Sidoarjo (beritajatim.com) – Pecattanda Adipati Terung tidak pernah kalah dalam pertarungan. Tokoh sakti mandraguna. Salah satu yang merasakan kesaktian Adipati Terung adalah Iman Semantri. Pemimpin prajurit Demak, murid Sunan Kali Jaga, itu dua kali mencelat digertak Adipati Terung.
Kisah kesaktian Adipati Terung termaktub dalam Babad Segaluh. Sebuah babad yang disalin pada hari Senin Kliwon, 27 Jumadilakir, Tahun Be, berangka tahun 1825, dan Pringkelan Mawulu. Babad Segaluh dialihaksarakan dan diterjemahkan oleh Adi Triyono, dkk, tahun 1982.
Dipaparkan dalam Babad Segaluh, perang terjadi antara Kerajaan Majapahit dengan Demak Bintara. Prajurit Majapahit dipimpin Adipati Terung bersama Ki Arya Tiron dan Ki Arya Puspa. Adapun prajurit Demak dipimpin Sunan Ngudung bersama Iman Semantri dan Getas Pandhawa.
Jalannya pertempuran teramat dahsyat. Babad Segaluh menggambarkan secara terperinci:
Ramening prang tambuh mungsuh lawan rowang, genti bedhil-binedhil, mimis kadya udan, watang putung parangap, panah lembing ting saliring, gebyaring wastra, lumarap ngalat thatit.
Perang seru entah lawan entah teman, tembak-menembak bergantian, peluru bagai hujan, tombang patah mencerencang, panah dan lembing beriring, kilatnya panah, laju menolak petir.
Di tengah pertempuran, Adipati Terung menerjang. Tak ada satu pun prajurit Demak berhasil melukai. Sebaliknya, banyak prajurit tewas oleh tombak Adipati Terung.
Menyaksikan situasi itu, Sunan Ngudung marah besar. Dicegatnya Adipati Terung. Dada Adipati Terung ditombak berkali-kali. Tetapi tidak mempan. Giliran dibalas, sekali ditombak, terkena bagian lambung, Sunan Ngudung langsung tewas.
Melihat Sunan Ngudung tewas, Iman Semantri bergerak menghadapi Adipati Terung. Ketika berhadap-hadapan, sebelum bertarung, keduanya sempat saling bicara lantang.
Adipati Terung berseru pada Iman Semantri: Jika memang prajurit, siapa namamu, hendak berbela mati. Engkau santri muda, jangan berperang, sayang rupamu bagus, lebih baik mengaji.
Dijawab tidak kalah lantang: Aku Iman Semantri, pemimpin perang terbaik di Bintara, sahabat Jeng Sunan Kali. Mana pusakamu, perlihatkan kesaktiannya padaku.
Iman Semantri menyerang Adipati Terung dengan tombak. Adipati Terung hanya berkelit, tidak menangkis. Tusukan tombak Iman Semantri mengenai ruang kosong. Merasa serangannya gagal, Iman Semantri membuang tombaknya. Berganti menghunus keris pusaka.
Iman Semantri memusatkan perhatian sembari membaca mantra, keris berubah seakan kobaran api membara. Dihujamkan tepat di dada lawan. Adipati Terung terhenyak. Seketika pingsan. Tetapi hanya sesaat. Adipati Terung segera sadar dan bangkit.
Adipati Terung tidak membalas dengan senjata. Dia menggertak lantang kepada Iman Semantri. Mendapat gertakan dari Adipati Terung, tubuh Iman Semantri langsung mencelat. Terlempar jauh dan tinggi keluar arena pertempuran. Bahkan terpelanting seakan terbawa angin entah ke mana. Tubuhnya sampai tidak kelihatan.
Malam hari ketika Sunan Kali Jaga selesai salat, sesosok tubuh manusia jatuh dari angkasa. Ternyata itu tubuh Iman Semantri yang mencelat terkena gertakan Adipati Terung.
Nulya Iman Semantri, dhawah sanking wiyat, aglis nulya sinangga, tinimbul mring Sunan Kali. Mendadak Iman Semantri, jatuh dari angkasa, secepatnya ditangkap, dimantrai oleh Sunan Kali.
Selesai dimantrai Sunan Kali Jaga, Iman Semantri pun sembuh. Tubuhnya kembali sehat segar bugar.
Besoknya kembali maju ke medan perang. Kembali berhadap-hadapan dengan Adipati Terung. Lah iki santri kuna bali maning, apa sira wani mring sun, lah apa gegamanira, mara tamakena mami. Lah ini santri kuno kembali lagi, apa kamu berani melawan aku, lah apa senjatamu, seni tunjukkan kepadaku.
Iman Semantri menjawab lantang. Bahwa, ini kali dia tidak memakai senjata. Sebab tangannya telah dirajah Sunan Kali Jaga. Rajah kekuatan gaib. Jika dipukulkan gunung maka gunung akan pecah, jika dipukulkan laut maka laut akan kering.
Mendapat jawaban itu, sama seperti pertempuran sebelumnya, Adipati Terung kembali menggertak. Sekali lagi, tubuh Iman Semantri mencelat. Terpelanting jauh tinggi keluar arena pertempuran. [but]






