Kediri (beritajatim.com) – SETARA Institute menggelar event untuk menginisisasi pemajuan toleransi dan kebhinekaan di sepuluh kota di Indonesia. Salah satu yang terpilih adalah Kota Kediri, Jawa Timur.
Menggandeng komunitas lokal Baraka Syndicate, event yang menggabungkan pameran seni rupa dan dialog dengan mengundang perupa perempuan dan tokoh dari organisasi keagamaan di SK Coffee Lab, Kota Kediri.
Selain di Kota Kediri, event dengan tema serupa juga digelar di Kota Palu. Lalul Manado, Pekanbaru, Salatiga, Bogor, Surakarta, Depok, Bandung dan Sukabumi.
BACA JUGA: Kapolda Jatim Akan Tindak Tegas Gerombolan Pesilat Anarkis
Pameran yang bertajuk ‘Unity in Diversity’ ini menghadirkan 12 karya rupa tunggal dan seri yang dibuka dengan dialog dua perupa perempuan Shofia Muhtar, S. TrSn. dan Fara Suharno S. TrSn.

Event ini mengusung tema diskusi ‘Perempuan Sebagai Pengkaji dan Pegiat Seni’.
“Saya melihat banyak potensi anak muda di Kota Kediri dalam berkesenian. Ini bisa menjadi media dakwah tentang toleransi beragama dan kebhinekaan di Kota Kediri,” buka Drs H. Nur Muhyar, Ketua LPNU Kota Kediri membuka dialog dengan peserta diskusi di SK Coffee Lab.
Salim Darmnawan, salah satu pengunjung pameran mempertanyakan bagaimana mengkompromikan aspek religiusitas dengan karya seni yang mengusung ‘spirit of freedom’.
“Dalam islam kan ada batasan-batasan yang cukup rigid dalam berkesenian?”, tanya Salim Darmawan dalam dialog.
BACA JUGA: Jelang Beroperasinya Bandara, Wali Kota Kediri Harap LDII Ikut Andil dalam Perputaran Ekonomi
“Kami di Nahdlatul Ulama merasa perlu mengambil sikap yang moderat dengan tetap mengedepankan toleransi, sedangkan bagi seniman penting untuk mengerti batasan dalam berekspresi. Intinya kebebasan untuk berkreasi namun tetap bertanggung jawab,’ jawab Nur Muhyar, yang juga pensiunan PNS dan pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri.
“Peran perempuan sangat dibutuhkan dalam dunia seni, entah seni rupa, desain, musik, ataupun pertunjukan. Karena peluang untuk menciptakan rasa dan nilai dari perempuan bisa menciptakan perpektif yang berbeda, baik dari segi ekspresif atau kebutuhan komersial”, ungkap Fara Suharno, salah satu perupa perempuan yang terlibat dalam diskusi.
Dalam kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif SETARA Institute Ismail Hasani mengungkapkan kegiatan ini menjadi salah satu upaya lembaganya dalam mendukung komunitas dan jaringan masyarakat sipil untuk penguatan dan partisipasi dalam pemajuan toleransi di daerah-daerah.

“Melalui pemajuan toleransi, semua elemen-elemen di kota (pemerintah dan masyarakat) dapat menikmati kehidupan yang lebih baik, tanpa diskriminasi maupun intoleransi. Dalam rangka ini, peran masyarakat sipil menjadi penting,” jelas Ismail Hasani, Jum’at (17/3/2023).
BACA JUGA: Dewi Angelina ‘Jolie’, Dosen Cosplay Maleficent di Universitas Jember
Ismail menambahkan, melalui penguatan ini, diharapkan kegiatan-kegiatan lain juga dapat terus berkelanjutan, sehingga masyarakat sipil semakin kontributif, baik dalam pemajuan toleransi maupun pembangunan.
Masih kata Ismail, SETARA Intitute sebagai lembaga thing-thank berupaya untuk meningkatkan dan memperluas pengetahuan masyarakat tentang toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia.
Dalam menjalankan mandatnya sebagai supply knowledge sector, kerja SETARA Institute mengutamakan salah satu pendekatan yaitu public education approach di society level dan advokasi kebijakan pada pemerintah di state level.
Oleh karena itu, SETARA Institute mendorong masyarakat memunculkan inisiatif pemajuan toleransi dan kebhinekaan dalam beragam bentuk program yang dapat memicu perubahan lebih kondusif dan berkontribusi pada peningkatan toleransi serta memperluas konstituen masyarakat toleran di berbagai wilayah di Indonesia. [nm/ted]






