Jakarta (beritajatim.com) – Di usia lebih dari satu abad, Kilang Plaju yang merupakan salah satu unit operasi PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) masih menunjukkan performa produksi bahan bakar yang optimal. Kilang berkapasitas pengolahan 126 ribu barel per hari ini berkontribusi sekitar 12 persen dari total kapasitas pengolahan kilang milik Pertamina.
Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menjelaskan bahwa Kilang Plaju tetap menjadi penopang utama pasokan energi di Sumatera Bagian Selatan.
“Kilang Plaju merupakan salah satu bukti bagaimana pengelolaan kilang bisa tetap berkontribusi. Dibangun lebih dari 1 abad, Kilang Plaju masih terus beroperasi sebagai penyokong energi nasional. Berbagai upaya dan inovasi memang terus dilakukan tidak hanya untuk menjaga kilang tetap beroperasi, tetapi juga agar kilang tetap relevan dengan zaman,” ujarnya.
Dengan kapasitas yang dimiliki, kilang ini menghasilkan beragam produk BBM dan petrokimia yang menyuplai hingga 60 persen kebutuhan energi di Sumatera Bagian Selatan. Produksi gasoline mencapai lebih dari 3 juta barel, gasoil di atas 9 juta barel, LPG 85 ribu ton, serta avtur lebih dari 175 ribu barel.
“Produksi ini menunjukkan betapa pentingnya Kilang Plaju dalam menjaga ketersediaan bahan bakar untuk masyarakat dan industri di wilayah Sumatera Bagian Selatan khususnya dan Indonesia pada umumnya,” kata Milla.
Selain memproduksi bahan bakar minyak seperti Solar, Bio Solar, Pertalite, dan Avtur, Kilang Plaju juga menghasilkan produk non-BBM seperti Polytam, SBPX, LPG, Decant Oil, serta produk intermedia seperti Naptha, POD, dan LRes.
Kilang Plaju juga mendukung program swasembada energi melalui produksi biodiesel berbasis minyak sawit. “Bersama Kilang Kasim, Kilang Plaju turut mendukung program pemerintah dalam menghasilkan produk Biosolar 40 persen atau B40,” ujar Milla.
Sejak 2019, program biodiesel di kilang ini berkembang dari B20 menjadi B30 dan B35, hingga akhirnya pada Januari 2025 berhasil memproduksi dan mengirimkan B40 dengan kapasitas 750 ribu barel per bulan. “Biodiesel B40 yang diproduksi Kilang Plaju tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga memberi dampak positif bagi sektor perkebunan sawit melalui penyerapan bahan baku FAME sebesar 40 persen,” tambahnya.
Dalam upaya menuju industri yang lebih hijau, Kilang Plaju juga berinovasi lewat produk pendingin ramah lingkungan Breezon MC-32 berbasis hidrokarbon. Produk yang diproduksi sejak 2020 ini diklaim hemat energi dan tidak merusak lapisan ozon, sebagai alternatif dari refrigeran lama seperti CFC dan HCFC yang telah dilarang.
Salah satu keunikan Kilang Plaju adalah masih digunakannya pembangkit gas turbine sebagai sumber energi utama. Teknologi ini terbukti stabil dan efisien dalam mendukung kelancaran produksi. Keandalan sistem tersebut menjadi kunci keberhasilan kilang dalam menjaga suplai energi nasional secara berkelanjutan.
Kilang Plaju juga mencatatkan rekor keselamatan kerja dengan 143 juta jam kerja aman (JKA) kumulatif sejak 9 Desember 2009 hingga Agustus 2025.
“Ibarat buah kelapa tua yang makin banyak santannya, Kilang Plaju semakin matang di usianya yang telah lebih dari satu abad. Kilang ini tidak hanya menjadi tulang punggung pasokan energi di Sumatera Bagian Selatan, tapi juga simbol kemandirian energi Indonesia. Kilang ini tetap relevan dengan zaman,” tutup Milla. [hen/beq]






