Jakarta (beritajatim.com) – PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat ketahanan energi nasional hingga ke wilayah paling timur Indonesia melalui pengelolaan Kilang Kasim di Papua Barat Daya. Kilang yang dibangun sejak 1995 dan mulai beroperasi pada Juli 1997 itu menjadi simbol pemerataan energi di Tanah Air.
Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, mengatakan bahwa Kilang Kasim berperan strategis dalam memastikan keadilan akses energi bagi seluruh masyarakat Indonesia, terutama di kawasan timur.
“Keberadaan Kilang Kasim merupakan salah satu wujud kiprah Pertamina memberi energi bagi seluruh wilayah Indonesia, dari barat hingga ke timur,” ujar Milla dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/10/2025).
Selain menjadi bagian penting dari mata rantai ketahanan energi nasional, lanjut Milla, Kilang Kasim juga memacu pembangunan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Keberadaannya memiliki karakter unik dibandingkan kilang lain karena beroperasi di wilayah terpencil (remote area) dengan sistem kerja on-off.
“Walaupun demikian, lebih dari 50 persen pekerja organik di Kilang Kasim merupakan orang Papua,” jelasnya.
Menurut Milla, keberadaan kilang ini tidak hanya menjaga pasokan energi nasional, tetapi juga menjadi wujud nyata kehadiran negara di wilayah timur. Kilang Kasim membuka lapangan kerja baru dan memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.
Kilang Kasim memiliki kapasitas pengolahan mencapai 10 ribu barel per hari dan memproduksi produk BBM utama seperti Pertalite dan Biosolar B40 — bahan bakar yang digunakan dalam aktivitas harian masyarakat.
“Sebelumnya kebutuhan BBM di beberapa wilayah Papua dipasok dari Kilang Balikpapan. Dengan beroperasinya Kilang Kasim, maka kebutuhan BBM khususnya di Papua dan Maluku dapat dipenuhi langsung dari sini,” tutur Milla.
Keberadaan Kilang Kasim sekaligus menegaskan peran Pertamina sebagai lokomotif energi nasional yang memastikan distribusi energi tidak hanya terpusat di wilayah barat, tetapi merata hingga ke pelosok Nusantara. [hen/beq]






