Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, tetap bisa melaksanakan program Bunga Desaku atau Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan di tengah ancaman krisis ekonomi dan energi nasional.
Pandangan ini disampaikan Madini Farouq, Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Jember, Rabu (25/3/2026). “Acaranya bisa dikemas lebih sederhana tanpa mengurangi esensi dan substansi,” katanya.
Bunga Desaku adalah acara kunjungan langsung Bupati Muhammad Fawait secara bergiliran ke 226 desa dan 22 kelurahan untuk menyapa langsung masyarakat dan menyosialisasikan program-program pembangunan. Kegiatan itu selalu diikuti oleh para pejabat organisasi perangkat daerah.
Madini yakin Pemerintah Kabupaten Jember sudah menghitung dengan cermat soal pembiayaan Bunga Desaku, sehingga tetap efisien tanpa membebani Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. “Justru kegiatan ini akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah, karena melihat secara langsung potensi sumber daya alam di Kabupaten Jember,” katanya.
Selain itu, menurut Madini, Bupati Muhammad Fawait sudah mencontohkan cara melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah kendaraan yang dipakai dengan membawa mobil besar yang mengangkut banyak pejabat setingkat kepala organisasi perangkat daerah (OPD) dan kepala bagian ke lokasi acara.
Pria yang akrab disapa Gus Mamak ini mengingatkan tujuan Bunga Desaku yang membuka ruang bagi Bupati Fawait untuk berbaur dengan masyarakat di semua lapisan bersama pata pejabat Pemkab Jember.
“Bupati bisa mendengar langsung keluhan dan melihat langsung kondisi masyarakat di bawah dan tidak sekadar menerima laporan dari bawahan yang bisa jadi hanya Asal Bapak Senang (ABS),” kata Madini.
Menurut Madini, seorang bupati tidak boleh hanya duduk di belakang meja dan menerima laporan dari bawahan. “Namun diharapkan juga turun langsung dan bertemu dengan masyarakat di tingkat yang paling bawah, sehingga betul-betul tahu kondisi riil rakyatnya,” katanya.
Madini mencontohkan Presiden Joko Widodo saat berkuasa. “Dia juga sering turun dan blusukan bertemu langsung dengan masyarakat di lapis bawah,” katanya.
“Komunikasi langsung dengan Bupati di acara Bunga Desaku juga bisa lebih mengakrabkan dan memperkuat silaturahim. Bukan hanya menyampaikan aspirasi, namun hubungan emosional yang terjalin dan tercipta antara bupati dengan rakyat,” kata Fawait.
Sebelumnya, Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Kabupaten Jember menyarankan program ‘Bunga Desaku’ atau Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan ditiadakan untuk efisiensi anggaran pada masa krisis ekonomi.
“Mohon maaf. Saya bukan tidak sepakat dengan acaranya. Tapi acara itu bisa diganti, dan Bupati sudah melakukan sebetulnya selama ini,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Jember Widarto, Minggu (22/3/2026).
Widarto menyebut acara siaran langsung di media sosial TikTok atau melalui kanal pengaduan Wadul Guse, sebagaimana dilakukan Bupati Fawait selama ini lebih efektif dan menyentuh masyarakat. [wir]






