Banyuwangi (beritajatim.com) – Aksi sekelompok anak logam nekat lompat demi mendapat rupiah di Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menjadi hiburan tersendiri bagi para pemudik.
Anak logam yang biasa ada di Pelabuhan ketapang tersebut berkelompok dari berbagai usia. Mereka ‘mengamen’ dengan meminta uang receh agar dilempar ke laut, lalu berebut untuk mengambilnya.
Tak lama berselang, beberapa penumpang kapal terlihat melempar beberapa lembaran uang hingga koin ke arah laut. Para bocah dengan sigap berlomba mengejar uang tersebut sebelum nantinya diambil penyelam lainnya
Semakin banyak lembaran uang hingga logam dilempar, semakin banyak atraksi para anak logam yang ditunjukkan sebelum melompat ke laut.
“Menjelang hari raya Idulfitri banyak pemudik yang naik kapal. Alhamdulillah pendapatan kami juga bertambah,” kata Andika, salah satu anak logam yang ada di Pelabuhan Ketapang.
Para anak logam memiliki penampilan unik. Uniknya, banyak dari mereka rata-rata masih berusia belasan tahun. Untuk lebih memudahkan berenang, para anak logam bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana tipis untuk menyelam.
Akibat setiap hari terpapar matahari dan terkena air laut, tak heran warna kulit mereka legam mengkilat dan memiliki rambut pirang.
Meski harus terus melompat ke laut demi mendapatkan recehan dari para penumpang, namun Andika bersama kawan-kawan tetap bersemangat dan ceria.
Mereka mengaku, senang bertemu banyak wisatawan yang tidak hanya warga lokal bisa memberikannya uang dan menyapa dengan berbagai bahasa.
“Banyak juga bule yang melempar uang ke kami, nominalnya juga tidak sedikit. Kadang ada yang sampai Rp50.000. Kalau musim mudik seperti ini bisa dapat pemasukan Rp500.000 per hari,” ujarnya.
Meski terlihat banyak mendapat pemasukan, namun Andika mengungkapkan, jika uang yang didapatnya itu ternyata dibagi dengan tiga orang lainnya.
“Kalau banyaknya dapatnya juga banyak. Kalau harian ya cukup saja untuk makan. Biasanya sehari Rp 50.000 kalau musim hari besar begini per wisatawan bisa ngelempar segitu,” pungkas pemuda Asli Bogor itu. [tar/ian]






