Banyuwangi (Beritajatim.com) — Selat Bali, yang biasanya membisikkan angin tenang, malam itu berubah menjadi saksi bisu pilu keluarga Misatun Altuniyah (44).
Di balik gelombang yang menelan KMP Tunu Pratama Jaya pada Rabu (2/7), tersimpan kisah cinta dan kehilangan yang membekas, seolah abadi di hembusan angin pantai.
Misatun, warga Kelurahan Klatak, Lingkungan Sukowidi, Kalipuro, Banyuwangi tak pernah membayangkan pesan singkat bertuliskan sayang dari sang suami, Eko Satriyo (51), menjadi penggal kata perpisahan terakhir.
Suaminya yang sehari-hari menempuh jalan sebagai sopir truk tronton, mengangkut semen ke Singaraja, Bali, berangkat bersama putra tercinta, Eko Toniansyah.
Si anak yang sejak sebulan lalu setia jadi kernet ayahnya, tak menyangka malam itu mereka berdua akan berjuang di batas hidup dan maut.
“Suami saya sempat hubungi sekitar jam sepuluh malam, minta saya tolong kabari adiknya soal urusan kantor,” kenang Misatun, suaranya meredam tangis yang seolah tak habis.
Setelah obrolan kecil itu, ia memejamkan mata, tanpa firasat, tanpa mimpi buruk. Tapi pukul dua dini hari, kabar yang menampar dada datang — kapal yang ditumpangi suami dan anaknya karam dihempas ombak di Selat Bali.
“Begitu dengar kabar, saya langsung lari ke pelabuhan, ingin memastikan sendiri,” ujarnya, matanya nanar menatap laut yang dulu akrab.
Pada Kamis pagi (3/7), ketika fajar mengintip di ufuk timur, kabar kepastian datang. Eko Satriyo, sang kepala keluarga, ditemukan tak lagi bernyawa di perairan Jembrana, Bali. Hanya sang putra, Toni, yang pulang membawa napas, namun juga luka di dada.
Dari bibir Toni, Misatun mendengar potongan detik-detik horor yang akan terus terpatri di benaknya. Kala itu, Toni berdiri di dek kapal, sedang ayahnya tertidur di dalam truk. Malam dingin, rokok ayah habis. Eko Satriyo naik ke dek, menyalakan sebatang rokok di bawah bintang, menemani Toni menghalau kantuk.
Namun, gelombang tiba-tiba menghantam keras, menggoyang kapal hingga miring. Tak sempat banyak bertanya, ombak kedua datang, lebih tinggi, lebih buas. Dalam hitungan menit, KMP Tunu Pratama Jaya pun ditelan gelapnya laut.
“Mereka sempat pakai pelampung, berdiri di pinggir dek sambil nunggu kapal tenggelam. Katanya sempat terseret ke bawah laut, 20 detik katanya. Naik lagi ke permukaan, suami saya sudah nggak sadar, anak saya masih bisa bertahan,” tutur Misatun, menahan isak.
Laut yang merenggut ayahnya, justru menjadi ranjang terapung bagi Toni. Bocah itu bertahan di laut dari tengah malam, hingga pukul lima pagi, menggenggam jasad ayahnya erat-erat, enggan melepas. Hingga akhirnya, nelayan menjemputnya dari samudra dingin.
“Anak saya masih memegang bapaknya, sampai fajar. Dia bilang nggak mau ninggalin bapaknya sendirian di laut,” kisah Misatun dengan mata berkaca.
Di balik perih, terhampar pula kenangan manis Eko Satriyo di rumah. Bagi Misatun, almarhum bukan hanya pencari nafkah. Ia suami penyayang, bapak dermawan bagi anak kandung maupun empat anak angkatnya. Ia sering menitipkan doa, mengirim obat herbal, dan mengingatkan istrinya agar selalu mendekat pada Tuhan.
“Suami saya perhatian banget. Sakit saya diabetes, dia sering nitip obat, ngingetin salat. Terakhir dia pesan saya baca ayat kursi sebelas kali,” lirihnya.
Tak hanya itu, sebelum berlayar, Eko sempat merengkuh putri mereka, Marta Aulia Zaskia (15), erat-erat — pelukan yang terasa lain, seolah pamit tanpa kata. Ia pun mencium Misatun berulang, meninggalkan bekas cium di kening yang kini terasa hangat meski jasadnya telah dingin.
“Waktu itu dia bisik, ‘istriku sayang, maafkan aku’. Saya kira dia bercanda, ternyata itu pesan terakhir,” pungkas Misatun, menutup kisah cintanya dengan sesak di dada. (ted)






