Kediri (beritajatim.com) – Setiap orang tentu tak bisa memilih untuk memiliki buah hati yang lahir sempurna. Tetapi, takdir Tuhan tak bisa ditolak.
Suka atau tidak, kondisi yang terjadi haruslah diterima. Tentu, keikhlasan yang muncul dari rasa cinta akan menentukan kuat tidaknya seseorang menerima takdir-Nya.
Wati, seorang ibu dua anak asal Kediri, Jawa Timur, merupakan potret nyata manusia yang menerima takdirnya dengan penuh ikhlas. 18 tahun lamanya, dia membesarkan salah satu buah hati penderita hidrosefalus dengan penuh keikhlasan berkat rasa cintanya kepada sang anak.
Pun ketika sang putra, Mohammad Yudio Agus Putra, dipanggil Sang Khalik, tak ada kekecewaan pada diri Wati. Dia telah berpasrah diri pada ketentuan Ilahi. Meski ia menyadari kenangan indah selama 18 tahun membesarkan buah hatinya itu tak pernah bisa dihapus.
Wati pun membagi kisahnya lewat podcast di channel YouTube Petuah Kehidupan milik owner Galery Batik Lochatara Kediri.
Kisah Wati berawal ketika ia tengah mengandung anak pertama. Dia rutin memeriksakan diri ke bidang hingga usia kandungannya genap 9 bulan dan melahirkan.
Tidak ada hal aneh selama kehamilan itu. Tetapi, Wati harus menerima kondisi bayinya yang lahir dengan kepala menonjol. Waktu itu, Wati belum mengetahui kondisi apa yang terjadi pada anaknya.
“Mungkin di dalam kandungan anaknya memang sudah hidrosefalus. Waktu melahirkan memang kelihatan kepalanya agak menonjol,” ucap Wati.
Selain bentuk kepala, bayi laki-laki Wati tersebut tidak menangis ketika lahir. Tidak seperti bayi-bayi pada umumnya. Kondisi itu memaksa bidan berusaha membuat bayi Wati menangis. Itupun harus dibantu dengan alat medis tertentu.
“Oleh bidan dikasih alat, saya tidak tahu apa itu. Kemudian bayinya menangis, lalu dimandikan. Saya tidak tahu kalau anak itu sudah sakit sejak dari kandungan,” kata Wati.
Usai persalinan, Wati diizinkan pulang bersama Dio. Tetapi beberapa hari di rumah, Dio malah mengalami sakit kuning. Bayi itu segera dibawa Wati kembali ke bidan.
“Saya bawa ke bidan lagi, katanya tidak apa-apa mungkin kurang jemuran, seperti itu kata orang Jawa. Lalu saya bawa pulang lagi,” imbuh Wati.
Hampir setiap hari bayi Dio menangis. Wati sampai kesulitan istirahat akibat tangisan bayinya. Kata tetangga, Dio terkena sawan. Penyakit ringan yang kerap dialami anak-anak.
BACA JUGA:
UMK Naik 4,20 Persen, Pemkot Kediri Beri Sosialisasi
Karena percaya perkataan itu, Wati mengikuti saran tetangga untuk memberikan asupan jamu dan obat anti sawan kepada bayi Dio. Harapannya, kondisi bayinya membaik. Nyatanya, Dio tetap saja menangis setiap hari.
“Sebelum saya periksa ke dokter, terasa berat tangan saya ketika menggendong. Dia tidak merespon ketika diajak berkomunikasi. Semakin hari, kepalanya kelihatan otot-otot warnanya hijau, dan ubun-ubunnya semakin besar,” ucap Wati yang melihat anda tanda-tanda keanehan dari kepala anaknya.
Merasa sudah tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, Wati memutuskan memeriksakan bayi Dio ke dokter. Namun, sang dokter tidak memberikan informasi terkait apa yang dialami anaknya. Wati hanya diminta untuk meminumkan obat kepada Dio dan memeriksakan bayinya secara rutin tiap sepekan.
“Katanya, seminggu sekali disuruh ke sini. Dicek dulu kepalanya dan diukur,” kata Wati.
Setelah beberapa kali pemeriksaan, barulah dokter memberitahu Wati bahwa anaknya terdiagnosis menderita hidrosefalus. Tak tahu apa itu hidrosefalus, Wati pun bertanya kepada sang dokter.
“Dokter menjelaskan, hidrosefalus itu penyakit kelebihan cairan di kepala yang makin lama makin besar, matanya juling ke bawah dan lama-kelamaan badannya kecil,” kata Wati dengan bersedih.
Sang dokter kemudian memberikan surat rujukan kepada Wati agar sang anak dibawa ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Wati sempat bingung bagaimana jika dia berada di Surabaya.
Tak ada satupun keluarga maupun kerabat yang dia punya di Kota Pahlawan itu. Masalah lain, dia tak punya cukup uang untuk pengobatan anaknya di Surabaya.
Wati pun pulang dan memberikan obat kepada anaknya sesuai resep dari dokter itu. Tetapi, justru muncul keanehan pada bayinya.
“Setelah saya kasih obat itu dari dokter, anaknya malah tidak bergerak sama sekali. Dia diem. Seperti tidak memejamkan mata, juga tidak membuka mata, seperti anak koma,” ungkap Wati.
Khawatir dengan kondisi Dio, Wati segera membawa anaknya ke Rumah Sakit Baptis Kediri. Tepat setelah sehari usai dia mendapat surat rujukan.
Dokter dari RS Baptis Kediri juga mendiagnosis Dio menderita hidrosefalus. Wati juga mendapat surat rujukan agar segera membawa anaknya ke Surabaya, sama seperti dokter sebelumnya.
“Lalu saya pulang dan rundingan dengan keluarga. Karena di Surabaya, kita harus punya biaya banyak,” kata dia.
Tetapi, ada tetangga yang memberitahu Wati untuk tidak membawa anaknya ke Surabaya. Tetangga itu menyarankan agar Dio dibawa berobat ke RSUD Gambiran Kediri, karena ada dokter spesialis di fasilitas kesehatan tersebut.
Rasa sedih tentu menyelimuti Wati saat harus menerima kenyataan buah hatinya didiagnosis menderita hidrosefalus. Tetapi, dia memilih tidak mau larut dan segera mencarikan solusi untuk anak. Karena dia yakin, apa yang dialaminya adalah ketentuan dari Tuhan.
“Kalau kita disuruh memilih, kita milih yang terbaik. Tapi Allah berkehendak lain, ini pilihan dari Allah,” katanya.
Tanpa pikir panjang, Wati ditemani sang suami membawa bayi Dio berobat ke RSUD Gambiran. Di sana, mereka memeriksakan Dio ke dokter yang direkomendasikan tetangga tersebut.
Mulanya, Wati sempat bingung lantaran dokter yang bersangkutan bertanya sekaligus memberi saran yang sama. Membawa Dio berobat ke RSUD dr Soetomo Surabaya.
“Saya bilang kepada dokter bahwa kami tidak punya saudara dan tidak punya biaya di Surabaya. Anak saya akhirnya akan dioperasi di sana (RS Gambiran). Tapi sebelum itu, saya disuruh CT scan di Blitar. Karena waktu itu di Gambiran alatnya tidak ada,” kata Wati.
Wati sempat bertanya kepada dokter soal biaya yang harus mereka keluarkan apabila anaknya dioperasi. Tetapi dokter spesialis bedah itu berusaha memenangkan hati Wati dengan tidak menyebut besarnya biaya operasi.
“Dokter menenangkan saya dengan bilang, biayanya di RSUD Gambiran itu termurah sedunia. Kemudian saya sama ayahnya pergi ke Blitar naik motor untuk membawa Dio ke sana. Di sana CT scan dan dinyatakan positif hidrosefalus,” kata Wati.
Setelah hasil CT Scan keluar, Wati kembali ke RSUD Gambiran Kediri. Tetapi, operasi Dio harus menunggu sehari lagi. Sebab, ada jadwal operasi anak yang mengidap kangker otak sebelum Dio ditangani.
Tiba waktu operasi Dio, Wati dan suami menunggu dokter bedah bekerja. Operasi berjalan singkat, tidak sampai 1 jam.
“Waktu mau operasi dokter bilang dijelaskan soal hidrosefalus. Kalau hasil CT scan hidrosefalus, maka di dalam tubuhnya akan dipasang selang. Tapi kalau anak kamu hedronsefali, kamu mau alternatif manapun monggo, silakan. Itu sudah parah, dan tidak bisa sembuh,” jelas Wati.
Pemasangan selang di dalam tubuh dimaksudkan untuk membantu melancarkan proses masuknya makanan ke dalam lambung. Sebab, pada penderita hidosefalus, makanan tidak bisa masuk ke lambung melainkan langsung ke kepala.
Operasi selesai. Dokter meminta Wati rutin memantau kondisi Dio agar infeksi. Karena apabila terjadi infeksi, operasi harus diulang.
“Saya dikasih tahu, kalau kelihatan merah di selangnya, maka dikompres di selangnya menggunakan cairan infus. Semoga tidak terjadi infeksi, karena kalau infeksi, harus operasi lagi. Saya hanya bisa berdoa saja kepada Allah. Kalau Allah memberikan sesuatu kalau kita ikhlas, pasti kasih jalan terbaik. Itu saja,” ucap Wati.
Operasi itu berlangsung saat Dio masih berusia 2,5 bulan. Pada mulanya, banyak keluarga Wati yang tidak setuju dan menentangnya, karena menelai masih terlalu kecil untuk dioperasi. Keluarga juga mengajak Wati untuk memilih melakukan pengobatan melalui jalur alternatif.
“Sebenarnya ada keluarga yang mengajak saya secara alternatif, tapi saya lebih yakin sama pak dokter. Akhirnya anak saya dioperasi dan berhasil,” kata Wati yang tidak henti-hentinya mengucap syukur.
Meskipun operasi dinyatakan berhasil, tapi Dio selalu rutin periksa ke dokter. Dia juga harus minum obat setiap hari seumur hidupnya.
“Selama dia sakit, saya rutin periksakan Mas Dio. Ketemu pak dokternya dan bu dokter di Rumah Sakit Gambiran itu sudah biasa. Istilahnya yang memantau anak saya dari kecil sampai besar, sampai pengobatan,” terangnya.
Sering Kejang
Meskipun mengidap penyakit hidrosefalus, Dio bisa tumbuh menjadi anak yang sehat. Sampai menginjak usia 2 tahun, tak ada hal aneh yang ditunjukkan Dio.
Tetapi setelah usianya 2 tahun, masalah kesehatan mulai muncul. Dia kerap kejang. Biasanya ketika kelelahan atau karena menangis.
BACA JUGA:
Wujudkan Kota Kediri Nyaman, DPUPR Sosialisasi Aplikasi SITR
Itu yang membuatnya harus mengkonsumsi obat setiap harinya agar tidak kejang. Sebab, penyakit ini menyerang pusat syaraf.
“Kalau dia tidak minum obat, dia kejang bisa 3 jam. Anaknya tidak sadar. Kalau di rumah saya sedia obat namanya Sesolin, waktu dia kejang, saya masukkan obat itu. Kalau sudah sadar, tidak usah dibawa ke rumah sakit, tapi kalau terus kejang, saya bawa ke rumah sakit,” terang Wati.
Karena anaknya membutuhkan banyak biaya berobat, ayah Dio kemudian pergi ke luar negeri. Dia menjadi seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Wati harus rela berpisah jauh dengan suami demi kesehatan buah hatinya. Dia juga harus berjibaku mengurus sendiri anaknya saat sakit, terutama ketika Dio kejang-kejang.
Saat parah, Dio bisa kejang selama 3 jam tidak sadar. Kemudian saat sadar, biasanya Dio menjadi linglung. Atau kalau tidak dia menjadi marah-marah.
Biasanya Wati merawat anaknya di rumah. Kemudian apabila tidak sanggup, membawanya ke rumah sakit. Jadi, rumah sakit sudah seperti rumah kedua baginya. Dio terbiasa opname 2-3 hari di rumah sakit, lalu pulang ketika sudah sehat.
Masuk Sekolah
Meskipun menyadari anaknya sakit dan penyakitnya mungkin tidak akan sembuh, tapi Wati ingin Dio tumbuh seperti anak pada umumnya. Makanya, dia memasukkan anaknya ke Taman Kanak-kanak (TK) umum.
“Kecilnya masih kelihatan normal. Dia bisa main, bisa sepedahan, berlari-lari dengan teman-temannya. Anaknya sehat. Tetapi saya sempat EEG di Surabaya, dan dokter menyatakan motoriknya beramasalah,” kata Wati.
Efek dari gangguan motorik itu membuat Dio tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi bagi Wati semua itu tidaklah penting. Dia hanya ingin anaknya hidup sehat dan bisa bersosialisasi dengan teman-temannya.
Setelah lulus TK, guru Dio menyarankan agar Wati menyekolahkan anaknya di sekolah khusus. Dan Wati menyadarinya. Dia juga tidak ingin anaknya menjadi korban bullyng oleh teman-temannya ketika harus memilih di sekolah umum.
Akhirnya Wati menyekolahkan Dio di Sekolah Luar Biasa (SLB) Putra Asih di Semampir, Kota Kediri. Pada waktu masuk kelas 1 SD, Dio dites psikologi sebagai sebagai syarat pertama sekolah di SLB.
“Anak saya termasuk tuna grahita ringan. Disitu ada anak tuna grahita ringan, ada tuna grahita berat, ada tuna rungu. Itu disendiri-sendirikan. Sebelum masuk itu dites psikolog. Alhamdulillah anak saya masih grahita ringan,” ucap Wati.
Wati tidak pernah berhenti bersyukur, karena anaknya bisa hidup dan bersekolah meskipun mengidap penyakit berat. Apalagi, banyak penderita hedrosefalus yang gagal dalam operasi.
Bahkan, anak dari saudara suaminya juga mengalami hal yang sama. Setelah tiga kali dilakukan operasi di Surabaya, ternyata gagal dan akhirnya meninggal dunia.
“Saya dikasih petuah oleh dokter Mahmud saat beliau masih hidup. Tapi sekarang beliau sudah almarhum. Petuahnya bahwa hidup itu di tangan Allah, maka saya iklhas menjalani ini,” kata Wati.
Sebenarnya Dio masuk kelas 1 SDLB di usia 9 tahun. Tau terlambat 3 tahun. Tapi dia bisa menyelesaikan sekolahnya hingga lulus SMP. Tetapi karena tahun 2019 itu terjadi wabah Covid-19, Wati memilih untuk tidak menyekolahkan Dio ke jenjang diatasnya.
“Kalau nama orang, dia itu ingat, kalau barangnya siapa, dia ingat. Kalau baca tulisnya, dia tidak bisa. Tapi yang penting dia bisa sosialisasi dengan temannya, kalau di sekolah SD umum, saya takut anaknya dibully,” tegas Wati.
Semakin besar, kata Wati, Dio menjadi malu untuk bertemu dengan orang. Dia lebih memilih berada di rumah.
Detik-detik Dipanggil Sang Khalik
Wati sangat bersyukur Dio bisa bertahan hidup hingga 18 tahun. Tentunya bukan waktu yang singkat dalam sebuah kebersamaan keluarga. Meskipun semuanya butuh perjuangan yang berat.
Sebenarnya saat anak pertamanya sakit, Wati tidak mau hamil lagi. Tetapi para tetangganya menyarankan supaya dia memiliki anak lagi. Akhirnya jarak 11 tahun dari Dio, lahirlah anak kedua mereka yang diberi nama Aisyah.
Wati selalu teringat hari-hari dimana, Dio akan pulang meninggalkan keluarga kecil itu untuk selama-lamanya. Sang ayah masih berada di perantauan dan tidak bisa menemani kakak dari Aisyah itu.
“Dia badannya panas. Waktu itu saya pulang kerja, suhunya sampai 39,5 derajat. Dia tidak ngomong, hanya diam saja. Kemudian saya beri obat, tapi makannya semakin berkurang. Mau pergi ke belakang, dia seakan mau jatuh, mintanya diantar,” terang Wati.
Seminggu lamanya Wati merawat Dio yang sakit untuk terakhir kalinya. Karena kondisinya semakin memburuk, Wati sempat membawanya ke Rumah Sakit (RS) Aura Syfa Kediri.
Sayangnya, waktu itu Dio tidak mendapat kamar karena sudah penuh. Akhirnya dia harus rawat jalan. “Karena kondisinya tambah parah, mungkin terlalu parah. Saya tunggu di rumah, dia ngorok dan badannya dingin semua. Akhirnya saya bawa ke RS Bhayangkara,” beber Wati.
Waktu itu wabah covid-19 sedang ganas-ganasnya, pada tahun 2019. Wati merasa takut apabila harus membawa Dio bolak-balik ke rumah sakit, karena tidak ingin anaknya terpapar corona.
“Karena keadannya parah, saya pergi ke rumah sakit, disitu anak saya dirapid. Katanya anak saya juga kena sinus. Kadar gulanya sampai 700. Terus panasnya 40 derajat, itu anak saya koma,” terang Wati.
Dokter hanya berpesan kepada Wati supaya dia banyak berdoa. Kemudian, Wati menghubungi suaminya yang sedang berada di luar negeri. Mereka sempat video call beberapa saat sebelum detik-detik Dio akan pergi.
“Rencananya, ayahnya mau pulang bulan April. Saya merasakan batin saya sakit. Anaknya sakit, ayahnya tidak bisa pulang selama 5 tahun, tidak bisa pulang. Terus ayahnya bilang minta maaf tidak bisa menjaga Dio,” kata Wati sambil menangis.
Setelah dokter menasehati Wati supaya banyak berdoa, dia membisikkan sesuatu di telinga Dio. Kata-kata terakhir dari seorang ibu kepada buah hatinya. “Kalau kakak mau pulang, ya sudah, ibu ikhlas kak. Kakak mantuk. Kakak mungkin sudah capek,” ucap Wati menirukan kata-katanya saat berbisik ke telinga anaknya.
Wati memang sudah memiliki firasat buah hatinya itu akan pergi untuk selama-lamanya. Seminggu, Dio selalu berkata kepadanya bahwa dia akan pulang. “Dia pesan kepada saya, kalau dia mau pulang. Cuma dia bilang mau pulang, mau pulang itu saja,” kata menangis.
“Di rumah sakit terakhir habis isya saya bawa kesana. Jam 00.30 WIB dia meninggal. Dia dipanggil sama Allah. Ibu ikhlas. Lalu saya bacakan sholawat dan istighfar,” ucap Wati sambil mengusap air mata di pipinya.
Wati mengaku, memetik pelajaran berharga dari perjuangan merawat Dio. Menurutnya, sabar bisa dilakukan, tetapi ikhlas itu adalah hal yang sulit. Tapi dia yakin, akan digantikan Allah kelak di Surga, mereka bisa hidup bersama-sama disana.
“Mungkin anak saya dijadikan ladang pahala di Surga. Dijaga dengan baik. Yang saya selalu ingat, anaknya tekun sholat. Alhamdulillah, dia tidak pernah meninggalkan Sholat Jumat. Dia kalau meninggakan sholat jumat, dia marah-marah,” tutupnya. [nm/beq]






