Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 30 guru honorer di Jawa Timur (Jatim) berhasil mengembangkan usaha legal lewat Program Terapan Ekonomi Guru (PROTEG) yang digagas Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim.
Para guru honorer tersebut menjalankan beragam unit usaha, mulai kuliner, permainan anak-anak, tata busana, jasa pendidikan, percetakan, hingga sektor kreatif yang berkembang secara berkelanjutan.
Dindik Jatim menyebut seluruh usaha yang dibangun peserta telah dilengkapi legalitas, sehingga memberi kepastian hukum serta memperkuat peluang ekspansi usaha melalui jejaring pasar yang lebih luas.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan PROTEG menjadi langkah konkret untuk menjawab kebutuhan kesejahteraan guru honorer yang selama ini membutuhkan dukungan ekonomi lebih kuat.
“PROTEG bukan sekadar program, tetapi bukti nyata kepedulian. Kita melihat langsung guru-guru honorer yang kini mampu berdiri mandiri secara ekonomi, dengan usaha yang legal dan berkelanjutan,” ujar Aries, Kamis (5/2/2026).
Aries menilai keberhasilan program juga dipengaruhi kolaborasi antara Dindik Jatim dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), terutama dalam pendampingan kewirausahaan yang memperkuat kapasitas manajemen usaha peserta.
“Ketika kesejahteraan guru terjaga, semangat mengajar akan semakin kuat,” kata Aries.
Dindik Jatim juga telah memberikan apresiasi kepada 30 guru honorer yang dinilai mampu menjaga konsistensi dan ketekunan dalam membangun usaha produktif di tengah keterbatasan.
Salah satu penerima apresiasi adalah Aryo Saputro Panji Rianto, guru SMA Negeri 3 Malang yang mengembangkan produk Coffee Mbah setelah usahanya sempat berhenti total akibat pandemi.
Aryo menyebut usahanya kembali bangkit setelah mengikuti PROTEG pada 2025, hingga kini produknya memasok sekitar 20 coffee shop di sejumlah kota di Indonesia.
Selain kopi, Aryo juga mengembangkan usaha parfum daring dengan omzet mencapai Rp10 juta per minggu.
“Kegagalan bukan akhir, melainkan jeda untuk bangkit lebih kuat,” kata Aryo.
PROTEG juga mendorong pengembangan usaha berbasis jasa pendidikan, seperti yang dilakukan Farah, guru SMK 5 Taruna Kediri, yang membangun bimbingan belajar dengan pendekatan minat dan potensi siswa.
Sejak mengikuti PROTEG, Farah mengaku kapasitas manajemen usahanya meningkat, sehingga kepercayaan orang tua bertambah dan jumlah siswa bimbingannya kini hampir mencapai 50 orang.
Dari usaha tersebut, Farah mencatat omzet bulanan sekitar Rp6 juta dari layanan pendidikan tambahan yang dikelola secara mandiri.
Dosen Technopreneurship ITS sekaligus pendamping usaha PROTEG Zainul Asrori menyebut perubahan pola pikir menjadi fondasi penting agar guru honorer mampu bertahan dalam dunia usaha.
“Sebelum bekal teknis, yang ditanamkan adalah pola pikir bertumbuh. Ketika mindset berubah, kemampuan teknis akan mengikuti,” ujar Asrori.
Menurut Asrori, peserta PROTEG memiliki keunggulan karena mampu membaca kebutuhan lingkungan sekolah, memanfaatkan kedekatan sosial sebagai peluang pasar, serta mengubah keahlian mengajar menjadi jasa usaha yang relevan.
“Inilah kekuatan unik guru honorer sebagai pelaku usaha. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi juga nilai dan dampak,” kata dia.
Ia menilai keberhasilan peserta di sektor kopi, kuliner, jasa pendidikan, dan produk kreatif bukan hasil instan, melainkan proses disiplin, konsistensi, dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Asrori menyebut PROTEG menunjukkan bahwa guru honorer dapat menjadi pelaku usaha tangguh jika didukung pendampingan yang tepat serta ekosistem yang mendorong pertumbuhan.
Dindik Jatim menegaskan PROTEG diarahkan sebagai program pemberdayaan ekonomi sekaligus investasi sosial jangka panjang untuk memperkuat kesejahteraan guru honorer dan kontribusi mereka dalam pembangunan daerah. [ipl/ian]






