Jombang (beritajatim.com) – Ketua PWNU (Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar menghadiri istighasah kubro dalam rangka Satu Abad NU yang digelar di PPMM (Pondok Pesantren Mambaul Maarif) Denanyar Kabupaten Jombang Jawa Timur, Selasa (7/2/2023).
Selain Kiai Marzuki, acara tersebut juga dihadiri ulama lainnya. Di antaranya, KH Abdurrohman Al Kautsar dari pesantren Al Falah Ploso Kediri, serta KH Yusuf Chudlori pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salafi Tegalrejo Magelang. Hadir pula Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar.
Pengasuh PPMM Denanyar KH Abadussalam Sohib menjelaskan bahwa acara tersebut merupakan istighasah kubro dalam rang Satu Abad NU. Tujuannya, mendoakan para ulama dan pendiri NU. Acara yang digelar di masjid pesantren tersebut juga dihadiri seluruh santri Denanyar.
[berita-terkait number=”3″ tag=”satu-abad-nu”]
Acara doa bersama ini digelar setelah para ulama tersebut menghadiri Resepsi Satu Abad NU di GOR Sidoarjo. “Kami keluarga besar pondok Denanyar melakukan istighasah kubro. Karena pondok ini didirikan oleh salah satu pendiri NU, KH Bisri Syansuri. Seluruh santri dan pengasuh mengikuti tahlil akbar dan istighasah akbar. Ini untuk mengenang, meneladani, sejarah dan kebaikan para pendiri NU,” kata Gus Salam, panggilan akrab KH Abadussalam Sohib.
Di Sidoarjo sudah dilakukan Resepsi Satu Abad NU, kok di Denanyar melakukan acara lagi. Apa ini tandingan? “Tidak begitu. Tidak ada. Kalau di Sidoarjo itu sifatnya umum. Acaranya juga lebih pada resepsi. Kalau di Denanyar ini kami ngin melaksankan murni spiritual. Karena di sini tempatnta salah satu pendiri NU,” katanya menegaskan.
Sementara itu Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar ketika ditanya soal ada tidaknya unsur politik pada Resepsi Satu Abad NU di Sidoarjo, enggan mengomentari. Dia hanya mengatakan bahwa semua orang bisa menilai. “Orang tahu sendiri, silakan dianalisa sendiri, silakan melakukan prediksi-prediksi, penafsiran-penafsiran. Monggo terserah masyarakat,” katanya singkat.

Acara istighasah kubro di masjid yang berdekatan dengan makam KH Bisri Syansuri itu berlangsung dengan khusuk. Ratusan santri memadati lokasi. Mereka melafalkan kalam-kalam illahi. Sedangkan sejumlah ulama yang hadiri duduk di panggung utama. Semuanya duduk secara lesehan.
Seperti diberitakan, NU merayakan usianya satu abad di GOR Delta Sidoarjo, Selasa (7/2/2023). Organisasi ini lahir pada 16 Rajab 1344 H (kalender Hijriah), bertepatan dengan 31 Januari 1926 (masehi). Tahun ini NU berusia satu abad atau 100 (1344-1444 H).
Saat pertama berdiri, NU dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar. Ada tiga kiai yang menjadi pendiri organisasi tersebut, yakni Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari dari pesantren Tebuireng, KH Abdul Wahab Chasbullah dari pesantren Tambakberas, serta KH Bisri Syansuri dari pesantren Denanyar Kabupaten Jombang.
BACA JUGA:
Kisah Kiai Bisri Sembunyikan Ayah Gus Dur ke Desa di Tepi Sungai Brantas Jombang
Sebelum mendirikan NU, KH Wahab Chasbullah merintis embrio organisasi itu. Di antaranya, Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916, Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran) pada tahun 1918.
Selanjutnya, dilakukan koordinasi dengan para kiai, akhirnya disepakati membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama). Lambang NU sendiri memiliki latar warna hijau dengan gambar bola dunia, ikatan tali, tulisan arab, dan 9 bintang. Sosok yaang membuat lambang atau logo NU yakni Kiai Ridwan Abdullah. Sedangkan pencetus nama Nahdlatul Ulama (NU) adalah Kiai Mas Alwi Abdul Aziz. [suf]






