Ringkasan Berita:
- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta KONI Jatim memperkuat pembinaan atlet usia dini untuk menjaga regenerasi prestasi olahraga.
- Pembinaan sejak dini dinilai penting karena sejumlah cabang olahraga pada PON kini menerapkan batas usia atlet.
- Khofifah mendukung penyelenggaraan Porprov sebagai ajang menjaring bibit atlet potensial dari seluruh Jawa Timur.
- KONI Pusat juga meminta pembinaan atlet muda menjadi prioritas agar target prestasi pada PON 2028 dapat tercapai.
Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi berbagai prestasi yang telah diraih Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur bersama seluruh cabang olahraga dan KONI kabupaten/kota. Namun, di tengah capaian tersebut, Khofifah mengingatkan pentingnya memperkuat pembinaan atlet usia dini sebagai strategi menjaga regenerasi dan daya saing olahraga Jawa Timur.
Menurut Khofifah, perubahan regulasi pada sejumlah cabang olahraga di Pekan Olahraga Nasional (PON) yang kini menerapkan pembatasan usia membuat proses pencarian dan pembinaan atlet berbakat harus dilakukan lebih awal.
“Pencarian bakat sejak usia dini menjadi catatan penting. Pendampingan atlet muda juga harus dilakukan lebih masif agar prestasi olahraga Jawa Timur tetap terjaga,” ujarnya saat menghadiri Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Jawa Timur di Surabaya, Kamis (25/6/2026).
Khofifah juga memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang digelar setiap dua tahun sekali. Menurutnya, ajang tersebut menjadi sarana strategis untuk menjaring bibit atlet potensial dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Ia berharap Rakerprov KONI Jawa Timur mampu menghasilkan langkah-langkah konkret dalam mempersiapkan atlet menghadapi berbagai agenda olahraga, mulai dari Porprov, PON, hingga Olimpiade.
Sementara itu, Wakil Ketua KONI Pusat Suwarno turut menekankan pentingnya pembinaan atlet usia dini sebagai fondasi regenerasi prestasi olahraga nasional. Ia meminta KONI daerah menyesuaikan pola pembinaan dengan ketentuan batas usia yang berlaku di masing-masing cabang olahraga.
Menurut Suwarno, pembinaan atlet muda harus menjadi prioritas utama agar proses regenerasi berjalan optimal sekaligus mendukung pencapaian target prestasi pada PON mendatang.
“Ada sejumlah data dan rekomendasi dari KONI Pusat yang perlu menjadi fokus pembinaan. Terutama terkait penjaringan dan pengembangan atlet usia dini agar dilakukan lebih awal dan terarah,” katanya.
Ia menilai pembinaan yang dilakukan secara terencana sejak usia muda akan memperbesar peluang Jawa Timur mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung atlet nasional.
Dengan berbagai prestasi yang telah diraih serta penguatan sistem pembinaan yang semakin terstruktur, Jawa Timur optimistis mampu terus menjadi salah satu kekuatan utama olahraga nasional. Regenerasi atlet sejak usia dini diharapkan menjadi modal penting untuk meraih hasil yang lebih baik pada PON 2028 sekaligus melahirkan atlet yang mampu bersaing di level internasional. [way/beq]






