, saya naik tangga biasanya pembelajaran kaya di lab komputer, itu di lantai tiga. Biasanya teman-teman yang membantu. Saya sangat bersyukur, kalau nggak ada teman-teman nggak tau gimana bisa belajar selama empat tahun di sini apa nggak,” ungkap wanita kelahiran Surabaya tersebut.
Baginya, kepedulian teman-teman di jurusan itulah yang membuat dirinya nyaman untuk belajar. Apalagi, kata dia, seluruh dosen di Sistem Informasi juga ramah, sehingga hal itu bisa membantunya berkembang hingga berhasil lulus dan diwisuda pada Sabtu, 18 Maret 2023 kemarin.
“Awalnya memang kurang memiliki teman dari SMA. Jadi, harus beradaptasi lagi. Tapi syukur Alhamdulillah teman-teman satu fakultas, prodi, jurusan benar-benar friendly. Saya sangat merasa terbantu karena mereka tidak memandang dari fisik saya. Dosen baik pada saya, enak diajak ngobrol. Nggak ada yang terlalu menyusahkan,” tuturnya.
Pada kesempatan wisuda kemarin, Kirana sendiri mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 atau magister. Tawaran beasiswa tersebut bahkan diberikan langsung oleh Rektor Unesa Prof Nurhasan.
Rencananya, Kirana akan mengambil tawaran tersebut, namun masih akan berdiskusi lagi dengan orang tuanya. Sebab, lanjut dia, Unesa belum menyediakan pendidikan linier dengan jurusannya. Sehingga, tidak menutup kemungkinan Kirana akan mengambil jurusan Manajemen.
“Insya Allah beasiswa diambil. Karena rezeki ya mas. Sebetulnya saya juga mau lanjut ke S2, seperti itu,” katanya.
Terpisah, Cak Hasan sapaan Rektor Unesa itu mengungkapkan bahwa pemberian beasiswa tersebut sebagai bukti komitmen Unesa sebagai kampus PTN BH yang ramah disabilitas. Di sisi lain, hal itu juga diharapkan bisa menjadi role model bagi kampus-kampus lain agar lebih aware terhadap disabilitas.
“Kita memberi dua beasiswa khusus pada anak disabilitas. Ini penting, kepedulian dan keberpihakan kita pada anak berkebutuhan khusus itu nanti bisa menjadi role model agar perguruan tinggi lain bisa berbagi untuk saudara-saudara kita yang berkebutuhan khusus itu,” kata Cak Hasan ditemui usai prosesi Wisuda Periode 105 di Graha Unesa Surabaya. [ipl/ted]






